Drawing Indonesia

Oleh Argus Firmansah
Lima puluh tiga perupa muda sampai pelukis maestro, Srihadi Soedarsono, berpameran bersama di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, yang dibuka oleh Miranda Gultom pada Selasa [16/06/09] malam. Pameran itu bertajuk Indonesia Contemporary Drawing dengan menyajikan 73 karya dari perupa Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya dan Bali. Pameran itu dikurasi oleh Asmujo Jono Irianto dan Hardiman yang berlangsung pada 16 Juni - 24 Juni 2009.
Karya-karya dua dimensi yang disajikan para perupa meliputi medium kanvas dan kertas dan satu perupa dari Bali menggunakan medium kayu; Wayan Sudiarta. Produksi artistik para pelukis dikurasi persoalan teknik menggambarnya. Tak heran bila beberapa perupa menampilkan lukisan [bukan drawing] dengan teknik produksi drawing.
Srihadi Soedarsono melalui karya drawing-nya yang berjudul “Orang-Orang Marjinal” berukuran 110 x 263 cm menggunakan medium charcoal di atas kanvas cukup menarik untuk dikaji secara perupaan. Garis dan komposisi Srihadi Soedarsono dalam merepresentasikan objek figur manusia terpinggirkan secara simbolik masih kuat dengan kekuatan coretan charcoalnya. Konsep seni dengan nilai universalitasnya masih konsisten pada karya Srihadi Soedarsono dalam bentuk drawing.
Karya Drawing abstrak figuratif dengan objek manusia tidak hanya digarap oleh Srihadi Soedarsono, I Wayan Sujana [Suklu] melalui “Lanscape Anconscious” berukuran 300 x 180 cm dengan medium charcoal di atas kanvas juga menggarap tema persoalan sejenis. Suklu mengeksplorasi sublimasi kehidupan manusia saat ini yang berjibaku dengan kompleksitas persoalan ruang sosial dan ranah kekuasaan yang ada di dalamnya.
Empat puluh empat wajah anonim muncul sebagai kumpulan potret sejarah yang berkaitan dengan masa Kolonial di tanah Jawa. Drawing berjudul “Anyer - Panarukan#3” karya Ugo Untoro dengan medium ballpoint, caffeine di atas kertas berukuran 115 x 354 cm membuka ingatan kolektif penikmat Drawing pada sejarah kelam bangsa Indonesia pra-kemerdekaan.
Pameran “Indonesia Contemporary Drawing” secara politis ingin memposisikan drawing atau sketsa perupa Indonesia sebagai karya yang utuh dan finished. Akan tetapi tema garapan ini tidak diikuti secara konsisten oleh perupa lainnya yang menampilkan lukisan biasa.
Perupa yang konsisten dengan wilayah artistik Drawing selain Srihadi Soedarsono, I wayan Sujana [Suklu], Ugo Untoro dan Agung Kurniawan dalam pameran tersebut antara lain Tisna Sanjaya, R.E. Hartanto, Dede Wahyudi, Aditya Pramuhendra, dan beberapa perupa dari 53 perupa lainnya.
***
Pameran besar bertajuk “Indonesia Contemporary Drawing” itu menembus batas wilayah drawing karena pada kenyataannya memang ada beberapa seniman menampilkan lukisan seperti pada umumnya pameran lukisan. Hal itu yang kemudian menyulut kritik pengurasian karya yang dipamerkan. Yaitu batas anatara produksi drawing [gambar] dan painting [lukisan].
Wayan Sudiarta menyajikan karya berupa objek berbentuk telur-telur raksasa yang digambari dengan bentuk gesture-gesture sensual pada permukaan objek telurnya. Sudiarta bicara siklus kehidupan manusia yang tidak lepas dari kegiatan seksual.
Karya Agus Suwage juga hadir dalam pameran tersebut dengan medium akrilik di atas kanvas yang berjudul “Artis Ingusan”. Sama halnya dengan perupa yang lain, karya para perupa yang katanya menyuguhkan karya Drawing-nya itu malah menghadirkan lukisan dan dominan menggunakan kanvas.
Barangkali dua kurator pameran dan Andi’s Gallery secara non-verbal ingin menyatakan bahwa Indonesia Contemporary Drawing tidak saja menampilkan karya-karya Drawing dalam pemahaman yang sebenarnya, tetapi mengikutsertakan lukisan pada umumnya. Medium kanvas juga menjadi subject matter untuk kepentingan market karya perupa saat ini, sehingga persoalan konsep produksi artistik dikesampingkan untuk kepentingan pasar seni rupa yang tengah terpuruk saat ini.
Miranda Gultom dalam sambutannya mengatakan bahwa kesenian merupakan wilayah cair dan bebas untuk berekspresi. Kata Kebebasan berekspresi dalam sambutan Miranda Gultom seakan menjadi pembenaran bahwa pameran itu menyajikan ‘drawing’ para perupa bukan lukisan.
Karya Drawing dalam pameran tersebut menjadi bias dan samar ketika medium selain pen, ink and wash, charcoal, conte, colored pencil, seperti cat minyak dan akrilik di atas kanvas menjadi medium artistik pada beberapa perupa yang katanya menampilkan karya Drawing. Padahal jelas-jelas adalah lukisan.
Andi’s Gallery dan para kuratornya seolah meniscayakan wilayah artistik yang dipamerkan serta tidak konsisten dengan kuratorial karya-karya Drawing para perupanya. Juga tidak ada persoalan yang signifikan dalam medan sosial seni saat ini. Dengan kata lain, pameran itu secara implisit hanya berada di wilayah pasar seni rupa kontemporer saja. []
Filed Under: visual arts

