Musik Pek-Bung Riwayatmu Kini

Oleh Eko Nuryono
Inilah kelompok musik yang masih teramat sederhana. Alat musiknya terbuat dari bambu dan tembikar yang mereka buat sendiri. Suara bambu menghasil nada yang berbunyi ‘Pek’ dan suara tembikar yang dikasih karet ban menghasilkan nada berbuynyi ‘Bung’, maka musik ini kemudian dinamai musik ‘Pek-Bung’.
Kelompok musik ini pula merupakan salah satu yang kini masih bertahan di sebuah desa Wijirejo, Pandak, Bantul, Yogyakarta. Namun jangan remehkan, kelompok musik ‘Pek-Bung’ ini memiliki sejarah panjang. Musik ini telah ada mulai sejak tahun 1942. Menurut Pardiyono, ketua Orkes Pekbung ‘Laras Siti Sewu’, pada tahun awal berdirinya musik ini banyak melagukan nyanyian-nyanyian dengan bahasa Jepang.
Berbeda dengan karakter lagu pada kelompok musik tradisional jaman itu, kelompok musik ‘Pek-Bung’ lagu-lagunya memikili karakter riang, maka rata-rata lagunya seperti mars. Lagu-lagu yang sering dimainkan pada jaman dulu antara lain: Soleram, Gembala Sapi, Ole Rio, dll.
Pada awal tahun 60-an banyak juga lagu-lagu dari kelompok saya kiri yang sering dinyanyikan, semisal lagu ‘Genjer-genjer’. Pada masa itu musik pek-bung juga dikasih sentuhan dengan tari-tarian, atraksi sulap. Maka tidak mengherankan jika setiap ‘Pek-Bung’ pentas selalu dipenuhi ribuan penoton dari masayarakat sekitar. Boleh dibilang tahun 1950-1960-an itulah, musik ‘Pek-Bung’ menglamai masa kejayaannya.
Pasca meletusnya G30S/PKI, musik ‘Pek-Bung’ mengalami masa surut secara perlahan. Terlebih awal 1980-an TV mulai masuk, secara perlahan namun pasti membuat musik ini kian ditinggalkan masyarakat. Dan kini musik ‘Pek-Bung’ boleh dikatakan telah mengalami mati suri.
Untungnya masih ada seklompok orang yang kini tetap bertahan untuk terus mengembangkan jenis kesenian musik ini. Entah sampai kapan, mampu bertahan? [FB]
* Untuk mengetahui lanjut tentang musik ini silakan hubungi Eko Nuryono di : pendekarrambutseratus@yahoo.co.id
Filed Under: music

