Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Pemutaran Film Tari, Saling Menginspirasi

film-tari-mugiyono-kasido

Sesuatu yang sudah biasa terjadi, mungkin tidaklah menarik atau dapat memicu inspirasi. Namun ketika kita mencoba untuk melakukan hal yang dinilai sebagian kalangan agak nyleneh, ada sesuatu yang baru disana.

Itulah yang terjadi dalam acara pemutaran film tari “Surat Shinta” dan tari “Lingkar”, Jumat (9/7) pukul 7 malam di Gedung Kesenian Solo. Meskipun gedung berkapasitas sekitar 100 orang itu tidak dipenuhi penonton, namun masing-masing penonton merasakan sebuah diskusi yang hangat, bermanfaat dan saling menginspirasi.

Misalnya Deny yang sedang mengerjakan disertasi tentang film tari langsung mengkritisi bentuk video yang disajikan dalam babarasa#3 di GKS. “Menurut saya itu kurang pas kalau disebut film tari,” ungkapnya blak-blakan membuka diskusi. Menurutnya sebuah film tari itu mampu membangkitakn emosi penonton, sehingga seolah penonton adalah pelakunya sendiri. Namun dirinya kemudian faham bahwa yang diputar memang dokumentasi tari, yang sebenarnya sewajarnya jika cukup berbeda dengan film tari. Sebagai seorang yang sedang melakukan penelitian tentang film tari, dia sangat tertarik untuk dapat membuat film tari dari karya-karya Mugiyono Kasido. “Demikian juga foto yang dipamerkan, sangat kuat, satu gambar bisa mewakili seluruh sajian tari, sampai sekarang saya belum menemukan gambar sekuat foto-foto mbah Mugi, ” paparnya mengomentari sejumlah foto yang dipamerkan di loby gedung.

Berbeda lagi dengan yang diungkapkan Chrisnyar, pengajar di Jurusan Media Rekam ISI Solo. Menurut Chrisnyar, pameran poster-poster ini seolah membangkitkan kenangan lama. Chrisnyar, sendiri cukup sering terlibat dalam sejumlah produksi Mugidance pada bagian dokumentasi. Penonton yang lain lagi merasa bingung karena synopsis dalam video hanya singkat. Staf pengajar di jurusan desain grafis UNS ini mengungkapkan keinginannya agar penyajian selalu disertai dengan informasi yang cukup sehingga yang awam tentang tari lebih mudah memahaminya. Malah, kalau ada bentuk buku, akan lebih bagus, jadi penonton benar-benar sudah paham. Adapula yang menanyakan tentang bagaimana proses membuat karya, apakah konsep terlebih dulu atau bagaimana. Dan siapakah yang menjadi target penontonnya.

Sedangkan Pedhet Wijaya, yang pernah menjabat sebagai Direktur Solo Radio mengungkapkan apresiasinya atas seluruh acara, mulai pameran poster, foto hingga pemutaran video dokumentasi.”Saya kira ini sangat bagus, satu event bisa mengapresiasi beberapa hal sekaligus, dan ini jarang dilakukan orang,” ungkapnya disela mengamat poster di loby gedung.

Penuh symbol

“Kalau saya, justru lebih suka karya “lingkar” karena penuh dengan symbol,” ujar penonton yang lain lagi. Karya tari “Surat Shinta” memang cenderung bercerita, sedangkan “Lingkar” layaknya sebuah puisi, penuh perlambang. Dan dua karya yang berbeda ini sengaja disandingkan untuk memberi wawasan yang lebih luas. Dikatakannya, kalau melihat “Lingkar” kemudian akan bertanya-tanya, kok beras disawurkan, kok tiba-tiba ada keris yang akhirnya dihujamkan ke tubuh, kok penarinya empat orang.

Mugi kemudian menjelaskan bahwa “Lingkar” adalah karya tentang perjuangan perempuan mempertahankan eksistensinya, tentang sebuah regenerasi, dari generasi tua ke generasi berikutnya, tentang impian akan masa kejayaan perempuan. Dan tentang beras, adalah symbol-simbol , seperti halnya dalam upacara tradisi Jawa yang selalu menggunakan beras, mulai dari kelahiran, perkawinan maupun kematian.

Sementara dalam “Surat Shinta”, Mugi melakukan pengkajian ulang atas teks Ramayana karya Walmiki. Tokoh Shinta yang dalam cerita aslinya, bersedia dibakar untuk membuktikan kesuciannya, dikontekskan dengan jaman sekarang oleh Mugi. Dalam karyanya ini, Shinta memilih pergi daripada menjalani pati obong. “Jadi Surat Shinta ini karangan mbah Mugi sendiri ya,” tanya seorang penonton menandaskan.

Diskusi yang terbuka dan saling menginspirasi berlangsung selama sekitar satu setengah jam, segenggam inspirasi dibawa oleh para penonton, syukurlah. (nuri)



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*