Seni Untuk Kerja Sama

Hari kedua kegiatan “The Jatiwangi Artist In Residence Festival 2010” yang berbarengan dengan diskusi 27-an [progam rutin diskusi bulanan JaF], khusus membahas tentang bagaimana bentuk kerja sama antara seniman dan warga desa, Minggu [27/06/10].
Arief Yudi selaku Direktur Utama Jatiwangi Art Factory yang memfasilitasi kegiatan festival ini mengatakan,”Hal penting dalam festival ini bukan membahas apakah itu merupakan sebuah karya seni atau bukan karya seni. Namun bagaimana festival ini menjadi sebuah jembatan antara seniman dan warga desa dalam bekerja sama membuat sebuah karya mengenai potensi 7 desa yang dilibatkan dalam festival ini.
Dalam diskusi tersebut juga terdapat sebuah kritikan dari Paisan Plienbangchang [Thailand]. Dia mengatakan, dia tidak percaya kalau seniman yang terlibat dalam festival ini mau untuk diminta membuat karya seni ini atau karya seni itu oleh warga 7 desa yang dilibatkan dalam festival ini . Karena seni modern adalah karya seni individual.
Namun Jeremy Chu [Singapura] membantah keraguan dari Paisan Plienbangchang. Menurut Jeremy, tidak penting membahas siapa senimannya dan apa itu seni. Yang harus kita cari dalam festival ini adalah semangat, seperti yang ditunjukan oleh warga desa Loji dalam acara penyambutan seniman (26/10/2010].
Hal tersebut juga diamini oleh Heru Hikayat yang berperan sebagai kurator dalam festival ini.
“Sangat diperlukan dialog-dialog dengan warga mengenai kerja sama dalam membuat karya seni dalam festival ini. Karena festival ini berbentuk kolaborasi. Bukan karya individual. Siapa saja dapat menjadi seniman dan dapat membuat karya seni,” kata Heru.
Sedangkan Ghazi AlQudzy (Singapura) mengatakan, bukan orang Indonesia yang harus belajar dari Singapura, Amerika atau Negara maju lainnya. Namun menurutnya seniman dari luar Indonesia yang harus belajar dari masyarakat desa di Indonesia yang selalu mempunyai solusi dari berbagai macam keluhan dalam hidup.
Perdebatan terus bergulir dalam diskusi 27an. Warga pun mengutarakan pendapatnya. Banyak harapan ketika JaiRF 2010 juga digelar di desa mereka.
Salah satu aktivis sosial Jatiwangi, Welli Suratno berpendapat,“Kami hanya meminjam mata mereka (seniman) untuk melihat kami secara utuh dengan berkolaborasi dalam festival ini. Bukan karakter individual yang diutamakan.“
Kerja bersama inilah kiranya yang menjadi kunci dalam program dua tahunan “The Jatiwangi Artist in Residence Festival 2010”.[]
Filed Under: festival

