Ethnomission Sunda Jazz
Oleh: Endah Kemala*
Alunan musik jazz terdengar begitu emosional, menusuk, mengalahkan dinginnya angin malam di Bentara Budaya Jakarta pada malam jumat lalu. Terdengar petikan tajam gitar Tohpati mengiringi gebukan drum Demas yang seperti bertarung dengan pukulan kendang Endang, namun sebenarnya saling mengiringi, duk dak duk dak, dung,dung, dung, dung.
Permainan bass Indro pun tidak mau kalah mengikuti partitur-partitur teman-temannuya. Memperkuat warna jazz pada permainan mereka yang berdengung seolah mendramatisir musik.
Kemudian, perlahan alunan suling Diki menyusup pada tiap ketukan musik, dan kelembutannya memberikan gambaran warna musik sunda yang sangat lembut dapat memperdaya pendengarnya.
Penonton seperti terhipnotis. Tidak bergeming walau berdesak-desakan pada areal yang tidak luas, dan duduk pada kursi kayu yang berdiri di atas hamparan permadani rumput. Hiasan pepohonan yang diterangi oleh lampu kuno dan beberapa obor rasanya pas untuk menambah nuansa etnik yang diberikan. Belum lagi dengan adanya rumah adat sebagai latar panggung. Dimana lima pria berpakaian ala budaya sunda ini menyihir penonton dengan musik mereka.
Tohpati begitu semangat dan terbawa dalam alunan musik yang ia mainkan. Dengan liar iringan musiknya menyatu dengan permainan basss Indro Hardjodikoro.
Tampak sangat garang Demas Narawangsa memukul-mukul drum dengan cepat. Dan Endang Ramdan seperti tidak mau kalah memainkan kendang, tubuhnya ikut bergerak mengikuti ketukan tangannya dan menyatu dengan alunan musik. Bahkan pakaian adat sunda yang lengkap dikenakannya tidak lantas merintangi ruang geraknya. Lalu dipadukan dengan tiupan suling sunda Diki Suwarjiki membuat music kolaborasi etnik sunda-jazz ini menjadi sangat harmonis.
Tohpati Ethnomission yang diadakan pada Kamis (22/4/2010) malam lalu menggambarkan kebebasan eksplorasi Tohpati dengan musik entik. Pada proyek terbarunya ini, Tohpati ingin mengekspresikan musiknya dengan lebih liar. Menurut Tohpati Ario Utomo, seni tradisional dapat dinikmati dan harusnya dicintai oleh generasi muda sekarang.
Budaya tradisional dapat dinikmati dengan berbagai cara agar tidak monoton dan membosankan.
”Musik tradisional dapat berkembang, dan dapat dikolaborasikan dengan house musik, sehingga dapat lebih dinikmati,” tutur gitaris yang pernah bermain bersama kuartet jazz Yellowjackets ini.
Dalam penampilannya, mereka membawakan 5 musik, yaitu ‘begunungan’, ‘etnofunk’, ‘Rain Forest’, ‘Bedhaya Ketawang’, dan ‘Perang Tanding’.
Pada salah satu sesi, diperlihatkan duel antara kendang dan drum. Tang, tang, dung, dung. Seperti ingin saling menghancurkan dan memperlihatkan mana yang lebih hebat, namun terdengar harmonis. Terasa perpaduan yang sangat indah dan tidak saling membunuh karakter yang sudah ada. Pertarungan yang begitu emosional terlihat mempengaruhi penonton yang riuh memecah keheningan malam. Bahkan beberapa wanita muda tampak sangat antusias dalam memberikan dukungannya pada drumer yang baru berusia 17 tersebut.
Kolaborasi etnik sunda dan jazz ini merupakan terobosan terbaru Tohpati dalam album terbarunya. Dimana alat musik seperti drum dan kending dapat saling mengisi. ”Menurut saya salah satu alat musik paling fun, gruvi adalah alat musik sunda.
Dimana, seni tradisional dapat dikolaborasikan dengan instrumen modern. Artinya bahwa musik tidak hanya bisa dimainkan seperti yang direstoran-restoran sunda. Dia bisa sangat luas,” tambah Tohpati. Dan Tohpati berharap bahwa musik mereka juga dapat diterima hingga ke negeri luar. []
* Penulis lepas
Filed Under: music

