“RUMAH BAGI CINTA” RUMAH SEMMI YANG BARU

Oleh : Matdon*
Tiga pria tua mengenang masa lalu, masing-masing menceritakan keindahan masa remaja yang terenggut oleh waktu, mereka adalah orang-orang yang gagal menyulam masa depan. Tapi egoisme menyergap ketiganya, narsis yang kosong, sukses yang hampa, dan pembelaan diri yang sia-sia.
Tak hanya itu, persoalan berita di televisi tentang perkosaan mereka perdebatkan dengan serius dan tanpa kesimpulan, belum lagi persoalan keponakan meraka bernama Mesa yang memilih untuk menjadi lesbian. Pertengkaran hebat terjadi antara ketiga paman itu, yang satu malah mengantarkan Mesa untuk memilih lesbian sebagai jalan hidup, sedangkan yang lain memberi fatwa haram pada kelainan seks bernama lesbian.
Ini adalah kisah drama berjudul “Rumah Bagi Cinta” karya perdana Semmi Ikra Anggara, seorang penyair, mahasiswa STSI, yang mencoba berkarya menjadi sutradara, penulis naskah dan aktor - sesuai fitrah jurusan kuliahnya yakni teater. Pertunjukan tersebut dipentaskan di Auditorium CCF Bandung, Jalan Purnawarman, Senin 16 Pebruari 2009.
Sebagai sutradara/penulis naskah pemula [begitu ia menyebut dirinya], tentu saja ini debut yang patut diacungi jempol [untuk yang memiliki jempol], melalui kelompok teater Black Rose yang ia dirikan bersama rekannya Pian Herdiana.
Semy adalah penyair yang memiliki potensi liar dalam setiap karyanya, pun pada naskah drama yang ia tulis ini – yang konon diselesaikan hanya dalam empat hari; sungguh sebuah pekerjaan sangkuriang project!!
Tapi saya yakin bukan tanpa perenungan yang dalam, Semy memiliki pengendapan masalah yang luar biasa melalaui pengalaman hidupnya yang gagal dalam bercinta, nyaris dalam kehidupan riilnya gagal memiliki pacar. Pada naskah “Rumah Bagi Cinta”, adalah gambaran kegelisahannya untuk urusan cinta, seperti kegagalan tiga tokoh dalam drama ini?.
Konflik sederhana yang disuguhkan Semmi sudah tepat, ringan dan dipahami penonton, meski secara pribadi saya terganggu dengan permainan tokoh Shela dan Mesa, dua tokoh cantik ini tidak mampu mengimbangi akting 3 paman yang diperankan Bagus Setiawan, M. Wail dan I Made Sudana.
Lihat saja, pada adegan pertama tiga tokoh paman sangat kuat melakukan dialog cepat, seperti mewakili dialog dan keliaran Semmi, suasana terasa segar dengan dialaog-dialog yang puitis, metafor dan greget meski minim blocking. Tapi begitu tokoh Mesa dan Shela yang diperankan Dety Gartika dan Kantini Soleha muncul, terasa ada yang loncat sangat jauh, drop we lah pokona mah…..
Tapi sekali lagi ini debut perdana yang luar biasa bagi Semmi dengan segala keterbatasannya dalam memilih pemain, selain agar tidak tegesa-gesa pula dalam membuat naskah drama, sebab naskah drama itu hanya lautan kecil, sedangkan perenungan adalah samudera luas yang perlu diselami, direnungi dan difakuri
Sukses Semmi…terus berkarya! []
* Penyair
Filed Under: theatre


kayanya bagus euy. duh jauhnya pingin nonton