Menyeterika Seragam
Isa Perkasa berdiri di depan karya instalasinya berjudul “Menyetrika Seragam” dalam pameran tunggal “Ingatan Yang Diseragamkan” di Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space, Bandung.
Isa Perkasa berdiri di depan karya instalasinya berjudul “Menyetrika Seragam” dalam pameran tunggal “Ingatan Yang Diseragamkan” di Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space, Bandung.
Mohliansi alias Ki Joko Wasis [49], seniman Yogyakarta ini memang nyentrik. Ia dikenal sebagai seniman napak tilas yang memiliki semangat tinggi. Tidak tanggung-tanggung rute yang ia pilih jalan Anyer-Bandung-Panarukan.
Oleh Heru Hikayat
Bulan Mei kiranya menjadi waktu yang baik bagi Bangsa Indonesia untuk merenungkan soal sejarah yang tak hanya berisi sejumlah ingatan tapi juga lupaan.
Midori Hirota, perupa asal Jepang mengingatkan kembali tentang sejarah kolonial Jepang dalam pameran tunggalnya yang bertajuk “Memory of Asia” di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung [08/05/09].
Oleh Ardea Rhema Sikhar
Nus menghadirkan “solusi ekstrim tidak terduga” dalam wujud mesin yang memanusia. Bisa jadi sisi manusiawi inilah “keekstriman” mesin yang “jarang terduga” oleh manusia sendiri. Ketika memandang mesin sebagai sesuatu yang tidak merasa, manusia lupa mencintai dan mengucapkan terima kasih.
Oleh Argus Firmansyah
Lima belas lukisan Willy memang mengekspos citraan figur masyarakat Bali yang masih tradisional dengan kekuatan budaya Balinya. Namun citraan itu dipertanyakan dalam konsep bahasa secara artistik di atas kanvas-kanvasnya oleh Willy.
Oleh Aminudin TH Siregar
Dalam tempo tiga tahun, setidaknya terjadi pertumbuhan luar biasa cepat di ruang sosial seni rupa kontemporer Indonesia. Galeri-galeri baru bermunculan; seniman-seniman muda mengemuka melalui pameran-pameran dengan produktifitas karya yang cukup besar.
Suasana pembukaan pameran “WALIK GREMBYANG” karya Wahyu Nugroho ramai dikunjungi pengunjung. Pameran berlangsung 21 – 28 Februari 2009 lalu di Pondok Seni Jl. Panglima Sudirman 6 Batu, Malang.Dalam pameran ini Wahyu menyuguhkan berbagai karya yang merupakan hasil meditasi dan perjalanan hidupnya sebagai seniman. Pameran ini pula dapat dibaca sebagai geliat dunia seni rupa di Jawa Timur yang tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya di Pulau Jawa. [FB]
Seni kontemporer Indonesia memang memuat gejala yang beragam dan unik. Tak mudah untuk menandai atau memberi sebuah identitas, apalagi memastikan genre estetika tertentu yang disematkan dalam membaca sebuah pemaparan karya seorang perupa.
Pameran ini menyuguhkan dua karya perupa, Purwanto SPA, lulusan Seni Murni, Lukis, Institut Kesenian Jakarta dan Heranto Maidil. lulusan Seni Rupa Institut Seni Indonesia [ISI] Yogyakarta. Meski keduanya memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda, mereka mencoba membidik obyek yang sama, yakni kekuasaan laki-laki.