Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

KUDA LAUT, cinta dan konstruksi sosial

film kuda laut

Kuda Laut merupakan film yang mengajak penonton  pada pengembaraan hati  sepasang homoseksual. Selama 25 menit, Solahudin Siregar menyajikan sentimenlisme perpisahan Aji dan Bayu, setelah 4 tahun berpacaran Bayu harus mengikuti kontruksi masyakarat untuk menikah, dengan perempuan tentunya. Film yang diproduksi tahun 2008 ini diputar di Gedung Kesenian Solo pada 12 November 2010 dengan tajuk acara “gagaSinema #4 : Pemutaran dan Diskusi Film Kuda Laut”. Acara yang dimulai pada pukul 20.00 ini dihadiri sekitar 45 orang.

Dalam kesempatan tersebut, Sholahudin Siregar sebagai sutradara memberi sedikit pengantar tentang film garapannya. Faktor utama penggarapan film tersebut tidak terlepas dari pengalaman pribadi sutradara. Film tersebut di produksi ketika sutradara menginjak usia 29 tahun dimana usia tersebut merupakan usia yang penuh dengan pertanyaan tentang pernikahan.  Bisa disimpulkan bahwa Kuda Laut merupakan bentuk sinisme sutradara kepada sebuah konstruksi pernikahan. 

Seorang penonton mempertanyakan penampilan adegan potong kuku yang  berulang-ulang. Hal ini karena sang kreator sangat tertarik dengan bahasa tubuh dan bahasa vusial. Semua benda yang ada dalam film ini menjelaskan banyak hal untuk menonjolkan keintiman hubungan melalui simbol-simbol. Seperti pada adegan potong kuku yang merupakan simbol keintiman yang hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang yang dianggap sangat dekat,  tidak semua orang bisa melakukan itu. Sedangkan adegan tepukan, memiliki symbol bahwa tindakan memberi dapat mengubah seseorang yang awalnya penerima menjadi seorang pemberi dikemudian hari.

Penonton lain mencoba menelisik dan menelaah Kuda Laut jauh lebih dalam. Kiranya penonton berprasangka bahwa homo dalam film tersebut hanyalah sebuah kepuasan seksual semata, tidak ada unsur penyerangan terhadap sebuah konstruksi pernikahan dalam agama dan masyarakat. Namun sang sutradara memberikan penonton kebebasan apakah mau menyerah atau tidak, karena akhir cerita ini mengisahkan salah satu pasangan ada yang menikah dengan seorang perempuan dan yang satunya lagi tetap dan berharap menjadi seperti kuda laut.

Desti H.P.  
Penggiat Seni di GKS



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*