Kegelisahan Alat-alat Dapur Gorontalo

Kura-kura dudangata, alat parutan kelapa khas Gorontalo yang berbetuk tidak lazim, salah satu karya kriya yang dipamerkan I Komang Suarmika dalam pameran tunggalnya yang bertajuk “ACFTA, dapur gelisah padamu” , di News Cafe Universitas Negeri Gorontalo (UNG), 19-20 Januari 2010
Oleh Syam SDP Terrajana
Gorontalo – Sebuah peristiwa kesenian, yang sederhana namun cukup penting terjadi di Gorontalo, I Komang Suarmika, salah seorang kriyawan muda, menggelar pameran tunggal yang mengusung 10 karya kriya dan 10 karya lukisan di dalamnya.
Pameran itu digelar di news café, sebuah tempat kongkow-kongkow para jurnalis dan aktivis, yang berlokasi di dalam kompleks Universitas Negeri Gorontalo, pada Selasa hingga Rabu(19-20/1) 2010.
Komang mencoba mengangkat isu sentral dari Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) , atau kesepakatan perdagangan bebas negara-negara ASEAN-China yang juga berlaku di Indonesia mulai awal 2010.
Untuk itu Komang, yang masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir pada jurusan teknik kriya, di Universitas Negeri Gorontalo ini, memberi tajuk “ACFTA, Dapur Gelisah Padamu” pada pameran tunggalnya itu.
Sesuai dengan tema pameran tersebut, sepuluh karya Komang yang dipamerkan di News Cafe UNG itu, banyak mengangkat benda-benda dapur yang bersifat fungsional, namun diberikan sentuhan seni, sehingga keberadaannya menjadi bernilai.
Contohnya adalah sendok nasi yang terbuat dari bahan kayu, yang dia rangkai sedemikian rupa menjadi jam dinding hiasan, atau penapis beras yang dalam bahasa gorontalo disebut “sisiru”, yang dia ubah fungsinya menjadi bingkai cermin bernuansa etnik.
Selain itu, turut dipajang parutan kelapa khas Gorontalo “Dudangata” yang agak tidak lazim, karena berbentuk kura-kura dan berbentuk kursi.
“Saya hanya mencoba mengangkat benda-benda dapur tradisional Gorontalo, sebagai salah satu bentuk alternatif untuk melawan perdagangan bebas , dengan cara yang kreatif,” Kata Komang.
Pameran ini digelar atas inisiatif bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Persiapan Gorontalo, yang baru saja berdiri pada 20 November 2009 silam.
Dapat dikatakan penting, karena momentum kesenian, apalagi semacam pameran seni rupa, sangat jarang terjadi di Gorontalo, sebuah provinsi baru yang selama ini masih berkutat pada masalah-masalah politik , sebagai konsekuensi daerah baru yang identik dengan masalah bagi-bagi kekuasaan, seperti yang dikemukakan ketua AJI persiapan Gorontalo, Cristopel Paino.
“Ke depan, AJI juga akan konsen mendukung kegiatan-kegiatan kebudayaan dari siapa saja, untuk memberi warna bagi dinamika kehidupan masyarakat Gorontalo,” ujarnya.[]
Filed Under: visual arts

