Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Review Perempuan Bikin Rumah : Membaca Dunia Perempuan

perempuan bikin rumah

Sekar Dewi, sebuah komunitas manajerial seni perempuan yang baru terbentuk pada bulan Juni 2010 telah berhasil melangsungkan sebuah kegiatan dengan tajuk “Perempuan Bikin Rumah”. Gelaran karya sebagai agenda pertama Sekar Dewi ini berlangsung pada tanggal 7, 8 dan 9 Agustus 2010. Dengan komitmen mengangkat isu feminisme, Perempuan Bikin Rumah dikoordinir  oleh 11 perempuan untuk mewadahi berbagai karya kaum perempuan untuk kemanusiaan.  Dalam tiga hari kegiatan ini berhasil memuat karya-karya musik, film, tari, performance art, desain, lukis dan fotografi  hasil karya perempuan muda. Selain menggelar pameran dan pertunjukan, dalam acara tersebut juga dilangsungkan beberapa rangkaian diskusi film, sastra dan fotografi.

Acara yang dibuka pada hari Sabtu (7/8) tersebut dimulai pukul 20.00 WIB dengan dihadiri sekitar 110 penonton. Deklamasi puisi oleh ketua Sekar Dewi di yang di iringi tari dan permainan seruling dari Ki Jantit dan Kiki menjadi gong pembuka dalam acara pembukaan. Setelah penonton dibius dengan kolaborasi tersebut, penonton dihentak dengan pertunjukan musik etnik oleh Energic Girl Percussion  yang dilanjutkan performance art. 

Usai sambutan, pameran yang menampilkan sebanyak 26 karya terdiri dari 10 karya lukisan, 2 karya desain grafis dan 14 karya fotografi dibuka oleh ketua panitia.  Selama 30 menit pengunjung menikmati gelaran karya dari para perempuan tersebut. Di dalam teater, kelompok akustik perempuan siap menyambut kedatangan penonton untuk acara selanjutnya. Acara puncak pada malam itu adalah pemutaran dan diskusi film karya sutradara perempuan, Chairun Nissa. Film yang berjudul Purnama di Pesisir ini disambut meriah oleh 40 penonton yang memenuhi teater. Diskusi yang dimoderatori oleh Thessa Sila ini membahas proses pembuatan film.

Pada pukul 09.00 WIB tertanggal 8 Agustus 2010, 10 kreator perempuan hunting foto dan sketsa bersama ke Pabrik Gula Tasik Madu Karanganyar. Sekembalinya creator perempuan dari Pabrik Gula Tasik Madu Karanganyar, hasil kreatifitas peserta didiskusikan bersama Ratna Puspita Dewi, Fotografer Jurnalistik Perempuan dari SoloPos.  Diskusi ini membicarakan mengenai segala hal teknik pengambilan gambar atau objek dalam fotografi. Acara diskusi ini berakhir pada pukul 14.00 dan dilanjutkan dengan pemutaran Film Kompilasi Short and Young V-Film Festival.

Short and Young menampilkan beberapa film yang menonjol karya remaja perempuan dari Festival Film Purbalingga, Think Act Change The Body Shop Documentary Film Competition serta video diary yang difasilitasi oleh Kampung Halaman, yaitu program Dengar, Kami Bicara dan Jalan Remaja 1208. Keenam film pendek ini berhasil menyuarakan berbagai persoalan khas perempuan muda dan menyampaikannya melalui gaya khas anak muda.

Acara tersebut berakhir pada pulul 15.00 dan dilanjutkan dengan Kompilasi Film Lokal karya Putri dan Friskca dan berakhir pada pulul 17.30. dan pukul 19.00 dilanjutkan dengan Pemutaran Video Eksperimental Bu(d)aya Virtual. Setelah itu pada pukul 20.00-22.00 ada sebuah diskusi yang membicarakan tentang film, mulai dari jenis film, teknik-teknik film, macam-macam film dan lain sebgainya mengenai film. Acara ini dihadiri sekitar 10 orang diskusi yang semuanya itu didominasi oleh perempuan. Bukan hanya orang film saja, tetapi acara diskusi tersebut dihadiri oleh 2 orang pelukis dan 3 orang fotografer.

Senin 9 Agustus 2010 pukul 13.00 dilanjutkan dengan acara pemutaran film “Jangan Bilang Aku Gila” Dokumenter/Kiki Febriyanti/ dan dilanjutkan dengan diskusi pengenai (Pen)tubuh(an) bersama Pita Amurwa Bumi. Isi diskusi membiacarakan mengenai bagaimana tubuh perempuan dibaca dalam media. Acara diskusi ini dihadiri sekitar 15 orang terdiri dari 13 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. 

Setelah acara diskusi film. Sekitar pukul 15.30 dilanjutkan acara pesta puisi. Semua peserta pesta puisi berjumlah 20 orang, terdiri dari beberapa latar belakang. Jadi bukan hanya sastrawan saja atau mahasiswa saja. Terdapat 5 orang siswa SMA yang tergabung dalam komunitas Tikung (GKS), 1 orang film,1 orang aktivis, dan sisanya gabungan dari berbagai komunitas sastra di Solo. Puisi yang mereka bacakan beragam dengan tema yang berbeda-beda. Sebagian besar dari mereka membaca puisi kaya kirana kejora. Dan lainnya membacakan puisi dengan karyanya sendiri. 

Setelah itu, pada pukul 19.00 WIB dilanjutkan dengan diskusi Sastra dengan Narasumber Kirana Kejora, Indah Darmastuti dan Sanie B. Kuncoro. Dalam diskusi tersebut, Kirana Kejora membicarakan masalah mengenai novel yang baru ia terbitkan yaitu Elang. Selain, disiskusikan pula mengenai permasalahan perempuan; Perempuan Sebagai Daun, Embun dan Eidlweis. Disini sekitar 25 orang hadir yang terdiri dari berbagai komunitas sastra di Solo.

Desti H.P

Penggiat Seni di GKS



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*