Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Menulis Skenario Film, Jangan Pernah Takut

Menulis skenario film bagi sebagian orang merupakan kegiatan yang menyenangkan, meski demikian tak sedikit pula yang memandang kalau menulis skenario adalah sesuatu yang sulit dan rumit untuk dilakukan.

Siapapun sebenarnya bisa menjadi penulis skenario, peluang masih terbuka lebar karena industri perfilman di Indonesia saat ini juga masih membutuhkan banyak penulis-penulis handal. 

Jalan untuk sukses selalu dimulai dari langkah pertama, begitu pula untuk menjadi penulis.  Semua harus berproses hingga apa yang diinginkan dapat dicapai. Untuk menjadi penulis skenario sukses, berkut beberapa tips untuk mengawalinya.

  1. Banyak menonton Film dan pelajari skenarionya

Sama halnya jika ingin menjadi sutradara film, untuk menjadi penulis skenario yang berhasil langkah awal yang dibutuhkan adalah menjadi maniak film. Artinya, banyak-banyaklah menonton film, baik untuk film lama, film baru, dan kalau bisa semua genre. Semakin banyak film yang dilihat, semakin mudah untuk belajar membaca, menganalisa dan mengidentifikasi berbagi hal yang diperlukan sebagai referensi saat menulis.

Selain menonton banyak film, membaca dan mempelajari naskah skenario yang sudah jadi juga tidak kalah penting. Banyak sumber untuk mendapatkan naskah skenario film yang sudah diproduksi. Masuklah ke grup-grup jejaring sosial, milis atau download di beberapa situs seperti SimplyScripts atau DailyScript. Dengan menonton film sekaligus membaca skenarionya maka akan mendapatkan banyak gambaran bagaimana teks pada tiap halaman naskah skenario mewujud dalam media audio visual.

  1. Temukan “Api” dari dalam diri

Boleh percaya boleh tidak, dengan kekuatan cinta banyak orang mampu mengubah dunia. Motivasi dan visi adalah kunci, dapat menemukan dan mengembangkannya dari dalam diri sendiri akan menjadi kekuatan yang sulit untuk dilawan.

Kekuatan cerita seringkali juga bersumber dari dalam, ia berupa spirit, ia lahir dari gairah dan cinta sehingga sebuah karya bisa menyihir dan mempengaruhi banyak orang. Tulisan yang kuat biasanya akan memiliki “suara” penulisnya, ada aroma penulisnya, jiwanya masuk dalam tulisan sehingga ada kehidupan dalam lembaran-lembaran kertas yang ditulis. Temukan api itu, biarkan ia ikut mewujud dalam naskah skenario.

  1. Tentukan Ide pokok dan mulailah menulis

Setelah banyak menonton film, membaca naskah, dan merefleksi diri menemukan “api”, sedikit banyak ide untuk menulis skenario film biasanya akan bermunculan, karena pada dasarnya setiap orang sudah punya ide cerita dalam diri masing-masing.

Hal-hal sederhana disekitar seringkali bisa lebih unik dan dapat menjadi tempat terbaik untuk memulai berkarya. Cerita bisa datang dari kisah nyata, legenda, mitologi, atau apapun yang yang bisa diangkat dalam cerita film, ada banyak ide maka akan semakin banyak pilihan.

Tentukan ide dan tema yang paling menarik, setelah itu buatlah basic story-nya dengan menulis kerangka cerita secara singkat, padat dan jelas, maksimal satu halaman. Beberapa hal yang harus ada dalam basic story diantaranya; waktu dan tempat terjadinya cerita, para tokoh dalam cerita, konflik, plot cerita, klimak serta anti klimak.

Secara umum sebuah cerita yang menarik adalah tentang karakter yang menarik, ia menginginkan sesuatu dan mengalami kesulitan dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Rumus yang sering digunakan dalam membuat basic story adalah (Karakter + Keinginan) x Hambatan = Cerita.

  1. Lakukan riset

Naskah skenario merupakan embrio dari sebuah film, hampir semua karakter tokoh, set, action, dialog, dan sebagainya dirancang dalam naskah tersebut. Memperkuat setiap elemen melalui riset akan menjadi nilai lebih bagi penulis dalam membuat karyanya.

