Jihad dan Makan

Angga Wedhaswhara, seniman pertunjukan dari Bandung yang ikut bagian dalam kegiatan “Asian Youth Imagination 2″ di Jogja Gallery, [28/02/09] meyampaikan isu sosial berupa persoalan distribusi makanan yang tidak merata. Dalam pertunjukannya Angga membuat senjata mainan terbuat dari sayuran. Angga menyebut pertunjukannya dengan “Food for Resistance”.
Bak seorang laskar perang yang siap terjun ke medan peperangan ia arahkan senjatanya. Angga meneriakan kata “Allahu Akbar”. “Saya cuma meniru tentara-tentara jihad dimana mereka berjihad dengan senjata menebar kebencian menyemai ketakutan. Padahal lebih baik mereka berjihad dengan makanan. Karena banyak dari manusia sebenarnya membutuhkan makanan. Bukan peperangan.” kata Angga.
Perang memang bisa terjadi karena kita tak mendapatkan makanan. Di tempat-tempat pasca bencana juga sering terlihat orang-orang rebutan untuk mendapatkan satu sampai tiga kilo beras, 5 bungkus mie instan, dan atau air bersih. Ini menunjukan betapa urusan perut, orang tidak bisa menunggu. Manusia sanggup berbuat apa pun kalau perutnya sudah lapar. Namun di sisi yang lain, di saat banyak orang tidak mendapatkan makanan, sekelompok orang dengan entengnya mengeluarkan uang 25 ribu untuk membeli segelas kopi.
Ketimpangan ini kiranya yang menganggu Angga. “Sebetulnya persoalannya ada di dalam diri kita sendiri, hanya sayang kita seringkali lupa, di bagian lain kehidupan kita ada orang yang tidak makan.”
Sindiran Angga tak cukup sampai pada senjata. Ia pun mendemonstrasikan proses memasak seperti halnya acara-acara kuliner yang sering muncul di televisi. Mulai dari belanja di pasar-pasar tradisional yang kemudian diolah menjadi masakan lalu menyajikannya pada penonton. Lantas setelah usai memasak, Angga mengajak penonton makan bersama menikmati nasi liwet buatannya sebagai bentuk simbolisasi kebobrokan distribusi makanan. []
Filed Under: performance art

