banner ad

Wayang, Keroncong dan Teater

cuk-cis

Oleh Ratu Selvi Agnesia*

Kelompok “Behindtheactors” kembali menggaungkan eksistensi kekaryaan di tangan sutradara Asep Budiman (Asbud) melalui karya “Wayang keroncong, Cuk & Cis”, yang melahirkan biografi, kematangan konsep dan kebersamaan yang erat.


Pementasan “Wayang keroncong, Cuk & Cis” berdasarkan cerpen karya Vincent Mahieu- terjemahan HB Jassin, dipentaskan Rabu (27/01/2010) di Gd. Cak Durasim, taman budaya Jawa Timur, Surabaya dan di pentaskan (23/01/10) pula di taman budaya Surakarta, Solo. Peleburan multi art dengan kolaborasi wayang, musik keroncong, acting dan tarian menjadi ramuan sedap untuk dinikmati.


Selama satu jam lebih, pecinta teater di kota pahlawan disuguhkan visual terbaru dengan unsur nilai lokal kekinian yang lebih konvensional dari kelompok teater asal STSI Bandung. Berawal ketika lighting tanda pementasan menyala, penonton ditarik masuk dalam pertunjukan seni tradisional. Dalang (Deden Chandra S), memainkan wayang golek sebagai pengantar pementasan “Wayang keroncong Cuk & Cis” sebagai biografi Gerda dan Didi.


Cis yang bercerita tentang biografi Didi, adalah perempuan muda yatim piatu (Mella Septiyanti), selama pementasan, ia duduk di kursi roda sebagai simbolis penderitaan hidupnya, cinta yang didewakan kepada Stirman tiga Belanda (Hendra Mboth) dibayar dengan kematian karena dicurigai penjahat ketika suaminya ditawan oleh tentara Jepang. Cuk mengisahkan biografi Gerda. Sosok gadis pemburu diperankan (Rani Nuraeni), perannya mewakili kekuatan perempuan dalam sifat dan pemikiran, Cuk awalnya bernama Gerda, sebuah nama yang mengandung unsur manis, sabar dan jujur.


Tetapi Cuk memilih untuk hidup tanpa memandang sosial, pendidikan, usia dan harta benda. Ia dan sahabatnya, Man (Hermana HMT), membawa senapan dan hidup untuk berburu. Tokoh tuan Barres sebagai guru musik yang tinggal dalam kesendirian di pemakaman, hadir sebagai laki-laki yang diburu cintanya oleh Cuk. Serupa dengan Didi, kematian dalam tanah rawa bunga karang menjadi akhir tragis dari kehidupan Cuk dalam kisahnya.


“Cuk adalah senjata dan Cis martirnya, Cuk tentang magic dan Cis tentang mistis, berburu dan membunuh dengan akhir kematian, semua kejadian telah terlihat di telapak tangan manusia, termasuk kejadian dan alam mempunyai keterlibatan besar dari manusia”, ucap Asbud dalam memaknai pementasan ini.


Unsur keaktoran teater yang kental memang terasa, tetapi unsur sebenarnya adalah wayang sebagai esensi ruh sejati dalam pementasan, karena peran dalang memberikan keterlibatan besar untuk mengatur sekaligus menjelaskan alur cerita, musik keroncong berperan sebagai audio khas baru, karena sutradara menginginkan agar wayang tidak selalu diiringi gamelan dan pilihan inovasi baru jatuh kepada musik keroncong, sedangkan tari topeng (Oos koswara dan Mella Septianti), berfungsi untuk membantu dan memberikan tambahan visual.

Behindtheactors menawarkan sebuah wacana baru dalam teater Indonesia, identitas wayang dan keroncong menjadi sebuah ide segar yang direalisasikan dalam garapan teater.


Penciptaan (Created) wayang keroncong berawal dari Cerpen Vincent Mahieau yang dipilih Sastrawan HB Jassin untuk diterjemahkan, behindtheactors cerdas mengolah kembali (re-create) dalam karya teater dengan nilai tambahan mengusung nilai lokal jenius melalui media wayang dan keroncong.


“Berkaca pada sejarah, wayang merupakan sebuah kesenian asli dari wali songo, dimana pada awalnya, penonton yang ingin menyaksikan wayang harus membayar dengan membaca dua kalimat syahadat pada masa dinamisme dan animisme, menonton wayang seolah menonton panggung kehidupan realitas manusia dan keterkaitan wayang erat sekali dengan yang maha kuasa, karena pada awalnya merupakan media penyebaran agama islam”, ucap Dede Candra S, sebagai dalang.


Mengamati seni pada masa kini, dimana seni dengan inovasi kebaruan akan memberikan pilihan kepada seniman teater khususnya, untuk melakukan penjelajahan karya seni, tetapi pada hakikatnya, sebuah kebaruan karya seni tidak dapat sepenuhnya bersifat kontemporer dan melepaskan diri dari sesuatu yang mendahuluinya, yang disebut dengan nilai lokal dan tradisional, yang didalamnya terdapat unsur wayang dan keroncong sebagai identitas bangsa Indonesia, di masa kini dan kelak masa akan datang. []

* Penulis seni pertunjukan dan seni rupa

Filed Under: theatre

Tags: , , ,

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.