Tak Perlu Lagi Ada Korban

Oleh Frino Bariarcianur Barus
Hari ini, setahun lalu 11 anak muda harus meninggalkan dunia dengan mengenaskan setelah menonton sebuah pertunjukan tunggal kelompok musik bernama “Beside” di Gedung Asia Africa Culture Centre, Jalan Braga, Bandung. Cukup sudah sejarah kekelaman. Tak perlu lagi ada korban karena sebuah panggung hiburan.
Mereka yang menjadi korban : Ahmad Dani Furqon, Agung Fauzi, Dicky Zaelani, Entis Sutisna, Dadi Gunajaya, Muhammad Wahyu, M Yusuf Serdian, Krisyanto, Rizalim, Novi Fitriana, dan Yadi Kurniadi. Mereka semua masih muda.
Pada tanggal 11 Agustus 2008, Pengadilan Negeri Kelas 1 A Bandung, memutuskan Aditya Arsa Sasmita [ketua panitia], Herdi Eka Putra [Koordinator Keamanan] dan Sugiana Alin [koordinator keamanan] bersalah. Mereka terbukti melanggar KUHP pasal 359 dan 360. Hakim memutuskan Adit dijatuhi hukuman 2 tahun enam bulan penjara sementara Herdi dan Sugi sepuluh bulan penjara.
“Saya pasrah, saya minta maaf, pada semua orang. Saya terima proses hukumnya,” kata Adit penuh penyesalan saat aku temui di Polwiltabes Bandung setahun lalu, sebelum sidang digelar. Hari itu Adit, Herdi dan Sugi telah mengenakan baju layaknya seorang tahanan.
Pihak panitia, tidak cermat menghitung kapasitas gedung. Tidak pernah menyangka tiket bisa terjual habis. Tidak menyangka penonton bisa melebihi kapasitas gedung pertunjukan. Tidak menyangka bahwa dalam sebuah kegiatan yang melibatkan banyak orang, tenaga medis profesional itu perlu. Ada banyak hal yang harus mereka jalankan sebagai event organizer namun, kiranya mereka tidak mampu bekerja secara profesional
Kini Adit, bos enk ink enk production itu masih mendekam dalam penjara Kebon Waru, Bandung.
Band Beside berdiri sejak tahun 1997, digawangi Owank [vokal], Akeuw [Gitar), Paneu [Bass], Chad [Gitar], dan Baby [Drum]. Band beraliran death metal atau sering juga dikategorikan dengan musik underground asal Ujung Berung ini, setahun terakhir jarang manggung. Jika ada tawaran, maka ijin mereka akan dipersulit. Itu wajar karena pihak keamanan tak ingin terjadi lagi peristiwa serupa. Bagaimana pun, peristiwa tersebut yang tidak dikehendaki oleh personil beside atau siapa pun, telah melambungkan nama kelompok musik Beside sendiri. Negatif dan Positif. Baik dan buruk. Tapi mereka telah banyak belajar dari peristiwa setahun lalu. Kelompok musik ini telah masuk dalam deretan sejarah kelam musik di Indonesia.
Dari blog beside di myspace, tahun 2009 ini mereka tengah sibuk menjalankan tour dengan nama “West Java Road Tour 2009″.
Kemudian di pihak kepolisan. Setahun lalu, tiga perwira kepolisian dicopot dari jabatannya. Mereka terbukti sebagai aparatur negara telah lalai menjaga keamanan saat pertunjukan musik berlangsung. Tidak bisa dipungkiri pihak kepolisian saat itu, datang seperti dalam film India, terlambat! Polisi datang setelah penonton panik, terinjak-injak, pingsan, terluka, menangis, berteriak dan meninggal. Intinya, pihak kepolisan datang saat penonton telah bergelimpangan menjadi korban.
Itulah kenapa pihak Kepolisan Jawa Barat mengakui kesalahan mereka dengan menyatakan bersalah kepada Kasat Intel Polwiltabes Bandung AKBP Sony Sonjaya, Kasat Intel AKP Singgih Mardiono, dan Kapolsekta Sumur Bandung AKP Ogiyanto. Kemudian lima anggota lain yang turut menandatangani surat perijinan juga dikenakan hukuman. Mereka adalah Wakasat Intelkam Polwiltabes Bandung Kompol Oo Rosdita, Aiptu Nana Suryana, Bripka Karna, Bripka Asep, dan Bripka Nana S. Ini merupakan sikap pertanggungjawaban atas kelalaian menjaga warga kota Bandung. Ini sebuah bukti bahwa benar, setahun lalu, pihak kepolisan Jawa Barat, menganggap remeh sebuah konser kecil di gedung bekas bioskop itu.
