Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Sinema Mandiri, Pengembangan Sinema Berbasis Koperasi

Gerakan Sinema Mandiri merupakan sebuah usaha bersama untuk memecahkan berbagai permasalah yang sering kali muncul pada perfilman di negeri ini, tak terkecuali terhadap ragamnya kendala yang dihadapi oleh kelompok/organisasi/komunitas film. Salah satunya ialah masalah klasik pembiayaan yang sering kali dikeluhkan, mulai dari biaya riset untuk film, produksi film, eksibisi film, distribusi film, promosi film, kajian film, database film dan biaya lainnya.

Ada banyak kekuatan-kekuatan yang sebenarnya akan cukup mampu melahirkan peluang-peluang baru, meski berbagai tantangan dan ancaman akan selalu mengiringi untuk tumbuh-kembangnya perfilman Indonesia. Satu contoh kekuatan kita saat ini adalah dengan adanya perkembangan teknologi sinema digital yang cukup pesat, hal tersebut memberikan angin segar pada pertumbuhan perfilman indonesia. Dampak nyata yang bisa dirasakan adalah kegilaan membuat film yang dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari kalangan pelajar, mahasiswa dan umum. Selain itu, bermunculan pula pegiat film, komunitas film, dan festival film yang berkembang di berbagai daerah sehingga banyak terlahir karya-karya film yang secara tematis dan gaya bertutur cukup mengejutkan.

Komunitas film tumbuh sejak tahun 1998, mulai berkembang secara masif pada periode tahun 2000-an. Dalam kurun waktu 16 tahun banyak komunitas yang lahir namun juga banyak yang mati, (mungkin) karena seleksi alam, akhirnya hanya bisa menyisakan beberapa komunitas film yang mampu bertahan hidup dan berkembang cukup baik.

Tak banyak keleompok/komunitas film yang cukup bankable ataupun mempunyai pendonor dana yang kuat untuk membiayai semua proses kegiatan filmnya. Apalagi untuk sekian banyak komunitas film dengan latar belakang dan kendala yang beragam. Untuk itulah melalui koperasi, Gerakan Sinema Mandiri ingin mendorong sebuah panggung baru yang rendah tetapi luas sehingga bisa menjadi ajang penguatan kelompok/komunitas film serta menciptakan ruang untuk penampilan kreasi-kreasi anak bangsa.

Hal ini juga sebagai satu bentuk keprihatinan atas film-film produk anak negeri yang sering kali hanya menjadi “pengisi waktu luang” di jaringan bioskop yang tersebar di Indonesia.

“Sinema Mandiri, Pengembangan Sinema Berbasis Koperasi”

Koperasi Sinema Mandiri (KSM) digagas pertama kali oleh Hartanto dan kawan-kawan. Pada tanggal 11 Pebruari 2012, telah didirikan Koperasi Sinema Mandiri di Jakarta (KSM Jakarta). Sudah mendapatkan status badan hukum dari Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Perdagangan Provinsi DKI Jakarta tertanggal 21 Mei 2012. Koperasi ini digolongkan kedalam koperasi Primer.  Selanjuatnya pada Tanggal 3 Juni 2012 para pegiat film Magelang juga mendirikan koperasi dengan nama KSM Magelang. Pada tanggal 15 Oktober 2012 “Koperasi Usaha Bersama Sinema Mandiri Jogja” juga sudah didirikan.

koperasi sinema mandiri magelang - doc. Begawan Prabu
kegiatan workshop film diselenggarakan oleh Koperasi Sinema Mandiri Magelang. | foto by: Begawan Prabu

Dengan koperasi keuntungan atau kesejahteran tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang, tetapi bisa dirasakan banyak orang, yaitu para anggota koperasi. Koperasi adalah sebuah badan hukum yang bersifat sosial tetapi sekaligus juga bersifat profitable. Koperasi memiliki peluang untuk berkembang karena saat ini pemerintah sedang menggalakkan gerakan koperasi.

Anggota koperasi adalah mereka yang memiliki kesamaan kegiatan di bidang film (atau yang berkaitan) :

–          Para kreator dan pemeran film profesional

–          Guru-guru dan siswa-siswa SMK/SMA

–          Dosen dan mahasiswa

–          Para pelaku video komunitas

–          Para pelaku video dokumentasi.

–          Para penggemar film

–          Para wirausahawan

Pada dasarnya setiap anggota Koperasi yang memberikan kontribusi bagi keuntungan Koperasi akan mendapatkan hasil pada saat pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU). Berarti semua anggota Koperasi yang aktif terlibat dalam produksi film, aktif mempromosikan dan ikut menjualkan tiket bioskop akan mendapatkan pembagian keuntungan. Bahkan anggota Koperasi yang hanya menonton film di bioskop Sinema Mandiri (dengan membayar), pada saat pembagian SHU juga akan mendapatkan bagian.

Setiap koperasi yang didirikan dapat memiliki setidaknya tiga kegiatan yakni eksibisi (bioskop), produksi dan pelatihan. Film-film hasil produksi KSM-KSM tidak hanya di putar di bioskop masing-masing, tetapi akan di edarkan dan diputar di daerah-daerah yang ada bioskop KSM nya.Dengan demikian film yang diproduksi oleh sebuah KSM, akan diputar diberbagai daerah sehingga akan memberikan pendapatan yang layak bagi KSM masing-masing. Besar kecilnya pendapatan sangat tergantung dari tingkat aktifitas anggota KSM. KSM-KSM yang didirikan tergolong ke dalam koperasi primer. Semua koperasi primer KSM nantinya akan bergabung ke dalam koperasi sekunder dalam bentuk Pusat Koperasi Sinema Mandiri (Pusat KSM).

Proses pendirian Koperasi Sinema Mandiri tidak terlalu sulit, dengan minimal 20 orang yang satu visi, kita sudah bisa mendirikan koperasi. Untuk itu perlu pendekatan terhadap Dinas Koperasi setempat. Langkah selanjutnya adalah melaksanakan kegiatan pelatihan SDM dan mulai melakukan produksi sebagai latihan. Barulah setelah itu melakukan pendekatan ke berbagai pihak di daerah masing-masing dan pendekatan ke pemerintah daerah untuk proses pendirian bioskop. Kalau Koperasi disuatu daerah belum mampu mepersiapkan pendirian bioskop, untuk sementara kegiatannya hanya pelatihan dan produksi. Dan bagi daerah yang penggiat filmnya masih minim, bisa menjadi cabang dari KSM daerah lain.

Selamat mencoba..



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*