Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Negeri di Bawah Kabut (The Land Beneath the Fog)

Sinopsis Negeri di Bawah Kabut (The Land Beneath the Fog) :
Di sebuah desa di lereng gunung, sebuah komunitas diam-diam sedang menghadapi perubahan tanpa mengerti alasannya. Sebagai komunitas petani yang mengandalkan sistem kalender tradisional Jawa dalam membaca musim, mereka dibuat bingung oleh musim yang sedang berubah.

Muryati (30 th) dan Sudardi (32 th), berusaha memahami kenapa hujan turun lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Gagal panen dan harga jual yang terlalu murah menjadi ancaman. Sementara itu Arifin (12 th) dihadapkan pada pertanyaan; masa depan seperti apa yang ditawarkan kepadanya? Pada usia yang masih sangat muda, dia harus berhadapan dengan sistem sekolah negeri yang kompleks.

Melalui kehidupan sehari-hari dua keluarga petani, Negeri di Bawah Kabut membawa kita melihat lebih dekat bagaimana perubahan musim, pendidikan dan kemiskinan saling berkaitan satu sama lain.

Catatan Sutradara Negeri Di Bawah Kabut :

Saya mengenal desa Genikan pada tahun 1997 ketika mendaki gunung Merbabu. Sejak itu, secara rutin saya datang ke desa itu bersama kelompok penjelajah alam yang saya ikuti di kampus. Tetapi baru tahun 2006 saya tertarik untuk mengenal penduduk desa itu lebih dekat, tidak lagi sebagai pendaki yang datang sebentar. Di desa itu, saya tinggal di rumah keluarga Sudardi dan Muryati, pasangan muda yang pada waktu itu baru memiliki satu anak. Pasangan ini kelak menjadi protagonis di film ini.

Pada suatu sore yang hangat, saya mengikuti gerombolan penduduk mencari ranting kayu di hutan. Perjalanan menuju hutan melewati jalan setapak di tepi ladang kubis yang luas. Kubis sudah tampak tua berjejer rapi. Salah seorang penduduk dengan tenang menebas kubis yang berjejer di tepi jalan setapak dengan parang yang dipegangnya. Saya terkejut dan bertanya kenapa. Ternyata pada saat itu harga kubis hanya 150 rupiah per kilo. Harga yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya sebab harga di supermarket bisa dua puluh kali lebih tinggi. Cerita kecil ini menjadi pemicu saya membuat film ‘Negeri di Bawah Kabut’.

Untuk membantu mengembangkan skrip dan mendapatkan dana produksi, saya mengirim proposal untuk mengikuti Jiffest Script Development, sayangnya proposal saya ditolak. Dengantreatment yang berbeda, saya mengirim lagi pada tahun 2008, masih ditolak. Akhirnya proposal yang sama diterima oleh Doc Station Berlinale Talent Campus 2009, sebuah workshop film dalam rangkaian festival film Berlinale yang diadakan di Jerman.

Pada akhir tahun 2008 film ini dikembangkan lebih lanjut dalam workshop ‘Indonesia – Ten Years after Reformasi’ yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta, Goethe Institut dan Ford Foundation. Melalui workshop itu juga film ini diproduksi sampai akhirnya selesai pada akhir tahun 2011. Seluruh proses pembuatan film ini memakan waktu lebih dari lima tahun: dua tahun riset, dua tahun syuting dilanjutkan dengan 18 bulan editing. Film berdurasi 105 menit ini disunting dari 118 jam footages.

Kru Negeri di Bawah Kabut :
Produser, Sutradara, Penata Kamera: Shalahuddin Siregar
Penyunting: Fajar Kurniawan, Shalahuddin Siregar
Perekam Suara: Tommy Fahrizal
Supervisi Produksi: Sebastian Winkels
Pengembangan Cerita: Sebastian Winkels (Germany), Ulla Simonen (Findland), Dick Fontaine (England)
Asisten Produksi: Agus Santoso, Erwin Sasono, Ngatimin

Diproduksi atas dukungan
Goethe Institut Indonesia, Ford Foundation, Jakarta Art Council, Blu Post Asia



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*