Saat Urat Jagat Sekarat

Perempuan berkebaya putih itu menutupi setengah wajahnya dengan topeng. Misterius. Sembari membawa obor, dia berjalan pelan mengelilingi lingkaran putih yang diameternya mencapai empat meter. Sesekali dia menunduk untuk menyalakan lilin yang ada di atas tembikar berbentuk mangkuk.
Tembikar itu jumlahnya ada 12, tapi perempuan itu hanya tinggal menyalakan empat lilin saja. Asap hasil pembakaran tali kur pada lilin-lilin itu menyeruak ke atas dan samping.
Selesai berkeliling, perempuan itu membuka topengnya. Dia lantas memetik kecapi yang sedari tadi tergeletak di pojok kiri Amphiteater Selasar Sunaryo Art Space, Minggu malam, 19 Juni lalu.
Seiring petikan kecapi yang suaranya kurang jelas itu, Godi Suwarna masuk ke tengah lingkaran. Dengan rambut putihnya yang tergerai, dia duduk membelakangi penonton di atas kotak putih yang ada di tengah lingkaran.
Sastrawan yang bergelut dengan bahasa Sunda sebagai bahasa ibunya ini membuka penampilannya dalam pagelaran puisi Urat Jagat dengan puisi ‘Jagat Alit’. Puisi yang kuat dengan pengulangan kata dan frase ini memang sering menjadi pilihan Godi di awal penampilannya, ibarat sebuah doa permohonan kepada Sang Pencipta.
Penyair kelahiran 23 Mei 1956 yang banyak menghabiskan masa kecilnya di Cirikip, Panawangan, Kabupaten Ciamis ini lantas mengajak penonton untuk melihat kondisi sosial yang terjadi di Indonesia. Untuk bagian ini, bukan Godi yang keluar tapi Wawan Sofwan, pembaca puisi merangkap sutradara pagelaran tersebut.
Kondisi sosial itu disorot dengan puisi bertajuk ‘Si Ujang Lebet Sakola’ (Si Ujang Masuk Sekolah). Puisi itu dibacakan Wawan yang mengenakan baju kampret dan sarung berwarna hitam serta kain pengikat kepala. Dia meloncat-loncat di tengah panggung, bertingkah laku layaknya Ujang seorang anak kampung yang polos dan tidak suka saat dipaksa untuk bersekolah oleh keluarganya.
…Cocooan tos robih janten aksara, sareng angka, nu karaos ngagolak dina
mastaka ngahalangan jangjang Kuda, sareng Kuya, sareng Gajah, nu haroyong
ngadarongéng dina méga, waktos bulan nuju ngempray.
Énjing sakola ! Geura bobo ! saur Tétéh nu teras ngacungkeun patlot
waktos Ujang ngobrol kénéh sareng cakcak nu keukeuh ngajak maén bal…
(…mainan sudah berubah menjadi huruf, angka yang terasa mendidih di kepala menghalangi sayap kuda, kura-kura, serta gajah yang ingin mendongen di awan saat bulan sedang bersinar dengan terang. Besok sekolah! Cepat tidur! Kata kakak yang mengacungkan pensil saat Ujang masih berbincang-bincang dengan cicak yang ngotot mengajak bermain bola…)
Masalah di Indonesia yang dikritisi oleh Godi, tidak hanya sistem sekolah yang mengedepankan pencapaian nilai akademis saja. Dia juga menyoroti penetrasi media massa yang tidak disertai dengan pemahaman yang utuh dari masyarakat penontonnya. Wina Rezky Agustina, perempuan pemetik kecapi di awal pertunjukkan, menjadi pembaca puisi ‘Saha Tea’ (Siapa Ini) denan lakon sebagai seorang anak perempuan yang menceritakan kebiasaan ayahnya menonton televisi.
Secara tidak sadar sang ayah sudah kehilangan rasa sebagai seorang manusia dengan adanya televisi. Anak perempuan itu mengatakan ayahnya sudah biasa menonton berita orang ditabrak dan perang di belahan dunia lain sembari memakan donut. Tidak adanya saringan dari media massa itu mengakibatkan sang anak bebas meniru tingkah laku tokoh yang ada di televisi. “Who are you, f*ck you, f*ck you,” katanya sembari mengacungkan kedua jari tengahnya ke arah penonton.
