Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Ngobrol Distribusi Film di Festival

Ada banyak cara distribusi film dokumenter, diantaranya dengan mengikuti festival. Matakaca Solo bekerjasama dengan Lestude (Lembaga Studi Desain) Solo dan Komunitas Dokumenter Jogjakarta menggelar Pemutaran dan Diskusi film dokumenrter di acara HotDoc#4, Kamis (10/09) di Kedai Ide, Jl Melati no.7, Purwosari Solo.

Dalam pemutaran dan diskusi saat itu mengambil tema Jalur Festival, Acara dimulai dengan memutar Film PLUR, dokumenter yang mengisahkan Slankers, Fans Slank yang tergabung dalam SCS (Slankers Club Solo). film selanjutnya Gubuk Reot Diatas Minyak Internasional dan Homo Homini Lupus, Kedua film pendek yang terakhir merupakan pemenang  salah satu kategori di ajang Festival Film Dokumenter.

Diskusi dibuka Ricas yang langsung memanggil 3 narasumber dari Komunitas Dokumenter (FFD) Jogjakarta : Suryo, Galih dan Iwan. Menurut Suryo film dokumenter kurang diminati dan kalah populer dibanding film fiksi yang komersial. pangsa dan pendistribusian dokumenter masih menjadi masalah. Iwan menerangkan kalau Komunitas Dokumenter mengadakan Festival Film Dokumenter (FFD) setiap tahunnya, yang merupakan festival film dokumenter pertama di Indonesia. Untuk tahun ini FFD 2009 mengambil tema Politik untuk kategori film panjang, film pendek dan film pelajar. Komunitas Dokumneter  juga mengadakan workshop film di beberapa SMA di Jogja. Mereka mengajak remaja untuk lebih mengenal film dokumenter dan cara membuat film.

Pemaparan dari narasumber memantik diskusi. Pita yang mempunyai pengalaman mengikuti festival di Jerman bilang pemerintah Jerman memberi ruang dan mensupport bagi mereka yang menggeluti dunia ini. Berbeda dengan di Indonesia. Masalah dana dan riset masih menjadi kendala. Riri memberi wacana salah satu cara mendapatkan dana adalah dengan menggandeng iklan atau sponsor, yang mana hal itu belum sepenuhnya digarap oleh komunitas. Diharapkan dengan menggandeng sponsor pengapresiasi film dokumenter juga banyak.  “Sebenarnya juga sudah ada upaya menggandeng sponsor. Tapi kalau kita mencari sponsor tentu kita harus membuat proposal dengan tema yang sekiranya menjual. Atau membuat film “pesenan”. Dan sponsor tentu nggak mau rugi sedang kita tahu film dokumenter kurang mendapat ruang di masyarakat” ujar Iwan.

Dalam acara pemutaran dan diskusi film dokumenter di Solo banyak yang menyesalkan karena selalu sepi penonton apalagi yang mengapresiasi karya tersebut,  namun menurut Joko Narimo yang saat itu menjabat sebagai Programer Matakaca mengatakan bahwa target kuantitatif audience bukan prioritas utama. Karena biasanya kalau banyak orang diskusi kurang efektif. Walaupun sedikit yang mengapresiasi film dokumenter dia berharap orang yang menonton nantinya bisa membuatnya. Pita juga menyayangkan adanya perasaan filmmaker yang terlalu mendewakan diri. Membuat film masih dianggap sesuatu yang hebat.
“Seorang pembuat film jangan hanya puas filmnya bisa diapresiasi. ditonton banyak orang. Juga kita jangan terlalu mendewakan diri karena bisa buat film. Kita tak lebih hebat dari tukang kebun”. Katanya.



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*