Pesepakbola Berjilbab Menentang Larangan FIFA

Oleh Stephen de Tarczynski
MELBOURNE (IPS) – SARA Aboueid dan Noordin Jamillah, masing-masing berusia 15 dan 16 tahun, mengenakan seragam sama tak terhitung jumlahnya seperti pesepakbola di seluruh dunia. Setiap minggu selama musim sepakbola di Australia, kedua gadis itu berkaos dan bercelana pendek sesuai warna klub mereka. Seperti beberapa rekan satu tim mereka, keduanya juga memakai jilbab.
Mengenakan jilbab, “sangat berarti karena itu aturan dalam agama saya dan saya tak bisa menentangnya. Jika saya melepaskannya (untuk bermain sepakbola), saya melakukan sesuatu yang salah, “ kata Aboueid, penjaga gawang Brunswick Zebra, klub sepakbola di dalam-pinggiran kota Melbourne, kepada IPS.
Sementara Aboueid dan Noordin selalu bermain sepakbola dengan jilbab tanpa mengalami masalah, kontroversi seputar hak pesepakbola untuk mengenakan jilbab terus jadi berita utama.
Pada 2007, seorang gadis sebelas tahun dilarang bermain sepakbola di Kanada karena hijabnya. Yang terbaru, Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA), organisasi yang mengatur olahraga ini, mencoret tim sepakbola perempuan Iran dan menggantinya dengan tim Thailand untuk Pesta Olimpiade Pemuda di Singapura.
Aturan FIFA, yang diumumkan pada April lalu, menyebutkan bahwa jilbab, yang dipakai para pemain Iran, bertentangan dengan aturan permainan. Menurut hukum keempat dari buku peraturan internasional, “perlengkapan pemain tak boleh punya muatan politik, agama, atau pernyataan personal.”
Berdasarkan peraturan FIFA itu, badan yang mengatur pertandingan maupun kompetisi bisa memberikan sanksi pelanggaran hukum di mana pun pelanggaran ini terjadi.
Meski Komite Olimpiade Iran menulis surat protes ke FIFA, Komite Olimpiade Internasional, Dewan Olimpiade Asia, Asosiasi Komite Olimpiade Nasional, dan Konfederasi Sepakbola Asia, gadis-gadis Iran tak akan bergabung dengan sekitar 3.600 atlet berumur 14 sampai 18 tahun dalam pembukaan Pesta Olimpiade Pemuda Agustus mendatang.
Noordin mempertanyakan kenapa mengenakan jilbab di lapangan sepakbola menjadi masalah sehingga “tak menguntungkan tim yang memakai hijab.”
Menanggapi maksud FIFA bahwa jilbab adalah sebuah pernyataan agama, gelandang muda Zebra Brunswick mengatakan kepada IPS bahwa “ini identitas saya. Dan jika itu suatu masalah, lakukan pula pada setiap pesepakbola dengan tato salib di tubuh dan bilang pada mereka untuk menghapusnya.”
“Itu baru adil dan sama dan sekali itu terjadi, kami akan menerima bahwa kami tak bisa bermain dengan mengenakan jilbab,” ujar Noordin.
Di Australia, di mana sepakbola meningkat popularitas dan tingkat partisipasinya akhir-akhir ini, juga belum jelas bagaimana otoritas sepakbola lokal bereaksi mengenai larang jilbab dari FIFA.
Federasi Sepakbola Australia (FFA), belum membalas IPS yang ingin mengklarifikasi legalitas pemakaian jilbab dalam sepakbola di sini.
Badan yang mengatur olahraga itu di Victoria dan New South Wales (NSW), dua negara bagian yang terpadat penduduknya di Australia, memberikan beberapa informasi.
Seorang jurubicara Federasi Sepakbola Victoria (FFV) mengatakan kepada IPS bahwa para pemain diperbolehkan mengenakan jilbab “dengan syarat bahwa jilbab sewarna dengan warna kostum tim.”
Sementara respon ini membikin kejelasan –setidaknya untuk saat ini– bagi para pemain di Victoria, di mana Brunswick Zebra ikut berkompetisi, media lokal melaporkan bahwa Federasi Sepakbola NSW akan mengikuti jejak FFA.
Tapi seperti Aboueid dan Noordin, mantan pemain Afifa Saad menolak larangan FIFA mengenai jilbab.
“Saya pikir mereka harus meninjau kembali aturan itu. Anda tak bisa melarang orang berpartisipasi. Orang punya pilihan: jika mereka ingin memakai jilbab, itu pilihan mereka, jika mereka ingin bermain sepakbola, itu pilihan mereka,” kata Saad.
“Organisasi besar seperti FIFA tak boleh mengecewakan perempuan. Mengingat ini adalah permainan universal, dimainkan di seluruh dunia, apa pesan yang mereka kirim?” ujarnya.
Saad, seorang Muslim asal Libanon, mulai berjilbab sejak sekolah menengah. Saad, meski bermain di tingkat elit untuk klub sepakbola Melbourne Selatan pada 2004, dia berada di tengah-tengah badai kontroversi setelah wasit menyuruhnya melepas jilbabnya.
Saad tak memenuhi permintaan wasit. “Insiden itu benar-benar mengejutkan,” kenang dia. “Dua menit sebelum dimulai, dia mengatakan kepada saya bahwa saya tak bisa ikut pertandingan itu.”
Meski menerima dukungan dari rekan tim dan pemain lawan, juga menjelaskan kepada wasit bahwa jilbab “adalah soal keimanan,” Saad tak diizinkan untuk bertanding.
FFV, kemudian dikenal sebagai Federasi Sepakbola Victoria (Victorian Soccer Federation), kemudian memutuskan bahwa Saad bukanlah korban diskriminasi agama dan bahwa wasit hanya ingin pemain mengenakan jilbab yang sewarna dengan seragam tim.
Ini bukan bagaimana Saad, yang bermain sebagai penyerang, pemain tengah, dan seorang kiper, mengingat insiden itu. FFV “harus membelanya. Dia tak ingin saya memakai jilbab sama sekali,” katanya.
Sekarang sebagai seorang guru pendidikan jasmani, Saad bermaksud main futsal setelah kelahiran anaknya. Tapi dia tak akan bermain tanpa mengenakan jilbab.
Saad berpendapat bahwa alih-alih dilarang, para pesepakbola yang mengenakan jilbab menjadi inspirasi.
“Banyak orang salah persepsi, termasuk perempuan Muslim, bahwa sekali memakai jilbab, Anda tak dapat melakukan apapun, bahwa Anda tak dapat bekerja atau bermain olahraga. Itu semua mitos. Anda dapat melakukan apapun yang Anda ingin, langit batasnya,” katanya.[]
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini diterbitkan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
Filed Under: social

