GK : Menebar Kesederhanaan Sehari-hari, Melahirkan Kesadaran

Oleh Wawan S Husin*
Jika penikmat seni (rupa, utamanya) “hoream” dan “kesal” dengan berita Bank Century yang bertele-tele atau ‘gerah’ karena kesibukan sehari-hari, mampirlah ke Galeri Kita [GK],– Jl. Riau Bandung 209. Saat ini 5 seniman yang tengah menyelesaikan S2 di ITB sedang berpameran.
Dengan dikuratori oleh I Wayan Seriyoga Parta, berlima - I Wayan Sujana “Suklu”, Kiki Rizky S. Putri, Nur F. Roslan, Toufiq P. Wisesa dan Wahdiaman – berpameran dari 12 – 26 Januari 2010. Tema besar yang diusung, ‘re-create’. Dengan huruf kecil. Mencipta kembali.
Supaya afdol bin mudah ‘memahami’ pameran ini, mari kita simak kata-kata kurator yang pengantarnya menyatakan, a.l.‘…bagi mereka, pengalaman keseharian, ingatan (memorabilia), pengamatan (gaze) dan juga memungut (dalam artian luas) sesungguhnya berperan besar bagi proses kreasi yang tengah mereka lakoni. Seringkali ide-ide berlian muncul dari pengamatan terhadap hal-hal yang sederhana di sekitar kita”. Nah, begitu kata kurator. Yoga panggilannya. Setidaknya ini bisa jadi semacam jembatan pemahaman ke arah karya ber-Lima ini. Pemahaman!? Woalah, woalah seyeeem neh! Tapi oke dech!
Adalah Soren Kiekergaard, salah satu eksistensialis yang menyukai ‘keseharian’ ini. Sungguh di dalam keseharian itulah (kalo dipikir-pikir) kita hidup, mengalami, menginderai dunia dan mengendarai dunia, berpikir, bermain, bercinta, bersekolah, berkuliah, berdagang dan sebanyak-banyak ber-yang lainnya. Berhidup dan menghidupi. Berkarya. Berkreasi dan ber-re-kreasi. Re-create. Re-Kreasi.
Re-kreasi bagi Wahdi adalah membuat kotak kaca sekira 60 x 60 x 15 cm. Kotak kaca itu berbentuk bujur sangkar, dengan bagian tengahnya kotak kosong. Kekosongan ini dilengkapi silider kaca, Berdiameter sekira `15 cm. Bertinggi 40-50 cm. Silinder kaca ini diisi kapuk, sejemput. Silinder ini ditutup dengan kaleng. Diujung kaleng ada blower kecil. Bila blower dihidupkan, kapuk berputar. Mengitari dasar dinding. Ringan tak bertenaga. Sepertinya belajar rido dan pasrah. Lalu sepasang ikan Nilem, bergerak di air bening, mengitari kotak kaca. Di dalam kotak kaca. Ada dua putaran pada dua obyek berbeda, Sang ikan dan sang kapuk. Kenapa ikan bergerak? Karena di ujung kiri ada pipa udara yang menghembus air tersebut. Ikan dan air bergerak.
Ya,”kitalah ikan, sepasang ikan yang selalu ada dalam situasi (apapun). Kitalah kapas, yang (juga) bergerak dalam ke’takmampuan kita” kata Wahdi ketika saya tanya. Kebergerakan kedua ‘obyek’ rupa ini ditaburi cahaya lampu neon di dua sisi kotak ‘akuarium’. Ada efek cahaya. Ada efek optik. Sementara ruangan 5 x 5 x 4 meter di ruang GalKit itu bergelap. Poek mongkleng buta (teu) rajin. Judul karyanya ‘Dual’? “Sifat dan obyek yang (bersifat) berdua dan selalu mendua di alam semesta” kata Wahdi lanjut.
Toufiq P. Wisesa ‘menganggap’ wajah sebagai pusat identitas tubuh. Dan wajah itulah yang dieksplorasi Toufik. Gambar wajah dipindahkan, tak mesti komplit. Tak mesti sama dengan wajah (figure, image) aslinya. Bebas saja. Bahkan Figur itu (bisa) menjadi brantakan. Aneh. Samar. Buram. Faceless face. Less is still face. Masih ada sih kesan bahwa itu figur. ‘It was a figure’. Atau ‘the figure was once there’. Sang wajah itu pernah disana. Ungkapan dalam past tense bahasa Inggris menjadi lebih mengena menerangkan karya Toufik. Bagi saya ini sejenis keberanian mengeksplorasi ada dan tiadanya sesuatu. Ada wajah diubah menjadi ‘bekas wajah’. Ini agak astonishing juga, Pik!.
Nur Fatiyah terpesona kehidupan. Maka dia memilih tema/judul “Life Amazement”. Pesona hidup. Magic of Life. Dipilihlah kuntum bunga. Yang dieksplorasi abis, dan di”rupakan” dalam karya. Dalam suatu triptik dibikinlah serangkaian lukisan bunga teratai. Yang mengembang, Yang memuitik berputik puitis. Poetical banget. Lalu benang sari diekspos dalam zoom in. Amazing banget. Dalam karyanya Spread 1 dan Spread 2 kembali ke keindahan puitis, keindahan bunga, keindahan benang sari yang dihembus angin dilampiaskan dalam warna warni di kanvas. Printing. Digitalisasi. Jadinya semburat yang halus, yang menkuntum. Yang membenang sari. Indah . Lembut. Ranum. Syahdu. Keunggulannya pada komposisi keberbungaan. Berbagai warna-warna.
