banner ad

Majelis Sastra Bandung Berdiri

Ini bukan sembarang majelis, ini majelis hendak keluar dari situasi sastra di Bandung yang menjemukan. Adalah Matdon seorang penyair yang juga jurnalis bersama penyair muda Bandung akan mendirikan Majelis Sastra Bandung pada tanggal 25 Januari 2009 di Gedung Indonesia Menggugat.

Matdon memang dikenal sebagai seorang yang rajin menyatroni ruang-ruang alternatif apresiasi sastra di kota Bandung. Mulai dari kampus ke kampus, toko buku sampai rekan-rekan jurnalis di Bandung pun terkena virus sastra, terutama membuat bait-bait puisi.

Bahkan di setiap aksi-aksi demo jurnalis pun, Matdon selalu membacakan puisi-puisinya.

Maka wajar saja bila ia sering kecewa melihat penyair muda Bandung yang hingga saat ini, masih terkategori melempem. “Mereka terlalu cepat puas dengan satu hasil karya, bahkan jarang membaca karya-karya penyair lain,” ungkap Matdon beberapa waktu lalu.

Tidak bisa dipungkiri kehidupan sastra di kota Bandung benar-benar menjemukan. Miskin apresiasi dan ruang diskusi. Para penyair-nya pun sibuk sendiri-sendiri. Kenyataan ini berbeda dengan ruang seni lain yang lebih aktif dan memiliki komunitas yang kuat serta infrastruktur yang bagus. Karya-karya para penyair mudanya pun masih terhitung sedikit.

“Situasi sastra kita yang menjemukan ini harus diubah,” kata Matdon.

Maka ia bersama para penyair lain di kota Bandung merencanakan mendirikan Majelis Sastra Bandung. Tujuannya sederhana agar tak ada alasan lagi bagi para penyair bahwa Bandung kekurangan  ruang apresiasi dan ruang bertukar pikiran. Selain itu dengan hadirnya Majelis Sastra Bandung para penyair muda akan dapat terus berkarya sampai eksistensina diakui.

“Penyair muda harus mau berdarah-darah untuk membuat sebuah karyaa,” ujar Matdon.

Berdarah-darah maksudnya keseriusan menjadi seorang penyair itu penting. Bukan sekadar ikut-ikutan trend lantas meninggalkan begitu saja ketika taman sastra tak lagi menyenangkan.

Jika Anda tertarik, satroni Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan 5 Bandung, pada tanggal 25 Januari 2009, 14.00 WIB dan lihat bagaimana deklasari Majelis Sastra Bandung.

Selain deklarasi ada juga diskusi sastra 2009 dengan tema “Menengok Tradisi Sastra di Jawa Barat”. Pembicara : Hawe Setiawan dan Soni Farid Maulana. []

Filed Under: sastra

Tags: ,

Comments (6)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. happy budi says:

    salam kenal…
    saya sudah lama jatuh cinta pada dunia tulis menulis.
    terutama bertema sastra…
    bagaimana cara bergabungnya?
    terimakasi .

  2. Salam kenal juga Bung Happy Budi,
    Jika Bung Happy berada di Bandung silakan datang saja pada acara Majelis Sastra Bandung. Kalau di Bandung, ada Tobucil di jl. Aceh 56 Bandung yang biasanya punya agenda diskusi khusus. Silakan hubungi Wiku. Info : tobucil.blogspot.com. Di Ultimus, di Jl. Jakarta di depan “hotel orang yang divonis bersalah” alias Penjara.

    Kalau di Jakarta ada TIM, yang biasanya ada acara bulanan membedah karya sastra.

    Ada juga milis yang aktif dan bagus untuk dijadikan bahan referensi, yakni milis apresiasi-sastra@yahoo.com. Bung bisa mengirimkan karya puisi atau cerpen atau novel ke milis tersebut dan biasanya akan ada komentar-komentar dari anggota milis.

    Segitu dulu infonya, maaf kalau gak lengkap.

    salam hangat
    frino

  3. raisha says:

    Eksepsi Puisi “Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga” vs “Monolog Sunyi”

    Salam Kenal….

    Pada tanggal 12 Desember 2008 bertempat di Samarinda, Kalimantan Timur telah terbit sebuah Eksepsi Puisi yang buat oleh Shah Kalana Al-Haji yang bercerita tentang sebuah karya sastranya yang berjudul “Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga” (ASMAGT) yang dituduh sebagai karya plagiat, saduran, mekaran, tindasan, paste,dll, dari sebuah karya sastra yang berjudul “Monolog Sunyi” (MS) (1998) karya Intan Sari L. Izwar (ISLI) terbitan Bojong Kunci Pamengpeuk Bandung dan nota bene Kota Bandung adalah salah satu kota basis sastra nasional. Mohon agar eksepsi ini direspon

    Berikut puisi dari Monolog Sunyi dan Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga :

    “Monolog Sunyi”
    Karya Intan Sari L Izwar

    Mak,
    lapar…!
    Kenapa kita tidak bisa makan seperti orang
    yang di dalam rumah berdinding kaca?

