Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Twist Ending, bikin cerita film jadi istimewa

Twist Ending merupakan satu cara yang sering digunakan untuk mengakhiri cerita film dengan membelokkan persepsi penonton. Sesuai dengan arti kata, twist berarti membelok atau memutar.

Pembelokan persepsi dalam cerita bisa dibangun di-sequence terakhir, ditengah ataupun dimulai sejak awal, namun harus tetap menghadirkan kunci-kunci penting sehingga cerita tetap rasional. Menggunakan twist ending dalam cerita akan memunculkaan daya kejut, surprise, atau ending tak terduga sehinga film tak mudah ditebak, karena apa yang sudah diprediksi penonton menjadi salah.

Twist ending biasanya akan sangat mempengaruhi emosional penonton, sehingga sering kali mereka akan mengevaluasi kembali cerita film tersebut

8 langkah membuat twist ending :

twist-ending

  1. Kenalkan tokoh utama dengan rutinitasnya
  2. Permasalahan muncul pada tokoh utama
  3. Tokoh utama menemukan solusi I
  4. Solusi mengalami kegagalaan, permasalahan tokoh utama semakin rumit, buat dua solusi sehingga ada plot baru
  5. kembangkan plot baru tersebut agar terkesan menjadi plot utama dimata penonton. Ditengah permasalaha yang kompleks buatlah sesuatu yang indah atau berkesan, sehingga penonton bisa terlupa dengan permasalahan utama
  6. mulai di titik ini solusi yang benar menurut persepsi penonton dibangun lebih kuat,
  7. Solusi benar menurut persepsi penonton selesai
  8. Solusi sebenarnya, disinilah titik anti klimak dan closure

Inti dari twist adalah tentang cerita yang dibangun untuk mengalihkan perhatian penonton. Meski demikian cerita musti dikawal dari awal agar penonton bisa terfokus menuju satu titik, padahal cerita utama menuju arah yang berlawanan.

Sebagai contoh penggunaan twist ending yang menarik adalah alur cerita film Bermula Dari A, film fiksi pendek besutan sutradara BW Purbanegara. Film tersebut menceritakan tentang perempuan tuna netra yang menjalin kasih dengan seorang pria tuna rungu. Permasalahan muncul ketika si perempuan harus menjadi imam sholat. Padahal dalam Islam seorang lelaki-lah yang seharusnya bisa menjadi imam dalam sholat dan keluarga.

Dengan segala upaya si perempuan terus berjuang mengajarkan dan memberi contoh bagaimana melakukan gerakan sholat dan ucapan Allahu Akbar. Kegiatan belajar mengajar untuk mengucapkan lafal Akbar dilakukan hampir tiap waktu dimanapun mereka berada.

Bermula dari A - BW Purbanegara
Adegan film Bermula Dari A – sumber: mandapuspi.tumblr.com

Dalam satu waktu di sebuah ruang tamu mereka belajar berdua, tak ada orang lain. Untuk membantu si pria melafalkan Ak-bar, si perempuan menekan-nekan tenggorokan kekasihnya, secara tak sengaja tangannya menelusur kebawah hingga menyentuh ke dada. Di titik ini si perempuan membandingkan dengan dadanya yang lebih menonjol, kembali si perempuan menyentuh lagi ke dada si pria sambil menelusur ke perut, ke pusar, dan terus.. CUT..!

Adegan berlanjut ketika Ibu pulang dan masuk ruang tamu, disitu sang ibu mendengar  suara laki-laki dari kamar “Aaa..Aaa…Aaa..”. Setelah ditengok, ternyata sepasang kekasih tersebut sedang mulai melakukan sholat berjamaah. Si pria membaca “ Aaa..Aaa… Allahu Akbar “, Ia sudah berhasil mejadi imam sholat.

Selain berhasil menggunakan twist ending yang menarik, film Bermula dari A juga hadir dengan pengkayaan bahasa visual yang bagus, karena dalam film tersebut hampir setiap shot mampu berbicara banyak hal. Maka tak heran jika film tersebut mampu menjadi pemenang dalam berbagai kompetisi film nasional dan internasioanal.



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*