banner ad

Semangat itu Dari Setitik Api

ary juliant-adi

Oleh Adi Marsiela

…janganlah menangis,

janganlah bersedih,

oh Indonesia,

kami berdiri,

menjagamu berdiri…

Begitulah pesan yang La Yala Krisna Patria Roesli coba sampaikan saat menutup pentas “Titik Api” di Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Jumat [05/06/09) malam. Dia meminjam suara almarhum ayahnya, Harry Roesli untuk membawakan lagu berjudul “Jangan Menangis Indonesia”.

Mendengar suaranya, saya langsung teringat acara perenungan bersama di kampus Universitas Katolik Parahyangan tahun 1998 silam. Saat itu, pemusik unik bernama lengkap Djauhar Zaharsjah Fahrudin Roesli menyanyikan lagu yang sama. Dia berpesan agar kita semua kembali bangkit dan membangun Indonesia 'yang baru' bersama-sama.

Kali ini pesan serupa disampaikan oleh Yala bersama teman-teman dan murid-murid almarhum yang tergabung di Rumah Musik Harry Roesli. Pagelaran yang memakan waktu sekitar dua jam itu diawali pengantar Aat Soeratin, salah seorang sahabat Harry Roesli.

"Kami mencuplik, memberi highlight pada karya almarhum untuk memperlihatkan seperti apa pergaulan musiknya," kata Aat seraya memakai baret hitam berbintang milik Harry Roesli yang sudah diberikan kepadanya.

Pergelaran ini merupakan lanjutan dari "Titik Api" pertama, yang sukses diselenggarakan oleh Komunitas Teater Salihara, di Pasar Minggu Jakarta Selatan, 4 Maret silam. Waktu itu, kata Aat, hanya pemanasan untuk tampil di Bandung.

Yala yang bertindak sebagai pengarah musik bersama Ruli Hairul Handiman memutarkan suara almarhum dari sebuah pengeras suara untuk membuka pertunjukkan. Alat itu ditaruh di atas meja kerja milik Harry Roesli lengkap dengan lampunya yang tidak pernah dimatikan sesuai wasiat almarhum.

Suara itu menjadi pengantar untuk paduan suara Universitas Padjadjaran, gamelan Universitas Pendidikan Indonesia, Ajat dan Aci (kibor), Arie Firman (bas), Agus Aziz (drum), Topan dan Badira (gitar), dan Icha (perkusi) memberikan efek megah pada lagu "Oh Tuhan Bawalah Saya Pulang" yang memang diisi dengan narasi dan nyanyian asli almarhum. Dua penyanyi latar, Lia dan Lea ikut mengiringi.

Kesan megah langsung terasa dalam lagu pertama. Yala yang bertubuh tambun itu bertindak sebagai konduktor. Dia hanya menggunakan kedua tangannya untuk menyelaraskan beragam instrumen musik yang ada. Saat tangannya diangkat sembari bergetar, maka musik yang keluar juga terasa keras dan membahana.

Memasuki lagu kedua, Kerak Bumi yang digubah Harry pada tahun 1975 sebagai intro untuk Rock Opera Ken Arok itu dinyanyikan bekas vokalis Seurieus Band, Candil. Lengkingannya yang tinggi menghidupkan lagu ini.

Belum lagi pria ini keluar panggung, deru motor sudah bergaung di arena. Irfan Fahri Lazuardy atau akrab dipanggil Ipang masuk ke dalam arena dibonceng di atas sepeda motor BMW hitam. Berpakaian serba hitam, penyanyi grup musik BIP melantunkan "Aku Ken Arok". Lagu yang syairnya menyiratkan tentang seseorang yang merelakan uangnya untuk dana kampanye, lalu merugi.

Pertunjukkan terus berlanjut dengan penggalan suara almarhum kala membawakan refrain dalam album Titik Api yang dirilis pada tahun 1976. "dina hate nu daria/ Da-mi-na/ Dipibanda ku balarea/ Ngan hanjakal nyatana/ jadi pacengkadan// (Dalam ketulusan hati/ Da-mi-na/ Dimiliki semua orang/ Namun, sayangnya, kemudian/dijadikan perbantahan//).

Narasi itu mengawali sebuah perpaduan musik diatonik dan pentatonik dalam instrumental Kembang Jepun. Sederhananya dalam instrumen itu, musik gamelan dikawinkan dengan musik band. Saat pertama kali dibawakan, almarhum pernah dipermasalahkan, dicurigai, dan dianggap gegabah. Padahal, almarhum hanya menyandingkan keduanya agar selaras dan tetap enak didengar. Perpaduan itu pula yang tersaji, malam kemarin.

Selepas itu, Sekuntum Kembang, sebuah lirik lagu yang ditulis oleh N. Riantiarno dan melodinya digubah Harry Roesli ditampilkan. Adalah murid almarhum Netta Kusumah Dewi yang didaulat membawakan lagu tersebut. Lagu ini dipinjam dari "Opera Julini" garapan Teater Koma.

Kesan megah itu kembali terasa saat Dira J. Soegandi menyanyikan Sejuk dan Teduh. Suaranya yang kuat dan panjang itu terasa bergetar hingga ke dada.

Kakak beradik Trie Utami dan Purwacaraka juga ikut menambah semarak acara ini. Mereka berdua tampil sepanggung untuk mengekspresikan lagu bertema religius yang liriknya ditulis Aat Soeratin dan melodinya digubah oleh almarhum. Trie membawakan lagu Manusia Baru itu dengan penuh penghayatan diiringi permainan jemari Purwacaraka di atas kibor.

Acara malam itu memang sengaja digelar untuk menyadarkan kembali masyarakat akan semangat Harry Roesli. Semangat itu, setidaknya bisa didengar dari lirik-lirik lagu karya almarhum. Sebut saja, Orang Basah, Malaria, Kaki Langit, dan Hidup Lebih Kejam dari Peperangan.

"Bicara tentang karya almarhum, saya awalnya enggak suka. Riweuh, ribut. Saya ingat perkataan Eyang yang bilang, mbok ya kalau bikin musik itu yang enak didengar gitu loh. Setelah saya coba resapi ternyata memang ada yang berbeda dari karya beliau. Ini soal kejujuran dalam berkarya," ungkap Yala.

Sebelum wafat pada 11 Desember 2004, suami Kania Perdani Handiman ini sempat menggeluti musik hingga mendapatkan gelar Doktor Musik dari Rotterdam Conservatorium, Belanda. Dia juga aktif mengajar di Jurusan seni musik pada beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.

Sejumlah album yang dihasilkan seperti Philosophy-Gang of Harry Roesli, Titik Api, Ken Arok, Musik Sikat Gigi, sarat dengan lagu-lagu kritik sosial. Dia juga aktif membimbing anak-anak jalanan dan pengamen belajar musik.


Hasilnya, Rumah Musik Harry Roesli tetap memelihara sekaligus melanjutkan cita-cita almarhum. Semoga semangat ini seperti Titik Api yang tetap bisa menerangi sekelilingnya. [FB]

Filed Under: music

Tags: , , ,

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.