banner ad

Piknik Membersihkan Kuburan

rahmad-bs

Rahmat Haron [MAL] tak menyangka ide untuk membersihkan kuburan Jatisura mendapat respon baik dari warga. Ia sebelumnya sempat khawatir ide ini merepotkan.

Kekhawatiran Rahmat beralasan karena areal kuburan Jatisura luas. Penuh dengan semak belukar. Persoalan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana warga bisa terlibat dalam kerja bakti ini.

Berkali-kali ia berkata,”Kenapa-lah sampai keluar ide ni? Maafkan saya..maafkan saya,” kata Rahmat kepada Kepala Dusun Didi dan Kepala Dusun Bono.

“Jangan khawatir,” kata Pak Kadus Bono.

Saat melakukan observasi lapangan untuk merancang kegiatan bersama, Rahmat juga diajak untuk mengunjungi situs bersejarah desa Jatisura. Situs itu berupa pohon Jati yang tertusuk pohon Kosambi. Kedua pohon inilah yang dijadikan nama untuk desa Jatisura. Kata sura sendiri berarti tertusuk. Di bawah pohon terdapat sebuah makam. Itulah makam sang pendiri Desa Jatisura, Mbah Ranto.

Setelah melakukan observasi Rahmat berkumpul dengan para aparat desa. Ginggi Hasyim, kepada desa Jatisura juga hadir. Lagi-lagi Rahmat mengutarakan permintaan maafnya jika ide ini membuat warga desa Jatisura repot.

“Tidak..tidak….di kuburan itu juga ada makam ayah dan keluarga saya. Ide ini bagus untuk kami,” kata Ginggi.

Tidak hanya membersihkan kuburan saja. Beberapa warga juga merespon ide kegiatan ini, diantaranya dengan membaca doa bersama dan menanam pohon. “Kalau boleh warga juga membawa payung saat kegiatan membaca doa,” kata Rahmat.

Setelah bertemu dengan aparat desa Rahmat terlihat agak tenang sore itu. Belum sepenuhnya tenang.

Namun saat Rabu malam [29/06/10] Rahmat tampak lebih gembira. Pasalnya saat ia menceritakan ide membersihkan kuburan kepada Pak Umi [pemilik rumah tempat Rahmat tinggal] langsung ditanggap secara baik.

“Waktu saya menceritakan ide ini kepada Pak Umi, dia langsung bertanya kapan. Itu membuat saya merasa senang dan mendapatkan energi,” kata Rahmat.

Sebelumnya Rahmat juga membantu warga untuk mencari seorang warga Jatisura yang bekerja di Malaysia. Menurut kabar warga tersebut melarikan diri. Lantas Rahmat mengontak jaringannya di Malaysia. Warga yang sebelumnya dinyatakan hilang akhirnya bisa dihubungi lewat telepon selular. Kondisi baik.

Ginggi Hasyim memeluk erat Rahmat. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih Rahmat…terima kasih…” kata Ginggi.

Rahmat Haron seniman asal Malaysia berambut gimbal ini dulunya adalah aktivis gerakan di negaranya. Ia terlibat dalam gerakan reformasi di Malaysia. Namun akhirnya ia memilih untuk terjun ke dunia seni, khususnya performance art. Ia sendiri sudah mengunjungi banyak daerah di Indonesia.

Dalam acara “The Jatiwangi Artist in Residence 2010” [26 Juni-9 Juli 2010] ia tinggal di Desa Jatisura. Selain Rahmat, Haseena Abdul Majid asal Singapura juga tinggal di Jatisura.

Pada hari Kamis [30/06/10] kedua seniman kembali berkumpul bersama aparat desa Jatisura untuk kembali membicarakan ide mereka. Dari pertemuan itu mereka sepakat untuk mengirimkan utusan dari setiap blok, kaum ibu akan membuat dapur umum, warga membawa alat-alat kerja seperti arit dan cangkul. Setelah lingkungan kuburan dibersihkan dilanjutkan dengan berdoa bersama [hadoroh] dan menanam pohon.

Rahmat menyebut ide kegiatan bersama warga ini dengan nama “Picnic in Jatisura Cemetery”.[]

Filed Under: discoursefestival

Tags: , ,

Comments are closed.