Benda yang Mengingat

Oleh Heru Hikayat
Bulan Mei kiranya menjadi waktu yang baik bagi Bangsa Indonesia untuk merenungkan soal sejarah yang tak hanya berisi sejumlah ingatan tapi juga lupaan.
Tragedi Mei 98 hingga kini tak jelas pengusutannya. Penguasa kini terlalu sibuk dengan berbagai agenda reformasi dan di dalamnya tidak termasuk penuntasan berbagai-bagai kasus pelanggaran HAM. Tidak terdengar komentar tokoh-tokoh politik tentang tragedi Mei 98 di tengah kesibukan mereka menghadapi pemilihan presiden. Penguasa sebagai penutur sejarah utama sedang menghembuskan angin lupa secara diam-diam.
Dalam situasi ini Midori Hirota seorang perupa asal Jepang kini menetap di Yogyakarta menyapa kita semua dengan pameran bertajuk “Memory of Asia”. Midori menyambangi orang-orang di beberapa daerah di Filipina, Bali, dan Blitar. Pada orang-orang yang ditemui Midori menawarkan tukar-menukar benda.
Midori mempersiapkan patung penggayaan manusia ukuran lebih besar sedikit dari genggaman tangan untuk ditukarkan dengan benda apa saja yang diinginkan oleh si orang yang dia temui. Orang tersebut kemudian diminta berpose untuk difoto sambil memegang patung karya Midori dan benda yang hendak ditukarkan.
Midori mengumpulkan amat banyak benda-benda kecil, foto-foto, juga rekaman video dan suara, dan merakit semua itu menjadi karya seni rupa. Pameran pertama telah berlangsung di Hall The Japan Foundation Jakarta April lalu. Sekarang pameran berlangsung di Selasar Sunaryo Art Space Bandung (8-23 Mei 2009) dan akan dilanjutkan di Bali pada September 2009.
Melalui gagasan ini Midori Hirota berhasil membangun konteks bagi benda-benda kecil itu. Mereka bernilai tidak sebagai benda semata melainkan suatu pemicu bagi ingatan. Suatu “monumen mini”. Pertemuan Midori dengan orang-orang di berbagai daerah tersebut bukan semata pertemuan orang dengan orang dan benda ditukar benda, melainkan pertemuan ingatan yang berbeda-beda. Hal ini berkaitan dengan perbedaan aparat pembentuk ingatan membentuk ingatan mengenai kejadian di masa lalu.
Avishai Margalit dalam buku “The Ethics of Memory” (Harvard University Press, 2002) membedakan communal memory dan shared memory. Kedua istilah sama-sama menunjuk kumpulan individu. Bayangkan sekelompok orang menyaksikan satu kejadian. Kejadian tersebut tercetak di benak setiap orang secara individual, dibentuk oleh sudut pandang pribadi, dipengaruhi lingkungan, waktu, dan lain-lain. Andai kejadian tersebut benar-benar berkesan bagi orang-orang yang menyaksikannya maka ingatan tentangnya akan disebarkan secara sukarela, dari ragam sudut pandang.
Makin lama kejadian tersebut akan makin hidup dalam ingatan, persis karena keragaman ceritanya. Itulah communal memory. Sebaliknya, shared memory merupakan ingatan yang telah mengalami penyuntingan dari suatu sudut pandang. Ingatan ini disiarkan pada benak orang-orang melalui sejumlah aparat pembentuk ingatan. Tidak terlalu penting apakah seseorang ada di tempat kejadian tersebut atau tidak, yang lebih penting adalah sudut pandangnya. Ketika seseorang nyata berada di tempat kejadian dan mengemukakan ingatannya berdasar sudut pandang pribadinya, yang akan diverifikasi bukan sekadar apakah betul ia berada di tempat kejadian melainkan seberapa sesuai ingatannya dengan memori yang telah terdistribusikan.