Banyak karya yang lahir dari kisah kejadian nyata. Dengan melakukan riset, seorang penulis akan lebih mudah membuat karakter yang kuat dan tak terlupakan dalam sebuah cerita. Hal-hal kecil yang biasanya tersembunyi bisa menjadi kekuatan besar untuk membangun karakter, hubungan antar karakter dan lain sebagainya. Basic story yang sudah dibuat bisa dijadikan sebagai pegangan dalam melakukan riset.

Selain melakukan riset tentang berbagai elemen cerita, riset penonton juga dapat dilakukan. Hal ini untuk investasi jangka panjang saat naskah skenario diproduksi menjadi film. Penonton adalah target utama dari naskah yang dibuat, merekalah yang akan tertawa, menangis, ketakutan atau terharu dengan hasil naskah yang ditulis.

  1. Mengembangkan Cerita

Mengembangkan basic story berdasarkan data-data hasil riset bisa dilakukan untuk membuat sinopsis film. Dalam sinopsis isi cerita sudah bisa digambarkan lebih jelas, dan biasanya durasi film yang akan dibuat sudah bisa diperkirakan.

Menulis sinopsis film bisa lebih dari satu halaman karena sinopsis lebih lengkap dari basic story. Plot dan sub plot sudah ada, karakteristik waktu dan tempat terjadinya cerita sudah lebih detil, karakter para tokoh dalam cerita lebih kuat, ketegangan konflik bisa dirasakan, pokok pembicaraan sudah ada, klimak serta anti klimak dalam cerita lebih lengkap.

Untuk mempermudah menulis naskah skenario, ada baiknya sinopsis yang sudah ada dikembangkan menjadi sebuah treatment, yakni kerangka skenario yang terdiri dari susunan-susunan peristiwa yang dijadikan acuan dalam penulisan naskah skenario.

Struktur dramatik sebuah cerita film dapat dibangun secara maksimal saat membuat treatment. Dengan adanya struktur dramatik yang kuat akan melahirkan cerita yang kuat juga. Perubahan urutan kejadian/plot cerita dapat dilakukan dalam proses ini. Jeli dan teliti adalah resep utama saat membuat treatment, hal ini untuk menghindari berbagai perubahan saat skenario sudah jadi.

  1. Mulai menulis skenario

Apapun hasilnya, memulai menulis skenario adalah langkah terbaik yang bisa dilakukan. Kuasai format standar penulisan naskah skenario dan berbagai istilah teknis dalam penulisan skenario. Ada beberapa istilah khusus yang berlaku secara universal dalam penulisan, istilah-istilah tersebut mempunyai arti yang sama sehingga akan mudah dipahami oleh filmmaker di berbagai negara.

Menulis skenario (Screenwriting) pada dasarnya adalah membuat film di atas kertas, di dalamnya terdapat proses bercerita dengan bahasa audio-visual dalam bentuk teks yang sangat spesifik.

Saat membuat skenario usahakan bisa memberi gambaran secara jelas apa yang akan dilihat dan didengar oleh penonton, untuk itu gunakan kreativitas dan imajinasi secara optimal dalam menulis skenario.

  1. Siap dikritik

Setelah selesai menulis naskah, cari tanggapan dari orang lain. Kritik sangat diperlukan untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, hal ini bisa dilakukan dari penulis lain, filmmaker, ataupun para penonton film.

  1. Kuasai Jaringan

Membuat ataupun mengikuti grup penulis skenario bisa dilakukan untuk memperkuat motivasi dan media bertukar pikiran. Pertemuan yang dilakukan secara rutin, perlahan tapi pasti akan mampu mengasah kemampuan masing-masing anggota dalam hal penulisan.

Jaringan antar penulis maupun dalam industri film sangat diperlukan, hal ini untuk membangun kepercayaan terhadap pribadi maupun karya yang dibuat.

Jejaring sosial bisa menjadi media ampuh untuk memperluas jaringan. Melalui media ini siapapun dapat berkenalan dengan para penulis senior, produser, sutradara, maupun para komunitas penulis. Ikut aktif dalam berinteraksi di forum penulisan akan membuka peluang lebar untuk melakukan kerjasama. Selamat berjuang….

Bahan bacaan : thescriptlab.com



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*