Tubuh yang Runtuh

Oleh Adi Marsiela
Empat orang itu muncul satu persatu dari balik tirai di Gedung Kesenian Dewi Asri Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, Senin (12/10) malam. Salah satunya perempuan. Yang pria memakai celana ketat panjang berwarna kulit. Sedangkan yang perempuan mengenakan atasan berwarna merah.
Mereka lantas bergerak ke empat tiang bambu yang menjadi sumbu di panggung. Pada bagian tengah, tampak sesosok penari dengan topeng berwarna putih. Sosok ini seperti berdiri di atas penampang air.
Masing-masing memegang tiangnya, sebelum mereka mengambil topeng yang ada di bagian bawahnya. Pelan-pelan, topeng yang terpengaruh dari Tari Topeng yang berkembang di daerah Cirebon dan Indramayu itu menutupi wajah mereka.
Topeng itu semakin lama terlihat semakin nyaman dipakai. Sampai Dian Lugina yang memerankan Rumiang membuka kedoknya. Meski tampak kebingungan, pelan-pelan dia tampak kembali mendapatkan kenyamanannya tanpa memakai topeng.
Namun begitu semua orang berhasil membuka topengnya, sesosok raksasa berwarna merah datang dan melakukan teror. Dia memaksa agar mereka kembali mengenakan topeng yang sudah dipecahkannya. Upaya memaksa dengan membunyikan cymbal sebagai bentuk tekanan itu tidak membuahkan hasil, malah raksasa itu yang jatuh ke bumi.
Begitulah sepenggal teater ‘Puisi Tubuh Yang Runtuh’ karya sutradara Rachman SaburĀ yang tampil pada hari pertama Festival Seni Nusantara 2009. Lewat karyanya, Rachman tampak ingin mengembalikan seni tradisi lokal sebagai pegangan dari seni pertunjukkan yang dilakoninya.
Menurutnya, seniman harus menengok kembali ke akar teater Indonesia, teater rakyat atau tradisional. Tanpa menggunakan dialog atau kata-kata, sutradara yang sudah menelurkan 80 karya sejak tahun 1982 tetap bisa menyampaikan pesannya. “Kita sudah lama menggunakan topeng yang bukan milik kita, mengambil (naskah) dari barat padahal bukan akarnya. Memakai topeng itu bagian dari pembunuhan karakter, kita tidak bisa memperlihatkan jati diri,” tegas dia.
Sebelum Rachman, koreografer Dindin Rasidin menampilkan pertunjukkan tari kontemporer ‘Pasundan Menangis’. Tarian yang dibawakan oleh tiga orang ini terinspirasi dari gempa yang mengguncang Jawa Barat bagian selatan, awal September lalu.
Dalam tariannya, Dindin menggambarkan semua cobaan pasti bisa dilalui oleh manusia asal mau saling berbagi. Tiga penari yang tadinya bergerak sendiri-sendiri di bagian awal, mulai terlihat saling mengangkat dan mendorong pada bagian akhirnya.
Rangkaian festival ini sendiri dibuka dengan pertunjukkan seni barongsai dari Perkumpulan Naga Merah. Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung Enoh mengatakan kegiatan ini merupakan upaya dari pihaknya untuk membuka ruang -ruang kreativitas yang mengikutsertakan beberapa wilayah kesenian.
Dalam penyelenggaraannya yang pertama, sambung Enoh, festival ini memang baru diikuti oleh beberapa seniman dari Bandung dan Solo. Secara umum ada empat kelompok. Tari kontemporer, teater, musik, dan teater tari. “Ke depannya kita harapkan bisa menampung teman-teman yang ingin berpartisipasi dari daerah lain,” katanya. []
Filed Under: festival

