Membaca Instalasi “Apa Ini,Apa Itu”
Oleh Ratu Selvi Agnesia
Seni instalasi merupakan salah satu bentuk karya seni yang masih banyak diminati oleh para perupa Indonesia. Itulah kenapa “Djagat Art House” memasukkan instalasi dalam program happening art “Apa ini, Apa itu” yang digelar di pantai Lepang dan Studio Suklu, Klungkung Bali, 29-31 2009.
Apresiator dibuat terpukau dengan hampir sepuluh bentuk instalasi (susunan) yang dibuat seniman-seniman dengan proses pembentukan dalam waktu relatif singkat.
Joko Dwi Avianto, seniman asal Bandung yang memulai debut instalasi tahun 2003 membuat instalasi bambu dengan modelling bentuk keranjang. Karya Joko menghubungkan dua pohon kelapa.
“Ketertarikan bambu sebagai media instalasi karena unsur keprihatinan dan pilihan medium yang tepat, instalasi yang saya buat diantara dua pohon bertujuan agar ada unsur kokoh dan tantangan yang baru,” kata Joko.
Senafas dengan Joko, I Wayan Sudjana Suklu mengambil media bambu dengan judul karya “Merasakan langit dan merasakan kedalaman tanah”, instalasi yang dibuat Suklu yang merangkap sekaligus ketua penyelenggara acara memang memperlihatkan tancapan kokoh bambu di tanah dan bagian atas lebih menjunjung ke langit.
Proses instalasi yang dikerjakan hampir dalam satu bulan, memberikan kepuasan khusus selain media lukisan yang digelutinya.
Instalasi I Wayan Sudiarta, seniman asal Bali yang juga dosen seni rupa Universitas Singaraja Bali, lebih kepada dasar tujuan pembentukan instalasi sendiri, “Instalasi menjadi media yang seimbang dan saling melengkapi dalam performance yang akan saya tampilkan di event ini, alam terutama persawahan merupakan stimulus dan rangsangan terbesar dalam berkarya, padi dan lumpur merupakan elemen penting dalam instalasi sedangkan bambu dan rotan hanya elemen visual”.
Instalasi dengan modelling bentuk kepompong yang menancap di pasir pantai juga beberapa instalasi yang diberi penyangga, memperlihatkan kematangan konsep dan keindahan bentuk instalasi yang luar biasa dalam karya Nyoman Sudjana Kenyem. Instalasi yang terbentuk sebagai media performance tari dari Diah, Jasmiene Okubo dan Eko pratowo menjadi pilihan dalam pembakaran karya. Saat pembakaran instalasi, terasa energi besar dari peleburan rotan dan energi api sebagai unsur alam dalam kesenian.
I Madhe Sudjana, Daniel Kho, Danuta Franzen, Nyoman Erawan, Tisna Sanjaya dan Wayan Sudiarta memberikan keterlibatan mendalam pula dalam pembuatan instalasi yang terbilang unik, kehebatan alam pulau detawa Bali di respon seniman-seniman dalam berkarya dengan kepekaan sekaligus media kegelisahan.
Selain instalasi, happening art “Apa ini, apa itu” juga menampilkan paintings, performance, photografhy dan musik dengan melibatkan 27 seniman dalam dan luar negeri dengan apresiator yang luar biasa, sebagai interaksi ruang dan waktu untuk menggaungkan kesenian dengan segala kreativitasnya dalam menyambut tahun 2010.[]
Ratu Selvi Agnesia, Penulis seni pertunjukan dan seni rupa.
Filed Under: visual arts


Instalasi bambu karya unik yang mesti dikembangkan dalam ranah kesenian Indonesia, sukses djagat art house