banner ad

Helm Buatan Bandung

born-protector-1

Teks : Frino Bariarcianur [] Foto : Adi Marsiela

Toko kecil di jalan Parasitologi 12 Cigadung, Bandung menjual helm untuk penggemar olah raga airsoft gun. Helm-helm dibuat oleh pemiliknya dan dipasarkan sendiri.

Puluhan helm cantik itu dibikin oleh Mukti Alik (34), sang pemilik toko. Ia memulai secara serius membuat helm sejak tahun 2002. Helm pertama yang dibuat Mukti adalah tipe helm pasukan tank. Dengan bahan dasar helm berupa resin.

“Kurang lebih 3 bulan saya mempelajari teknik mencetak resin. Saya belajar sendiri,” kata Mukti.

Untuk urusan membuat busa bagian dalam dan assesoris ia pesan lagi ke orang lain. Maklun istilahnya. Namun setelah dihitung-hitung, ongkos produksinya membengkak. Ia pun memutuskan untuk belajar membuat busa dalam helm dan menjahit. Kini semua produksi ia kuasai.

Dan semua tahapan membuat helm itu ia kerjakan di rumahnya.

Untuk mencetak helm ia menggunakan teras belakang rumah. Setelah itu helm-helm dibawa ke lantai dua. Di ruang inilah proses perakitan dilakukan. Tak besar ruangannya tapi sangat efektif. “Memanfaatkan ruang yang ada,” kata Mukti.

born-protector-3Soal eksplorasi ini bukan yang pertama bagi Mukti. Waktu masih SMP bersama ayahnya ia getol mengotak-atik motor Inggris. Dari mesin yang amburadul; terpecah-pecah bagiannya lalu disusun kembali sampai terlihat model aslinya, menjadi bagian sehari-hari waktu masih di sekolah.

Kemudian saat kuliah ia terjun ke dunia masak-memasak. Meskipun ia sendiri kuliah di jurusan Bahasa Inggris. Memang rada ekstrem, dari otomotif yang “berbau” dunia laki-laki pindah ke urusan perut, dunianya perempuan. Bahkan ia dan kakaknya sempat pula membuat cafe di Jl. Ir. Djuanda tepat di depan SMAK Dago, sekitar tahun 1999. Mereka waktu sudah menyuguhkan masakan ala Itali. Ia juga sempat menjadi koki di kapal pesiar tahun 2001.

Pada akhirnya ia terjun bebas lagi. Menggeluti dunia helm.

Menurut Mukti untuk mencetak sebuah replika helm tidak dibutuhkan waktu yang lama. “Kalau sudah jadi cetakannya akan lebih cepat dan mudah. Untuk sebuah model kita bisa mencetak banyak,” kata Mukti.

Namun untuk proses pengecatan bisa memakan waktu. Semisal mengecat helm yang digunakan oleh pilot pesawat tempur. Mukti menggunakan cat dan bahan khusus. “Butuh waktu seminggu mengerjakan satu helm tipe ini.”

Ia tidak hanya mencontoh produk-produk luar tapi juga membuat desain sendiri. “Kalau bikin model yang sama, pembeli bosan,” kata Mukti. Ia pun membuat inovasi pada bentuk helm yang sesuai dengan kebutuhan pecinta airsoft gun. Ia pun menerima pesanan membuat helm sesuai kebutuhan pembeli.

Produk helm Mukti diberi nama “Predator Born Protector”.

Dalam satu bulan ia menjual sekitar 15 unit saja. Helm tipe tank dijual seharga 250-500 ribu rupiah sementara helm pilot seharga 450-750 ribu rupiah. Helm-helm itu dijual sampai ke Jakarta, Makasar, Bali dan di kota Bandung sendiri.

Pasarnya memang tak besar, kebanyakan pembeli, menurut Mukti adalah orang-orang pecinta olahraga airsoft gun.

born-protector-2Meski usahanya terbilang usaha kecil ia penuh semangat menjalaninya. Ia pun berjejaring dengan para penjual-penjual helm yang lain. “Saya menyukai pekerjaan ini, lebih enjoy,” kata Mukti.

Tidak hanya helm, ia juga membuat aksen figure, replika alat komunikasi perang PRC 77 dan beberapa assesoris lainnya. Bentuknya kecil dan lucu-lucu. Semuanya bisa dilihat di toko kecil “Male Female Gallerys”, di jalan Parasitologi No.12, Cigadung Bandung.[]

Filed Under: design

Tags: , , ,

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.