Berita seni Indonesia, seni rupa dan desain, seni pertunjukan, seni musik, film, fashion, fotografi, arsitektur, sastra>

Mendapatkan Dana Untuk Produksi Film, Darimana saja?

Mendapatkan Dana Untuk Produksi Film sering menjadi obrolan menarik bagi para filmmaker. Sebetulnya banyak cara dan banyak tempat untuk mendapatkannya. Telah dibahas di artikel sebelumnya mengenai bagaimana mempersiapkan strategi dan membuat proposal penggalangan dana.

Berikut beberapa tips dan dimana saja mendapatkan dana untuk produksi film :

  1. Jual Diri. Menjadi Pria/Wanita  panggilan untuk menjual kemampuannya di bidang film sering dilakukan oleh pembuat film pemula. Bekerja freelance sebagai editor, juru kamera, marketing, atau apapun yang sesuai dengan bakatnya bisa menjadi pilihan pertama yang dilakukan dalam rangka mendapatkan dana untuk produksi film. Dari hasil bekerja paruh waktu tersebut, dana dapat disisihkan dan dikumpulkan untuk produksi.
  2. Patungan. Membentuk tim produksi dari kawan-kawan sendiri bisa menjadi pilihan yang asik daripada harus berjuang sendiri. Jangan jadi superman kalau memang tidak mampu, bentuklah superteam agar apa yang sudah direncanakan bisa segera terealisasi. Usahakan memilih tim tersebut dari beragam keahlian, karena bentuk patungan tidak musti berwujud uang. Ada yang punya kamera, ada yang pinter editing, ada yang punya katering dan lain sebagainya. Berbekal rincian rencana yang telah tersusun dalam proposal, utarakan dan yakinkan gagasan kepada calon tim agar bisa ikut terlibat. Seberpa banyak tim yang direkrut, semua tergantung kebutuhan dan tidak ada patokan khusus. Bisa jadi yang direkrut bukanlah orang-orang yang paham tentang produksi film, tapi mereka punya jaringan luas dalam mendapatkan dana untuk produksi film, paham strategi penggalangan dana yang efektif, atau potensi lainnya. Kuncinya satu, dalam satu tim usahakan bisa satu visi.
  3. Mencari Donatur. Mendapatkan dana untuk produksi film juga bisa dilakukan dengan mencari donatur, baik individu perorangan, kelompok, lembaga donor, ataupun badan usaha. Carilah donatur yang memiliki visi sama dengan tema film. Sifat donatur biasanya tidak meminta kompensasi apapun, namun karena kepedulian dan kesamaan tujuan terhadap film yang dibuat.
  4. Crowdfunding, adalah sebuah usaha yang dilakukan dalam mendapatkan dana untuk produksi film dari khalayak umum. Crowdfunding sering kali dilakukan di dunia maya seperti di website, dimana pembuat film dapat mempromosikan proyek yang akan dikerjakannya. Sebagai bentuk kompensasi, pembuat film bisa menawarkan berbagai bentuk merchandise (kaos, pin, stiker dll), video behind the scene, undangan premiere film, atau yang lainnya. hal ini bisa tergantung dari jumlah dana yang disumbangkan. Mira Lesmana misalnya, melakukan Crowdfunding dari wujudkan.com berhasil mengumpulkan sekitar 315 juta untuk produksi Atambua 39C. Contoh web selain Wujudkan.com adalah Kickstarter.com
  5. Ikut Program Hibah Karya, program hibah karya biasanya dilakukan oleh lembaga yang peduli dengan seni budaya, lingkungan, isu gender, HAM dll. Untuk di Indonesia program hibah karya sering dilakukan oleh yayasan kelola (kelola.or.id). Selain itu pernah juga diselenggarakan oleh IVAA, SAV Puskat dan Dewan Kesenian Jakarta melalui program hibah karya (arsipbudayanusantara.or.id)
  6. Ikut kompetisi. Kompetisi film tak selamanya harus mengirimkan hasil karya film. Eagle Award Documentary Competition (EADC) merupakan salah satu program kompetisi khusus film dokumenter di Indonesia yang menerima ide dalam bentuk proposal untuk dikompetisikan. Diselenggarakan setahun sekali dengan melakukan pendampingan serta pembiayaan untuk memproduksi film yang terpilih. (web : eagleawards-doc.com). Selain di EADC,  pernah juga dilakukan dalam program pendanaan Festival Film Solo (FSS) khusus untuk pembuatan film fiksi pendek. Dalam progranya, peserta mempresentasikan ide yang dikompetisikan di depan Juri program pendanaan FFS. (festivalfilmsolo.com)
  7. Mencari Investor bisa dilakukan dalam mendapatkan dana untuk produksi film, Berbicara tentang investor film berarti bicara bisnis film. Sebagian besar pembuat film yang menggandeng investor biasanya mereka yang meproduksi film untuk kepentingan komersial. Mempersiapkan business plan dalam bentuk proposal yang bagus akan lebih dapat meyakinkan calon investor film saat presentasi. Bentuk investasi bisa bermacam-macam, bisa berupa dana segar, peralatan, sumber daya manusia, juga yang lainnya.
  8. Kerjasama Sponsorship. Kerjasama sponsorship juga bisa dilakukan dalam rangka mendapatkan dana untuk produksi film. Dalam kerjasama sponsorship ini biasanya pihak pembuat film memberikan ruang (media placement) kepada sponsor untuk menampilkan produk/jasanya. Beberapa sponsor terkadang juga menginginkann produknya bisa tampil dalam alur cerita film, dalam media publikasi, dan dimanapun tempat sesuai kesepakatan.
  9. Bantuan Pemerintah. Meskipun peluangnya cukup kecil, mencari dan berusaha mendapatkan dana untuk produksi film kepada pemerintah juga perlu dicoba. Saat ini pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sedang getol berkampanye tentang pentingnya pertumbuhan Industri Kreatif dan Ekonomi Kreatif.
  10. Pinjaman Bank. Mendapatkan dana untuk produksi film melalui pinjaman bank adalah pilihan terakhir yang sangat beresiko. Untuk itu perhitungkana secara matang rugi-laba dari film yang akan dibuat.


Kontak Informasi: info[at]beritaseni.com
Press Release & Kirim Artikel: redaksi[at]beritaseni.com
Media Partner & Iklan iklan[at]beritaseni.com

Mari berjejaring dengan kami di Facebook dan Twitter

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*