Kisah Seorang Raja

Oleh Adi Marsiela
Raja tua itu berdiri terpaku. Raut wajahnya menyiratkan kekosongan. Dia tidak menyangka putri sulungnya akan berkhianat dan mengusirnya dari istana. “Bicara adalah salah satu cara mempertahankan hidup,”kata si Sulung.
Kata-kata dari si Bungsu yang selama ini membisu juga tidak mampu menyelamatkan nasib sang raja. “Jangan kau sakiti ayah,” pintanya kepada sang kakak. Bukannya didengar, sang adik ikut diusir sebelum akhirnya dibunuh juga oleh kakaknya. Tidak lama setelahnya, si Sulung pun memerintahkan anak buahnya membunuh si raja tua.
Adegan demi adegan yang sarat dengan simbol kekuasaan ini merupakan bagian dari pertunjukkan teater berjudul “Kavia Sang Natha” atau Kisah Seorang Raja. Pementasan yang diangkat dari karya Rio Kishida ini dipentaskan oleh Studiklub Teater Bandung di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung pada tanggal 6 dan 7 Februari lalu.
Berbeda dengan karya aslinya, sutradara IGN Arya Sanjaya mencoba menampilkan naskah yang diterjemahkan oleh Ayu Utami dan Sitok Srengenge ini lewat sebuah pementasan beraroma Bali. Setidaknya itu terlihat dan terasa dari instrumen, seting panggung, tari, tembang,dan kostum yang dikenakan para pemainnya.
Arya sendiri merasa yakin dengan gaya ini, adegan-adegan dapat tertampilkan dengan lebih pekat dan memiliki kekuatan dramatik. Sayangnya, para pemain ini tidak konsisten ketika menggunakan dialek
Bali dalam dialognya. Berbagai gerakan tari yang dipakai para pemain untuk bergerak atau bertingkah laku juga kurang terasa luwes. Sehingga kesan surealis yang coba ditampilkan terlihat kurang sempurna.
Cerita yang diambil dari naskah berjudul “King Asia” ini merupakan penciptaan ulang dari cerita “King Lear” karya William Shakespeare yang terkenal. Benang merahnya terdapat tema yang bercerita seputar kekuasaan monarki. Bedanya, “Kavia Sang Natha” dan “King Asia” membawa kebudayaan Asia dalam ceritanya bukan seperti Inggris yang menjadi inspirasi politik kebudayaan dalam naskah pertunjukan King Lear.
Pementasan ini membawa penonton untuk melihat serta membaca perubahan jaman atau kondisi sosial yang ada di masyarakat. Di mana pemikiran yang ‘tua’ akan selalu tergeser oleh pemikiran-pemikiran yang ‘muda’ dan adaptif dengan jaman.
Namun, jika pemikiran itu terlalu membebani diri bukan tidak mungkin hal itu malah jadi masalah tersendiri. Hal itu juga yang digambarkan di akhir pementasan saat si Sulung menjadi gila dan tidak mengenal dirinya sendiri lagi. “Karena di dalamnya dia berbicara tentang sifat asas manusia,” demikian tulis sang sutradara dalam pengantar pementasannya.[]
Filed Under: theatre


Nice report.. kapan nih bener-bener bikin ‘report’ dari Bali.. salam dari Bali..