banner ad

Mimi Rasinah dan Televisi

rasinah-agus-bebeng

Oleh Agus “Bebeng” Hadyana*
Desa Pekandangan, Indramayu, di rumah seorang seniman tari dunia, aku dan beberapa kawan sedang menikmati suasana pagi. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba menjadi nelangsa. Tapi sang nenek tetap menghias wajahnya dengan senyuman. “Mimi Ras!” suaraku tertahan.

Mimi Rasinah dikenal sebagai seorang maestro Tari Topeng yang namanya dikenal di dunia internasional. Sosok perempuan yang menggeluti tari topeng khas Cirebon sejak kecil. Perjuangannya mempertahankan seni tradisi ini melebihi kecintaan dirinya sendiri. Setelah semua panggung ia lewati, kini ia tinggal menghabiskan sisa hidupnya.

Ada kesedihan luar biasa ketika melihat Mimi Rasinah digendong untuk dapat duduk bersama kami. Dia bukan Mimi seperti yang dulu pernah kulihat di atas panggung. Dulu, meski sudah uzur dan jalan digandeng sang cucu, bila sudah berada di atas paggung dan mengenakan Topeng Rahwana memainkan Tari Kelana, dia bukanlah perempuan tua yang ringkih. Mimi menjadi seorang gadis belia yang kasmaran. Aku ingat, Kelana Grandung yang dimainkannya mampu membuat penonton membatu. Dan masih terekam dalam batas ingatan, bagaimana decak kagum dan tepukan tak henti ketika Mimi usai menari. Bahkan sering penonton memintanya kembali memainkan kegelisahan sang Rahwana yang ingin memiliki Shinta.

Itu dulu. Kini, Mimi Ras sudah tak mampu lagi menjadi Rahwana atau Panji yang suci.

Stroke yang dideritanya sejak beberapa tahun terakhir membuat Mimi hanya duduk terdiam. Seperti rumput yang hanya bergoyang ketika angin membelai. Tak ada gerak keliaran atau gerak kesunyian yang terkelimun di balik tubuhnya berada di atas panggung. Dirinya hanya duduk dan sesekali terbatuk.

“Sekarang mah Mimi ga bisa ngapa-ngapain” ucapnya sambil menarik tambang penggoyang cicitnya tidur.
“Gini ajah Mimi, hari-hari kerjaan cuma ngurus cicit” ujarnya lagi.

Ya, Mimi Ras memang sudah berhenti dari panggung yang telah menghidupinya sekian puluh tahun. Babak demi babak hanya menjadi kenangan yang tersimpan di gurat keriput wajahnya. Kesehariaannya tak jauh dari cicit dan televisi yang setia menemani kesepiannya di waktu senja.

“Mimi takut kalo tivi mati” ucapnya
“Kenapa Mi?” tanyaku saat itu

“Sepi mas… Mimi takut ga ada teman. Mimi mah hanya ditemani tivi” jelasnya, sambil menyeka airmata yang menuruni lembah bukit keriput wajahnya.

Mimi, memang rindu tari. Namun Mimi lebih takut sang tivi mati.[]

* Wartawan Foto, sehari-hari mengirimkan foto berita untuk Kantor Berita Antara. Sosok jurnalis yang mudah dikenali diantara para jurnalis di kota Bandung. Selain berikat kepala ia menunggang vespa roda tiga yang seringkali mogok.

Filed Under: dance

Tags: , ,

Comments (2)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. nday says:

    SAAAALLLLLUUUUUUUUUUTTTTTTTTTTT………………
    ABIEEEEEEEEZZZZZZZZZZZ,,,,,,,,,,,,

  2. nday says:

    saya bangga jadi murid mi2.

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.