Pihak Pemerintah baik Pemerintah Propinsi Jawa Barat dan Kota Bandung membuat aturan yang lebih tegas. Pemerinta semakin ketat memberikan ijin kegiatan terutama kegiatan musik. Terutama untuk kegiatan-kegiatan yang terkategorikan musik underground. Sehingga berdampak berkurangnya event-event serupa yang dikelola oleh event-event organizer kecil. Bahkan saat band-band terkenal sedang latihan, itu pun dijadikan sebagai tontonan pertunjukan.
Obat kerinduan bagi pecinta musik. Apa pun ruangnya tak menjadi soal.
Peristiwa mengenaskan itu membuat anak-anak komunitas underground atau independen bersatu. Mereka membentuk “Solidaritas Independen Bandung”. Beberapa hati setelah peristiwa, mereka menggantungkan spanduk putih di simpang jalan bertuliskan “Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Teman-Teman Kami Pada Tragedi AACC Sabtu Kelabu, 9 Februari 2008″. Lalu dibawahnya terdapat dua kata dengan ukuran besar bertuliskan “Underground Berkabung” dan setangkai mawar berwarna hitam di bawahnya.
Di tengah-tengah duka yang mendalam, distro-distro yang menjadi bagian komunitas independen tetap buka. Hanya beberapa distro yang tutup sebagai bentuk solidaritas dan belasungkawa.
Anak-anak band mulai menyadari, bahwa fans mereka bukanlah sekadar pembeli tiket atau merchandise lantas selesai. Lebih dari itu, karena fans atau komuniti yang menghidupi band itu sendiri, maka sudah selayaknya pula komunitas diberikan pengetahuan tentang seluk beluk belantara musik. Apa pun jenisnya itu. Lantas beberapa orang menuliskan otokritik tentang komunitas underground di media massa, lewat mailing list atau melalui blog pribadi mereka.
Selanjutnya forum ini menggelar aksi solidaritas sebagai bentuk pertanggungjawaban dengan mengumpulkan dana untuk para keluarga korban. Juga mengenakan ikat kain berwarna putih di lengan sebelah kiri. Pada saat itu dana yang terkumpul Rp.23.215.000,00. Diperoleh dari sumbangan masyarakat kota Bandung. Dana tersebut langsung diserahkan kepada keluarga korban di Gedung Tertutup Dago Tea House Bandung. Para pecinta musik, kelompok kreatif, seniman, para event organizer dan entah siapa lagi juga merasa bersalah. Kita semua merasa bertanggungjawab.
Peristiwa duka itu pun dikenal dengan “Sabtu Kelabu”.
Peristiwa mengenaskan atau tragedi itu membuktikan bahwa sebagai warga kota, kita pernah lupa untuk menghargai hidup kita sendiri, lupa menghargai ruang yang telah kita miliki dan lupa menghargai kehidupan orang lain. Dan atau kita terlalu larut memikirkan diri sendiri, keuntungan pribadi. Bukan masalah ruang, bukan masalah manajemen, bukan pula masalah beside, ini masalah diri kita sendiri. Terlalu egois.
Kini tanah kuburan mereka sudah mengering. Para keluarga korban teruslah melanjutkan kehidupan. Doa kita tak pernah berhenti. Para musisi, seperti yang diutarakan ayah Wahyu, teruslah bermusik, teruslah berkarya. Cukuplah duka. Dan hari ini, sudah cukup tali putih menggantung di kamera. Kini harus dibuang dan tak terulang.
Sekali lagi, innalillahi wa inna illahi rojiun, semoga semua mengambil rasa pahit ini dan menelannya dengan bulat. Ikhlas. []
Filed Under: social


” Tidak bisa dipungkiri pihak kepolisian saat itu, datang seperti dalam film India, terlambat!”….
Kusuka yang ini….kurang sopoi mungkin..hehehe
NB :
salam dr rekan di Singkawang bro…
apa kabar dan beritamu sobat..
“saya sudah kembali ke tengah” masyarakat pd 18 agustus lalu dengan pembebasan bersyarat”
seperti tidak percaya politisi” busuk saja. semakin bnyak populasi mereka di negeri kita ini, termasuk d institusi kepolisian (mungkin bkn rahasia lagi, di kejaksaan (berbagai tingkatan), termasuk di dalam lembaga pemasyarakatan sendiri.
saya melakukan aktivitas kreatif tidak hanya satu kali, menggelar satu event, memotori band, menjadi bagian dari komunitas.
kesalahan kolektif yang dibebankan pada kami adalah kebusukan. kami menjalankannya karena tanggung jawab moril bukan menanggung kesalahan mereka!! coba telaah lagi perkaranya dengan detail, prosedur mana yang tidak kami patuhi dan jalankan??
dan kami akan terus berkiprah disini selama kami belum mati.
cheers
-adith-
panceg dinu galur