    Mak, dingin…!
    Kenapa kita tidak bisa tidur di atas permadani
    busa?

    Mak,
    Panas…!
    Kenapa kita tidak bisa berteduh di istana?

    Mak,
    Capek…!
    Kenapa kita tidak bisa naik mobil kemana suka?

    Mak,
    Jawablah…!
    Kenapa sudah tiga hari, Mak tidak bangun-bangun
    juga…?
    Surakarta, Mei 1998

    Sedangkan puisi ASMAGT ada beberapa versi karena sejak mulai di publikasikan di UMSI sampai sekarang ASMAGT mengalami revisi penulisan namun isi dan format tidak berubah, cermati saksama versi-versi ASMAGT berikut :
    1. ASMAGT versi terbitan 2006 penyair mengunakan nama SHAH KALANA ALHAJI

    “Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga”

    aduh mak perutku lapar
    tadi aku lihat tetangga potong ayam
    sekarang aku mencium wanginya mak

    aduh mak harumnya
    apa kita akan diberi sepotong dua
    nantinanti beli ayam juga ya mak

    aduh mak suaranya
    enaknya kalau dimakan lagi panaspanas
    dengar dengarkan suara gorengannya mak

    aduh mak aku tidak bisa tidur
    nantilah aku tidur kutunggu saja
    siapa tahu tetangga ingat kita mak

    aduh mak baunya
    bila saja tetangga tahu kita bangun
    bisa jadi kita makan kakinya atau kepalanya mak

    aduh mak jika bapak ada
    bapak bisa bawa ayam terus
    kitakita boleh makan besar seperti mereka ya mak

    aduh mak mereka makan
    kenapa mereka tak tahu kalau kita lapar juga
    andai saja ada sisanya aku tunggu mak

    aduh mak kita tak diberi
    lahap sekali tetangga makan
    kita tidak diberi barang sedikit walaupun sisa mak

    aduh mak anjingnya ikut makan
    kenapa ya tetangga lupa sama kita
    enak jadi anjing saja tidak akan kelaparan mak

    aduh mak biar aku tunggu
    biar saja bekasbekas anjing itu aku tunggu
    barangkali anjing tetangga ingat sama kita mak

    aduh mak aku tidak kuat
    perutku jadi berbunyi dan liurku menetes
    kalau tetangga datang bangunkan aku mak

    1996

    2. ASMAGT versi terbitan awal dipublikasikan di UMSI RRI Nusantara III Banjarmasin antara tahun 1996-1997. Penyair mengunakan nama MAYAR A. SHAURA

    “Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga”

    Aduh mak, perutku lapar!
    Tadi aku lihat tetangga potong ayam.
    Sekarang aku mencium wanginya, mak!

    Aduh mak, harumnya!
    Apa kita akan diberi sepotong dua.
    Nanti-nanti beli ayam juga ya, mak!

    Aduh mak, suaranya!
    Enaknya kalau dimakan lagi panas-panas.
    Dengar-dengarkan suara gorengannya, mak!

    Aduh mak, aku tidak bisa tidur!
    Nantilah aku tidur kutunggu saja.
    Siapa tahu tetangga ingat kita, mak!

    Aduh mak, baunya!
    Bila saja tetangga tahu kita bangun.
    Bisa jadi kita makan kakinya atau kepalanya, mak!

    Aduh mak, jika bapak ada!
    Bapak bisa bawa ayam terus.
    Kita-kita boleh makan besar seperti mereka ya, mak!

    Aduh mak, mereka makan!
    Kenapa mereka tak tahu kalau kita lapar juga.
    Andai saja ada sisanya aku tunggu, mak!

    Aduh mak, kita tak diberi!
    Lahap sekali tetangga makan.
    Kita tidak diberi barang sedikit walaupun sisa, mak!

    Aduh mak, anjingnya ikut makan!
    Kenapa ya tetangga lupa sama kita.
    Enak jadi anjing saja tidak akan kelaparan, mak!

    Aduh mak, biar aku tunggu!
    Biar saja bekas-bekas anjing itu aku tunggu.
    Barangkali anjing tetangga ingat sama kita, mak!

    Aduh mak, aku tidak kuat!
    Perutku jadi berbunyi dan liurku menetes.
    Kalau tetangga datang bangunkan aku, mak!

    1996

    3. ASMAGT versi terbitan 1997 yang dibacakan pada aksi protes Mahasiswa Faperta UVAYA Banjarbaru penyair mengunakan nama MAYAR A. SHAURA

    “Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga”

    Aduh Mak, perutku lapar!
    Tadi aku lihat tetangga potong ayam
    Sekarang aku mencium wanginya, Mak!

    Aduh Mak, harumnya!
    Apa kita akan diberi sepotong dua
    Nanti-nanti beli ayam juga ya, Mak!

    Aduh Mak, suaranya!
    Enaknya kalau dimakan lagi panas-panas
    Dengar-dengarkan suara gorengannya, Mak!