Midori yang telah tinggal di Indonesia sejak awal 1990an merasakan dampak perbedaan ingatan ini. Nurdian Ichsan (Dosen Seni Rupa ITB) dalam esai katalog menyinggung bagaimana setiap bulan Agustus ketika bangsa Indonesia suka cita merayakan kemerdekaan, Midori tak bisa tiba-tiba larut karena pada saat yang sama bangsa Jepang terbiasa mengenang kekalahan dan kepahitan perang. Dalam pernyataan tertulisnya Midori bahkan menekankan dirinya merasa “kurang nyaman dan benar…sebagai orang Jepang yang menyebut dirinya orang Asia”.
Pada penulis Midori bercerita ide proyek tercetus ketika tahun 2005 dalam sebuah program residensi di Filipina ia kebetulan bertemu orang tua yang mengalami masa Jepang. Ia terkejut dengan betapa berbeda ingatannya tentang masa Perang Dunia (PD) II dengan orang tua itu.
Bagi sebagian bangsa Asia hingga sekarang Jepang disebut-sebut sebagai bekas penjajah, tapi bangsa Jepang sendiri tentu tidak demikian mengenangnya. Pada kumpulan foto dan rekaman video dari Filipina tampak Midori menghadapi orang-orang ragam usia, mulai kanak-kanak hingga para sepuh. Ketika Midori melanjutkan proyek ini ia spesifik memilih Blitar—tempat sejumlah veteran PETA menetap—dan Bali—tempat ia pernah menetap. Kebalikan dengan responden di Blitar yang nyata-nyata veteran keunikan para responden di Bali dinyatakan dalam bahasa Midori: “orang bukannya berkaitan berkaitan Jepang sebagai tentara, tetapi sebagai orang biasa dalam PD II”.
Jadilah terkumpul sejumlah foto orang-orang tua. Midori mencetak foto-foto itu dalam nuansa sepia hingga berkesan nostalgia. Kesan yang juga menonjol selain usia senja dari subjek foto adalah betapa mereka adalah “orang biasa”. Sekalipun veteran penyandang gelar “pejuang kemerdekaan”, mereka bukanlah dari golongan “penting”. Mereka golongan orang yang tidak akan dirujuk dalam penulisan sejarah.
Sementara benda yang dipertukarkan sangat ragam tingkat keseriusannya. Mulai dari tali atau botol minuman yang sepertinya kebetulan dipegang oleh si responden saat pertukaran terjadi hingga benda “bersejarah” macam kliping pemberitaan pengadilan tentara PETA yang memberontak di tahun 1945.
Midori memajang foto-foto sepia itu dalam berbagai komposisi, menyandingi kumpulan benda-benda kecil, dikelompokan berdasarkan asal daerahnya.
Cara Midori memajang benda-benda itu membuatnya menjadi tampak berharga dan artistik. Kelompok benda asal Bali diberi bantalan mini dengan motif yang mengingatkan pada kebiasaan mereka meletakan sesajen, dan ditata dengan pola melingkar di lantai. Benda-benda dari Blitar dipajang di dinding dengan berbagai teknik, ada yang dimasukan dalam kotak kayu berdinding kaca, digantung, diberi bantalan beludru, dan lain-lain. Midori dengan demikian memberi tempat pada benda-benda kecil dan orang-orang “tak penting”.
Karya instalasi Midori, juga rekaman-rekaman pertemuan pada akhirnya menyapa pengunjung pameran tidak sebagai dirinya sendiri. Mereka semua merujuk pada suatu yang lain. Apa yang di dalam ruang pameran terhubung dengan hal-hal di luar melalui jaringan memori. Proyek pertukaran Midori memberi peluang bersuara bagi mereka yang biasa berada di pinggiran sejarah. Mereka yang hanya diberi tempat sebagai penonton dan tidak dianggap penting ingatannya.
Melalui karya seninya, Midori memberi tempat bagi memori komunal yang lebih ragam dan hangat dengan sentuhan pribadi, bukan memori yang biasa didistribusikan sejarah secara kering dan sombong mengklaim dirinya paling benar. []
* Heru Hikayat, kurator seni rupa, tinggal di Bandung
Filed Under: visual arts

