Perempuan Kena Kunduran Truk Pantura

Oleh Argus Firmansah
Limapuluh enam [56] truk cantik nan artistik, bahkan mengesankan lucu ketika diapresiasi publik mengisi ruangan sempit Kersan Art Studio yang berada di tengah pemukiman warga di Kersan Art Studio, Dusun II Kersan 154, Kelurahan Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan-Bantul, Yogyakarta, pada Sabtu [30/05/09] malam. Pameran seni rupa “Kunduran Truk ” berlangsung sejak 30 Mei sampai 14 Juni 2009 ini dikurasi oleh Arahmaiani.
Antrian truk-truk unik itu bukan truk sebenarnya.
Objek seni itu adalah mainan anak-anak berupa truk yang dibuat dari bahan kayu. Tapi ada juga dari plastik. Mainan itu dihadirkan sebagai objek seni. Dapat pula dikatakan sebagai representasi dari respon 56 perupa yang didominasi oleh kaum perempuan tentang truk-truk yang bersiliweran di jalur Pantura.
Bonita Margaret melalui karya “Biarkan Aku Bertumbuh” misalnya, membuat metafora perempuan sebagai truk yang menampung segala penanda kebudayaan dan ingin keluar dari batas-batas sistem budaya partriarki yang diciptakan oleh laki-laki. Bagi Bonita budaya patriarki ini sudah mendominasi.
Selanjutnya pada karya Caroline Rika Winata dengan truk unik berjudul “Punya Mama” juga mengungkap persoalan dominasi budaya laki-laki melalui kehadiran idiom usus babi. Usus babi dicitrakan Caroline Rika Winata sebagai ego laki-laki yang terkatagori sebagai makhluk ‘pemakan segala’.
Selain Bonita dan Caroline, para perupa yang terlibat dalam pameran ini antara lain anggota komunitas Perempuan Eksperimental (PEREK), Arya Pandjalu, Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Arya Sukma, Arya Sukapura Putra, Budi ‘Bodonk’ Prakoso, Eddi Prabandono, Galuh Sekartaji, I Made Aswino Aji, I Made Suarimbawa, I Made Widya Diputra, Purnomo, S. Teddy D., Samuel Indratma, Sigit Bapak, Ugo Untoro, Yustony Volunteero.
Tidak hanya persoalan budaya laki-laki yang menghegemoni.
Pameran ini ingin membuka persoalan sosial masyarakat Pantura yang dalam ingatan kolektif terhubung pada truk-truk gandengan atau truk yang mengangkut sayuran untuk santapan masyarakat kota. Dengan kata lain truk-truk itu dipilih tidak sekadar sebagai medium artistik atau ungkapan personal para perupa.
Romo Subanar membaca kehadiran truk-truk dalam konteks sebenarnya sebagai petanda kebudayaan yang dianak-tirikan dalam kehidupan masyarakat kota.
Pameran “Kunduran Truk” yang diinisiasi oleh kelompok seniman Perempuan Eksperimental Jogjakarta ini dinilai mampu memecah kebekuan seni rupa Jogja.
“Seniman yang berpameran ini sudah berhasil memecah kebekuan seni rupa di Jogjakarta. Setelah sibuk berproduksi dan jualan karya,” kata Arahmaiani, kurator pameran.
Yang menarik bagi Arahmaiani dalam pameran bersama kali ini adalah proses kreatif dan pengolahan gagasannya tidak instan serta tidak berorientasi pada pasar seni objek yang saat ini sedang ramai sebagai komoditi seni rupa. [FB]
Filed Under: visual arts


Untuk Mas Argus dan Frino,
Kersan Art Studio mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas liputannya untu acara Pameran “KUNDURAN TRUK” semoga bisa bertemu kembali di acara Pameran yang lain, sekali lagi matur nuwun ya
salam,
Nien Dhita