Ajang pemilihan umum yang menjadi indikator majunya demokrasi di sebuah negara juga tidak lepas dari kritikan Godi. Buat dia, perhelatan itu hanya menjadi ajang menghambur-hamburkan uang demi merebut kekuasaan.
Kesejahteraan masyarakat yang didengung-dengungkan para calon pemimpin itu akhirnya hanya menjadi angin lalu saja. Semuanya terangkum dalam puisi ‘Orkes Melayu’ yang dilengkapi dengan visualisasi peserta kampanye dari berbagai belahan dunia. Untuk mendukung euforia demokrasi itu, Godi membacakan puisinya diiringi lagu dangdut ‘Mabuk Lagi’.
“Di kampung-kampung itu biasanya kampanye diisi hanya oleh acara dangdut, orang-orang yang datangnya juga mabuk. Inilah potret kondisi nasional kita,” kata Godi seusai pertunjukkan.
Pagelaran puisi yang memadukan berbagai elemen dari seni teater, tari, dan multimedia ini dibangun oleh 16 puisi karya Godi Suwarna yang semuanya berbahasa Sunda.
Buat penonton yang tidak akrab dengan bahasa Sunda, Deden Bulqini,penata artistik Urat Jagat memberikan teks bahasa Inggris di layar putih yang sengaja dipasang di bagian atas panggung. Strategi ini menjadi bagian dari persiapan tim Urat Jagat sebelum tampil di Jakarta Berlin Arts Festival pada tanggal 25 Juni-3 Juli 2011 di Berlin, serta penampilan di Universitas Frankfurt dan Belanda pada tanggal 3-9 Juli 2011 mendatang.
Urat Jagat yang menjadi judul dari pertunjukkan ini juga diambil dari puisi karya Godi soal alam semesta yang sudah tidak kuat menahan beban atas perbuatan manusia. “Selain bunyinya enak, kalau urat jagat kita kendor, bisa-bisa pecah (bumi),” kata Godi sembari tersenyum.
Menurut Wawan Sofwan, sang sutradara, bukan perkara mudah memilih belasan dari puisi Godi untuk dijadikan benang merah dalam pertunjukkan ini. “Puisi Urat Jagat itu menjadi pintu masuk buat kita membicarakan berbagai masalah dunia, mulai dari sosial sampai lingkungan,” ujarnya.
Wawan berharap dengan dilibatkannya seorang penyair yang menggunakan bahasa ibunya dalam festival yang memiliki konsep budaya dua kota ini bisa memberikan sebuah perspektif berbeda. “Tim kami akan pergi bersama puluhan seniman lain yang berbeda-beda latar belakangnya. Dengan membawakan puisi dalam bahasa ibu itu diharapkan bisa memperlihatkan ke orang-orang di sana, seni tradisi juga ternyata dapat memberikan makna lain terhadap kondisi yang terjadi di dunia ini,” kata Wawan yang menyatakan undangan itu datang dari Direktur Jakarta Berlin Art Festival, Martin Jankowski sendiri.
Meski sarat dengan masalah, Godi, Wawan, dan Wina pada akhirnya mengajak seluruh penonton untuk tetap optimis. Lewat puisi ‘Surat Keur Aki Caraka’ (Surat buat Kakek), mereka bertiga hendak menyampaikan harapan seorang anak soal masa depan.
Puisi itu berlanjut ke ‘Simpening Simpe’ yang dibacakan oleh Wina dengan topeng putih, seolah kembali kepada kepolosannya sembari memeragakan gerakan shalat. Secara visual harapan itu diperkuat dengan gambar seorang anak kecil yang menanam bibit pohon.
“Harapan itu harus selalu ada,” Wawan sembari menambahkan mereka akan berangkat ke luar negeri pada tanggal 24 Juni mendatang. []
Category: performing



