Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Kine Klub, Kiprahnya untuk Film Indonesia

komunitas film matakaca - pemutaran film di Kedai Ide
dok komunitas film matakaca - pemutaran film di Kedai Ide

Kine Klub merupakan salah satu organisasi perfilman di Indonesia yang keberadaannya dimulai sejak berdiri Liga Film Mahasiswa – Universitas Indonesia (LFM-UI) pada tahun 1950 di Jakarta. Pada tahun 1960 disusul Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (LFM-ITB) dan selanjutnya tahun 1969 Kine Klub Dewan Kesenian Jakarta (kemudian dikenal sebagai Kine Klub Jakarta/KKJ) juga berdiri.

Hingga saat ini organisasi film dengan nama Kine Klub banyak tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus dalam bentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Beragam kegiatan perfilman dilakukan oleh mereka, mulai dari produksi film, pemutaran & diskusi fim, workshop film, pusat data film, distribusi film, bahkan festival film yang diselenggarakan rutin tiap tahun.

Kine Klub, Kiprahnya untuk Film Indonesia
workshop festival film 11 juni 2013 | foto : doc. SENAKKI

Musyawarah Besar Kine Klub Indonesia pertama kali diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 19-22 September 1990. Acara ini difasilitasi oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dihadiri oleh para aktivis perfilman dan perwakilan komunitas film di Indonesia. Sebanyak 42 Kine Klub di Seluruh Indonesia saat itu menyataan sepakat untuk tergabung dalam induk organisasi Kine Klub yang diberi nama SENAKKI (Sekretariat Nasional Kine Klub Indonesia).

Tahun 1998 Munas ke III SENAKKI diselenggarakan, diperiode ini bersamaan dengan tumbangnya pemerintahan orde baru. Departemen Penerangan sebagai induk organisasi-organisasi perfilman dibubarkan, SENAKKI dan beberapa organisasi perfilman mengalami banyak sekali hambatan dalam melakukan kegiatannya, meski demikian, pada periode ini masih terdapat 33 Kine Klub yang tergabung dalam SENAKKI.

Reformasi 1998 memang menjadi masa kelam bagi sebagian organisasi perfilman yang memiliki ketertergantungan fasilitas dari pemerintah. Hal ini sangat berbeda dengan organisasi/komunitas film yang dari awal berdiri sudah berjalan secara gerilya. Pasca reformasi 1998 justru menjadi era dimana para pegiat film “indie” atau yang sering disebut sebagai pegiat film alternatif mengalami booming, komunitas film menjamur di berbagai kota selama periode 1999-2004, Festival Film-Video Independen Indonesia juga berhasil diselenggarakan pertama kali oleh konfiden pada tahun 1999.

“Klub Film memang tidak hanya ada di lingkungan kampus, namun Brand image Kine Klub memang telah identik dengan kegiatan perfilman di kampus”

Klub Film memang tidak hanya ada di lingkungan kampus, namun Brand image Kine Klub memang telah identik dengan kegiatan perfilman di kampus, dimana sistem re-organisasi berjalan cukup cepat. Pergantian kepemimpinan yang sangat cepat inilah justru terkadang bisa memperlambat perkembangan kegiatan perfilman dalam organisasi, karena selalu hadir orang-orang baru yang harus memulai belajar tentang film dari awal. Seperti halnya dalam pemerintahan, setiap periode yang berbeda bisa saja memiliki kebijakan yang berbeda dalam menjalankan roda organisasi. Meski dalam AD/ART sudah tersusun jelas kemana arah organisasi tersebut harus digerakkan, namun menjalankan program yang berkesinambungan dari pengelola sebelumnya seringkali menjadi beban tersendiri bagi pemimpin baru yang memiliki visi berbeda dari pemimpin lama.

Sebagai UKM yang hidup dilingkungan kampus, sebagian Kine Klub sedikit banyak bisa mendapatkan support dana operasional kegiatan maupun fasilitas dari lembaga/kampus yang dinaungi. Meski demikian, ada juga beberapa Kine Klub yang berkembang secara mandiri tanpa ketergantungan pada kampus, untuk pembiayaan kegiatan, biasanya mereka akan melibatkan sponsorship, donatur maupun iuran dari anggota.

Terlepas dari kekurangan dan kelebihan Kine Klub, organisasi ini cukup penting keberadaanya dalam kancah perfilman Indonesia. Didalamnya ada sekian banyak proses pemberdayaan, peningkatan kapasitas dibidang film, menciptakan masyarakat penonton film, juga dari perjalanannya telah melahirkan banyak apresiator film yang giat menanamkan kecintaan terhadap film, khususnya film Indonesia.



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*