Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Diskusi Komunitas Bahas Penonton Film Indonesia

Diskusi komunitas film Solo telah terselenggara dengan lancar di bioskop mini Bale Subawiyata Omah Sinten pada hari rabu (20/8) yang lalu. Acara yang digagas oleh Koperasi Sinema Mandiri (KSM) dan Kinekita tersebut dihadiri oleh perwakilan komuitas, kelompok kerja film, dunia usaha film dan aktifis media online di Solo. Adapun perwakilan yang datang di diskusi komunitas diantaranya Kine Klub FISIP UNS, Komunitas Film Sinemain, Mahasiswa Film dan TV ISI Surakarta, Kine Klub FISIP UMS, Liar-Liar Films, Kinekita, Palasiya, Platinum Cineplex, SoloThok dan KSM Magelang.

Banyak hal yang dibahas dalam diskusi komunitas yang berlangsung selama tiga jam tersebut, salah satunya keresahan komunitas dalam menghadapi minimnya penonton film saat menyelenggarakan acara pemutaran film. Sudah menjadi lagu lama ketika menyelenggarakan pemutaran film yang hadir sebagian besar adalah komunitas penyelenggara. Masyarakat umum yang diharapkan bisa terlibat untuk ikut mengapresiasi film yang disajikan, secara kuantitas maupun kualitas masih jauh dari harapan.

Salah satu pendapat menarik dilontarkan oleh salah satu peserta diskusi komunitas yang juga aktif di dunia teater, menurtnya, minat menonton film yang diselenggarakan komunitas seringkali sama dengan kasus pertunjukan teater yang juga seringkali minim penonton. Hal penting yang harus dilakukan bersama yaitu, pada intinya melakukan evaluasi terhadap diri kita sebagai pembuat maupun sebagai penyelenggara acara pemutaran maupun pertunjukan. Apakah sudah cukup kuat karya kita disajikan kepada penonton, atau hanya sekedar membuat tanpa pendalaman materi yang cukup baik.

Peserta diskusi komunitas lainnya beranggapan; diakui ataupun tidak, sampai saat ini sebagian besar pembuat film masih mencurahkan semua energi, waktu dan biaya diwilayah proses produksi. Sangat sedikit sekali yang mencoba mengoptimalkan beragam strategi promosi dan distribusi film agar filmnya dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas. Beberapa pola yang sering dilakukan adalah membuat film, dikirim ke festival, diputar di komunitas film, dan diunggah ke internet.

Diskusi Komunitas Bahas Penonton Film Indonesia
Hartanto dari Koperasi Sinema Mandiri Magelang | foto: SoloThok

Hartanto dari Koperasi Sinema Mandiri Magelang berpendapat, untuk saat ini banyak diperlukan karya film yang diproduksi sebagai titik tengah, yakni film diproduksi sebagai hasil eksperimentasi pembuatnya sekaligus dengan mempertimbangkan aspek penonton sebagai “pasar”. Harapannya, selain filmmaker tidak kehilangan idealisme dalam berkarya namun juga mampu memberikan rasa nyaman terhadap penonton, mampu mendekat dan bisa menjadi cermin masyarakat dengan film-film yang dibuat. Ketika karya film sudah tidak berjarak dengan masyarakat, maka komunitas bisa menjadi ujung tombak dalam memajukan Indonesia melalui media film.

Kinekita sebagai salah satu ekshibitor film di Platinum Cineplex memberi gambaran kongkrit bagaimana pegiat film bisa mendekatkan filmnya dengan masyarakat, salah satu contohnya adalah apa yang sudah dilakukan Cinema Lovers Community (CLC) di Purbalingga. Selain mengadakan workshop film ke pelajar sekolah-sekolah, CLC juga menyelenggaraan Layar Tanjleb keliling ke desa-desa dengan menghadirkan film karya komunitas dan film panjang Indonesia. Acara workshop dan layar tanjleb secara langsung maupun tidak, akan mampu menumbuhkan kebanggaan tersendiri terhadap film lokal dan juga film Indonesia.

Kota Solo memiliki banyak potensi untuk bisa melakukan kegiatan film dalam rangka mendekatkan film-film Indonesia dengan masyarakat. Selain bisa memanfaatkan bioskop, ruang kesenian, kampus dan sekolah, para komunitas bisa memanfaatkan 51 bale kelurahan yang hampir semuanya sudah memiliki fasilitas LCD Proyektor dan Sound. Dengan melibatkan karang taruna sebagai partner diharapkan dapat memperbanyak orang yang bisa dilibatkan untuk “ikut memiliki kepentingan” yang sama terhadap film Indonesia.

Film adalah kerja kolektif, tutur salah satu peserta diskusi komunitas dari Magelang. Membangun image positif tentang film Indonesia perlu dilakukan secara bersama-sama, baik pembuat film, penyelenggara acara pemutaran, maupun para penonton sendiri yang sudah memiliki kesadaran tentang pentingnya pengembangan film di Indonesia. Tindakan nyata harus segera dimulai semua pihak, sehingga permasalahn tidak hanya berhenti di ruang-ruang diskusi. Membangun kerjasama yang baik di semua jaringan menjadi langkah pertama yang bisa dilakukan.

Pentingnya mengembangkan jaringan juga dipandang sangat perlu oleh pengelola akun twitter @SoloThok. Sampai saat ini pengaruh sosmed masih cukup ampuh dalam mengebangkan jaringan sekaligus mengangkat sebuah permasalahan menjadi trending topic. Setiap personal yang tergabung dalam komunitas film di Solo dapat memanfaatkan jejaring sosial media seperti facebook dan twitter untuk mengangkat dan membahas isu film indie dan film indonesia setiap harinya.

Banyak hal yang sebenarnya masih bisa dibicarakan, acara diskusi komunitas film di Solo diharapkan dapat berlangsung secara rutin tiap bulan, karena dari pertemuan tersebut ada banyak hal bisa dilakukan untuk perkembangan perfilman di tanah air. Semoga..



Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*