Semua Sama di Bawah Satu Langit

Sutradara film dokumenter “Under One Sky”, Gabriela Krista Lluch Dalena menunjukkan foto istri dari calon gubernur Provinsi Maguindanao, Ismael Mangudadatu yang terbunuh dalam pembunuhan massal di Kota Ampatuan, Filipina Selatan.
Oleh Adi Marsiela
Langit di atas Maguindanao masih cerah. Awan putih berarakan dengan warna biru di belakangnya. Pemandangan ini seperti saat peristiwa berdarah yang mengguncangkan Filipina, 23 November lalu.
Sebuah backhoe milik Provinsi Maguindanao masih tetap di posisinya. Bedanya, kali ini dia menggali kuburan massal di bawahnya. Satu persatu, jenasah dan bangkai mobil yang ditimbunnya empat hari lalu, kembali diangkat.
Puluhan mayat terangkat bersama tanah yang sudah menimpanya. Polisi lantas menutupi mayat-mayat itu dengan daun atau kertas seadanya. Tidak ada yang selamat dalam pembantaian yang menewaskan 57 warga sipil itu. Belakangan diketahui, 31 orang di antaranya adalah jurnalis.
Gabriela Krista Lluch Dalena (34) berhasil mengabadikan peristiwa kelam yang didalangi oleh penguasa di Provinsi Maguindanao itu dengan kamera videonya. Bersama rekannya, Patricia Evangelista yang berprofesi sebagai jurnalis dari ANC News Channel Filipina, mereka merangkainya menjadi film dokumenter berdurasi 30 menit. Judulnya Under One Sky. Film itu diputar di Komunitas Common Room, Bandung, Rabu (16/12) lalu.
Kiri -sapaan akrab Gabriela- lantas membawa penonton pada lirihan keluarga dan kerabat korban. Yang pertama keluarga Noel Desena. Sehari-hari, Noel bekerja sebagai manajer sirkulasi Periodico Ini. Noel mendapat penugasan dari kantornya meliput pendaftaran Ismael Mangudadatu sebagai calon gubernur Provinsi Maguindanao di selatan Filipina.
Ismael Mangudadatu memang berniat melawan dominasi klan Ampatuan, yang sudah 10 tahun ini menjadi gubernur di sana. Merasa jiwanya terancam, dia mengutus istri, saudara, pengacara, serta rekannya di partai politik untuk mendaftarkan diri. Sebagai jaminan agar keluarganya tetap dalam kondisi aman, Ismael juga mengundang wartawan untuk meliput proses pendaftaran itu.
Naas. Rombongan itu malah dicegat dan ditembaki oleh milisi yang didanai klan Ampatuan di Kota Ampatuan. Noel yang berada dalam rombongan ikut menjadi korban. Air mata masih terlihat basah di pipi Joseph Decena, adik Noel. “Yang saya ingat, kami sempat bersenang-senang. Tapi itu untuk terakhir kalinya,” kata dia sembari memegang foto kakaknya.
Menurut Kiri, selain backhoe itu, bukti lain yang menyatakan keterlibatan klan Ampatuan adalah kehadiran Wali Kota Datu Unsay, Andal Ampatuan Junior di lokasi pembantaian. “Toto (Mangundadatu) mendapat informasi itu sesaat sebelum penembakan terjadi lewat teleponnya.”
Memasuki menit ke-sembilan, film ini menayangkan foto-foto korban dari lokasi kejadian. Kali ini, giliran keluarga Nonie dan Cecil Lechonsito. Saat kejadian, mereka tengah menuju ke rumah sakit. Namun, mobil Toyota Vios warna merah yang mereka kemudikan ikut digiring dan diberondong peluru.
Kedua anaknya, Honey dan Sugar Lechonsito menangis dan mengutuk kejadian ini. Awalnya, hanya Sugar yang mau berbicara soal kehilangannya. Belakangan Honey ikut bersuara dan menangis sekeras-kerasnya. Dia sampai tidak bisa berkata-kata lagi. “Saya ingin keadilan,” tegasnya.
Seruan lebih keras datang dari anak ke-sembilan almarhum Andy Teodoro. “Saya ingin mereka (para pembunuh) itu menghilang.”
Dalam film dan penjelasannya, Kiri mengaku gambar bachkhoe itu sebagai benang merah dari kejadian sebelum dan sesudah pembunuhan. Menurutnya, backhoe yang dipakai untuk mengangkat para korban itu, sebelumnya dipakai menggali kuburan massal bagi lawan politik Ampatuan.
Peraih Ateneo Art Awards for Contemporary Artists 2009 ini memaparkan film dokumenter ini baru pertama kali diputar di Filipina. Di negaranya, film itu diputar lewat jaringan tivi kabel. Kiri mengakui proses pembuatan film itu termasuk singkat.
Namun, pemutaran film dalam waktu yang cukup dekat dengan pembuatannya itu diharap bisa memberikan advokasi terkait kasus itu. “Semua usaha harus dilakukan. Buat kami ini bagian awal, sementara yang lain juga terus bergerak. Jurnalis juga harus terus menulis,” terangnya.
Perempuan yang mengawali karirnya di bidang film pada tahun 1996 ini mengaku menghabiskan 12 kaset dalam proses pengambilan gambar. Meski hanya menggunakan stok gambar selama 30 menit dari total 12 jam, pesan yang coba disampaikan oleh Kiri cukup jelas. “Di Filipina ada ketidakadilan buat korban banyak sekali dan sudah lama. Ini tragedi yang sangat besar untuk dihindari.”
Berdasarkan catatannya, sejak Presiden Gloria Arroyo Maccapagal memerintah tahun 2001 sampai tanggal 31 Oktober 2009, telah terjadi 1.118 kasus pembunuhan tanpa proses peradilan. Itu belum termasuk 204 kasus penghilangan orang. “Yang jadi korbannya, jurnalis, aktivis, dan pimpinan serikat buruh,” kata dia.
Berbeda dengan film Balibo, yang diputar setelahnya, film karya Kiri terbilang lebih menguras emosi penontonnya. Padahal, Balibo menunjukkan peristiwa invasi tentara ke Timor Leste yang disertai adegan penembakan ke Roger East, wartawan Australia di dermaga. “Setiap selesai mengambil gambar saya meneteskan air mata. Tapi kesedihan saya jadi tidak berarti dibandingkan dengan yang dirasakan para keluarga korban,” ujarnya.
Seorang dosen ilmu komunikasi Universitas Gajah Mada sekaligus pemerhati film asal Yogyakarta, Novi Kurnia mengungkapkan pembuatnya berhasil membuat sebuah film yang sangat humanis terkait adanya tragedi kemanusiaan di Maguindanao. “Tidak perlu dengan gambar-gambar yang keras,” kata Novi.
Dia juga memahami kalau gaya pengambilan gambar lebih terkesan seperti video jurnalis dibandingkan sebuah film dokumenter. “Karena proses pengambilan gambar dan suara itu dia lakukan sendiri.”
Terkait dengan judulnya, Kiri mengungkapkan seharusnya semua orang bisa hidup berdampingan secara damai. Karena semua tinggal di bawah satu langit. “Kejadian ini juga korbannya tidak hanya dari Kristen, tapi juga dari Muslim. Semuanya sama,” kata dia.
Saat mencari pas foto jurnalis yang menjadi korban, Kiri menemukan kesamaan. “Kebanyakan latar belakangnya itu langit berwarna biru dengan awan putih,” ujar Kiri. []
Filed Under: indie movie