Saya menangkap ketajaman motherhood (keibuan, kerahiman) yang membawa Fatiyah ke wilayah atau domain beginian. Saya fikir keterpesonaan pada/atas hidup itu mesti atau setidaknya patut atau seyogyanya (should) ditemukan agar segala sesuatu (yang ada di kolong langit ini) dilihat sebagai : amazement yang amazing sehingga manusia menjadi being amazed by God’s creativity.
Tema taman kanak-kanak dengan rincian skrip”kin-der-gar-ten series” diolah Kiki RS Putri. Ada kolase membentuk ayunan. Tangga besi berulang. Sosorodotan. Kanvasnya dari kaca bening. Beningnya menembus dinding. Dinding putih. Lalu ada kertas putih di bingkai 40 x 60 cm ini. Ada figur menyiratkan anak-anak main ayunan. Figur ini dari benang. Dari kertas. Seperti kolase anak-anak TK. Kin-der-gar-ten. Kekuatan Putri ada pada komposisi. Pilihan benang sulan yang membentuk figure atau obyek kolasenya, Komposisi warna. Ke-TK-an, artinya juga: kepolosan, keceriaan, kegembiraan di awal balita kehidupan. Dua puluh limaan karya bening kaca ini, memenuhi ruang. Di pojok-pojok. Di dining-dinding. Keceriaan itu disebarkan. Diluaskan, Seperti kata Putri sendiri,”kin-der-gar-ten (I saw It Again and Again and Again…)”. Sepertinya kita diajak juga melihat keTKan dalam diri kita > lagi dan lagi dan lagi ….
Kalau yang berempat menata ‘kehalusan, kesederhanaan, keseharian, yang beraroma yin (lembut, halus, mengalir), Suklu tampil dengan tiga karya. Instalasi “Tai cacing goes to the World”. Berupa tai cacing yang disimpan dalam kaleng bersegi lima, Seperti bagian bawah cempor kampung. Ada tai cacing didalamnya. “Saya anak petani. Cacinglah yang menyuburkan tanah. Tai cacing berbulir, terpilin. Kering kerontang. 200an kaleng mungil ditata. Berjenjang. Menumpuk. Berserak. Berirama tak teratur. Tapi teratur karena ada balok penyangga. Teratur, tapi tak disusun rapi. Seperti apa adanya. Who cares for worm’s shit?
Padahal karena cacinglah tanah gurun dugemburkan. Tanah padas dilunakkan. Tanah pasir dilembutkan. Yang menarik lima puluhan kanvas mungil sekitar 20 x 15 cm didrawiningi. Dibuat drawing diatasnya. Dengan charcoal alat ekspresinya. Terekspresikan garis tebal )tak_ berstruktur. Bebas dan melayang. Drawingnya bermacam macam. Menyiratkan ada figure. Ada tubuh. Atau tubuh atau tubuh-tubuh di tiap keeping kanvas tersebut. Satu, dua, tiga, atau empat, lima tubuh. Ada rasa “kubistis” namun tak terasa Picasoistis.
Figur itu seperti terpilin. Seperti bertumpuk. Seperti mengangkangi. Menyiratkan gerak. Mensuggestikan dinamika. Menyuruh berpikir pada kelembutan via kehalusan charcoal. Saya menyebutnya tematik “kamasutra kubistik Klungkungan”. Yang ini bikin saya ‘gerah’ dan gelisah. Ini punya aura “yang” sebagai pembanding 4 orang perupa(wan) lain. Weleh-weleh!
Yang ketiga adalah karya “kolaborasi” sekeluarga. Drawing anggauta keluarganya dirangkai bersama. Sebut saja karya ini “keluarga bahagia”. Karya ini pasti kategorinya ‘dokumentasi keluarga’. Tak Cuma itu, Prof. Yakob Sumardjo, yang sedang memberikan kuliah difilmkan juga olehnya. Dokumentasinya ditayang di ruangan. Sehingga ruang tempatnya berpameran mengingatlkan khalayak akan suasana kuliah.
“Walaupun” pameran ini “cuma” syarat perkuliahan (di semester 3, S2 – FSRD, ITB), namun kesungguhan kelima seniman (dan juga akademisi, tentunya) dalam berkarya, mempersiapkannya sebagai ‘persembahan’ pada publik, patut diapresiasi publik kota. Dalam dua ajektiva ‘sederhana’ dan ‘keseharian’, saya sepakat dengan Seriyoga, Dalam keberadaan tema (re-create) yang mereka usung, rasanya ada energi untuk dibagi, ada rasa untuk dipercaya, ada aura untuk divibrasikan. Setidaknya bagi saya: kesederhanaan dan kehalusan. kelembutan keseharian bisa menjadi benih Kesadaran! Gak percaya? Datanglah ke GalKit Riau, euy![]
* Seniman dan Penulis lepas, tinggal di Bandung
Filed Under: visual arts


wah,keren.sukseme kang wawan,
juga untuk diskusinya yang seru..