Oh, It’s So Quiet
Oleh Ardea Rhema Sikhar*
Pada keluasan wilayah Cigadung Raya Barat No.2 Bandung, sebuah petak kecil mewakili masa yang beku dan intuitif. Moment. Jenak. Kesingkatan di belantara waktu yang mempunyai pesonanya sendiri.
R.Yuki Agriardi adalah salah satu seniman yang dipinang ber-special solo project di Platform3. Ruang putih tak begitu besar ini digagas oleh kurator; Agung Hujatnikajenong, Riffky Effendi dan Aminudin TH Siregar. Selama tahun 2010, Platform 3 akan menyoal “kolonialisme” dari sudut pandang seniman.
“Temanya ‘Kolonialisme’. Tapi sejujurnya gue nggak gitu tertarik sama peristiwa penjajahan itu sendiri, jadi gue mengambil salah satu moment besar yang terjadi di zaman penjajahan itu saja,” Yuki mengakui.
Maka berangkat dari kemeletusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, Yuki menggarap “The Last Quiet Day”. Sepaket instalasi. Komposisi yang damai, namun menyimpan rahasia misterius seperti intuisi. Berkesan mistis, segelas air putih terhidang diam di meja goyang yang tak bergoyang.
“Itu sebenernya iseng, kok. Kalau ada pengunjung yang nyenggol itu meja, air bakal beriak. Timbullah perasaan waswas, takut tumpah,” papar Yuki.
Sementara, di dinding ruang tergantung kayu bundar yang hitam-arang. Di baliknya diam-diam berdetak waktu. “Ini ngomongin masalah waktu yang konstan nggak berhenti,” ujar Yuki. Benang hitam yang terlilit di mesin detak menjuntai hingga lantai. Ia yang digelitik tik-tik sesekali bergerak halus ; menyatakan keterhubungan antara beku dan waktu secara tersirat.
“Lu pernah nggak, sih, ngalamin moment beku kayak di karya lo ini ?” tanya saya.
“Sebenernya kita semua pernah,” sahut Yuki.
“Terus apa arti moment itu buat elu ?”
“Itu moment paling jujur, ketika kita merasakan semuanya secara personal, lebih personal dari yang kita bayangkan …”
Saya mengangguk-angguk.
Lingkup fisik “The Last Quiet Day” sempit seperti moment; minimalis seperti kesadaran tiap orang yang tertangkap di sana. Namun ketelanjangan itulah yang membuat ruang tafsir dan rasa boleh diam, tak perlu takut pada definisi.[]
· Tulisan ini juga dapat diakses di http://salamatahari.blogspot.com/2010/01/oh-its-so-quiet.html
· Ardea Rhema Sikhar atau Sundea adalah penulis buku Salamatahari, Dunia Adin dan Salamatahari #2
Filed Under: visual arts


Orang-orang di sekitar seniman ini sok serius, sok menyimak…
apa berarti termasuk kuratornya?…:)
btw, saat moment artist talk “The Last Quiet Day”, dgn kehadiran para kolektor (yg nanya ato memberi tanggapan), kupikir bisa jadi “aba-aba” saat karya seni dianggap mampu menyentuh pasar ato tidak. gitu gak sih Ru?