banner ad

1000 Wajah Pram Dalam Kata dan Sketsa

Komunitas Pasang Surut menggelar pameran bertema “Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa” di Blora. Pameran ini untum memperingati 1000 hari meninggalnya sastrawan asal Blora, Pramoedya Ananta Toer. Apa yang ingin disajikan dalam pameran ini?

“Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa” mau mengungkap pergulatan batin dan pemikiran Pram melalui media foto, lukisan, puisi, dan instalasi. Berbagai media itu merupakan “buku bacaan” yang dapat dibaca lembar demi lembar, sehingga berbagai emosi, ekspresi, dan kekhasan Pram, terpancar di hadapan “pembacanya”.

Kegiatan akan berlangsung di tempat kediaman Pak Pram di Jalan Sumbawa 40 Jetis Blora pada 1-7 Februari 2009, dengan aneka kegiatan, seperti pameran foto dan lukisan, instalasi sampah, performance art, teater, diskusi, pemutaran film, pertunjukan wayang kulit, dan festival musik.

Pramudya Ananta Toer adalah salah satu sastrawan terbesar hingga saat ini yang dimiliki Indonesia. Namun sayang hidupnya penuh dengan penderitaan, akibat keterlibatan dengan organisasi LEKRA [Lembaga Kebudayaan Rakyat] yang berafiliasi dengan PKI [Partai Komunis Indonesia], akhirnya harus mendekam di dalam penjara. Pak Pram membuat novel yang sangat fenomena diantaranya : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Novel-novel ini ditulis saat Pak Pram mendekam di penjara di Pulau Buru. Pramudya Ananta Toer meninggal di Jakarta, 30 April 2006.[FB]

Filed Under: agenda

Tags: , , , ,

Comments (2)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Pram tidak hanya pintar merangkai kata, namun lebih dari itu, ia mampu menemani huruf-huruf dengan sumber data sejarah yang begitu komplit. sangat jarang novelis menduduki posisi semacam ini. ada yang suka dan tidak adalah cermin betapa ia menjadi sorotan tajam dalam kehidupan di bumi ibu pertiwi ini. ini sekaligus menandakan betapa berpengaruhnya keberadaan pram dengan karya dalam knacah kehidupan inodnesia. tidaklah salah, apabila menulis menjadi tugas nasional dia dan seklaigus menitahkan betapa menulis sebagai sebuah pekerjaan yang didalamnya ada fa’al sosial. belajar apa pun tentang dia, secara kritis dan berimbang adalah langkah arif bagi kita selaku generasi setelahnya. 1000 hari, sangat terasa betapa keoergiannya dirindukan banyak orang, tak terkeculai aku yang sampai saat ini berusaha menambah koleksi buku Pram. malam adalah waktu aku bersenggama dengan lemabaran-lembaran yang ia hasilkan selama hidup. selamat jalan Pram.

  2. blora says:

    acaranya cukup ramai dan banyak tamu luar kota datang

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.