    Aduh Mak, aku tidak bisa tidur!
    Nantilah aku tidur kutunggu saja
    Siapa tahu tetangga ingat kita, Mak!

    Aduh Mak, baunya!
    Bila saja tetangga tahu kita bangun
    Bisa jadi kita makan kakinya atau kepalanya, Mak!

    Aduh Mak, jika bapak ada!
    Bapak bisa bawa ayam terus
    Kita-kita boleh makan besar seperti mereka ya, Mak!

    Aduh Mak, mereka makan!
    Kenapa mereka tak tahu kalau kita lapar juga
    Andai saja ada sisanya aku tunggu, Mak!

    Aduh Mak, kita tak diberi!
    Lahap sekali tetangga makan
    Kita tidak diberi barang sedikit walaupun sisa, Mak!

    Aduh Mak, anjingnya ikut makan!
    Kenapa ya tetangga lupa sama kita
    Enak jadi anjing saja tidak akan kelaparan, Mak!

    Aduh Mak, biar aku tunggu!
    Biar saja bekas-bekas anjing itu aku tunggu
    Barangkali anjing tetangga ingat sama kita, Mak!

    Aduh Mak, aku tidak kuat!
    Perutku jadi berbunyi dan liurku menetes
    Kalau tetangga datang bangunkan aku, Mak!

    1996

    4. ASMAGT versi terbitan 1998 yang disebarkan pada unjukrasa Gerakan Mahasiswa GEMPUR Total - SOMURR Total - GEMPAR Total di Banjarbaru-Banjarmasin penyair mengunakan nama MAYAR A. SHAURA dan EMMET

    “Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga”

    Aduh mak, perutku lapar
    Tadi aku lihat tetangga potong ayam
    Sekarang aku mencium wanginya, mak!

    Aduh mak, harumnya
    Apa kita akan diberi sepotong dua
    Nanti nanti beli ayam juga ya, mak!

    Aduh mak, suaranya
    Enaknya kalau dimakan lagi panas-panas
    Dengar dengarkan suara gorengannya, mak!

    Aduh mak, aku tidak bisa tidur
    Nantilah aku tidur kutunggu saja
    Siapa tahu tetangga ingat kita, mak!

    Aduh mak, baunya
    Bila saja tetangga tahu kita bangun
    Bisa jadi kita makan kakinya atau kepalanya, mak!

    Aduh mak, jika bapak ada
    Bapak bisa bawa ayam terus
    Kita kita boleh makan besar seperti mereka ya, mak!

    Aduh mak, mereka makan
    Kenapa mereka tak tahu kalau kita lapar juga
    Andai saja ada sisanya aku tunggu mak!

    Aduh mak, kita tak diberi
    Lahap sekali tetangga makan
    Kita tidak diberi barang sedikit walaupun sisa, mak!

    Aduh mak, anjingnya ikut makan
    Kenapa ya tetangga lupa sama kita
    Enak jadi anjing saja tidak akan kelaparan, mak!

    Aduh mak, biar aku tunggu
    Biar saja bekas-bekas anjing itu aku tunggu
    Barangkali anjing tetangga ingat sama kita, mak!

    Aduh mak, aku tidak kuat
    Perutku jadi berbunyi dan liurku menetes
    Kalau tetangga datang bangunkan aku, mak!

    1996

    5. ASMAGT versi terbitan 2001 penyair mengunakan nama MAYAR A. SHAURA. Pada edisi ini bait 10 (huruf tebal miring) dihilangkan, dan naskah satu-satunya yang dijilidbukukan 95% hangus terbakar. Dokumen buku yang terbakar beserta arangnya masih tersimpan rapi di sekretariat FBGK Samarinda.

    “Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga”

    Aduh mak, perutku lapar!
    Tadi aku lihat tetangga potong ayam
    Sekarang aku mencium wanginya, mak

    Aduh mak, harumnya!
    Apa kita akan diberi sepotong dua
    Nanti-nanti beli ayam juga ya, mak

    Aduh mak, suaranya!
    Enaknya kalau dimakan lagi panas-panas
    Dengar dengarkan suara gorengannya, mak

    Aduh mak, aku tidak bisa tidur!
    Nantilah aku tidur kutunggu saja
    Siapa tahu tetangga ingat kita, mak

    Aduh mak, baunya!
    Bila saja tetangga tahu kita bangun
    Bisa jadi kita makan kakinya atau kepalanya, mak

    Aduh mak, jika bapak ada!
    Bapak bisa bawa ayam terus
    Kita kita boleh makan besar seperti mereka ya, mak

    Aduh mak, mereka makan!
    Kenapa mereka tak tahu kalau kita lapar juga
    Andai saja ada sisanya aku tunggu, mak

    Aduh mak, kita tak diberi!
    Lahap sekali tetangga makan
    Kita tidak diberi barang sedikit walaupun sisa, mak!

    Aduh mak, anjingnya ikut makan!
    Kenapa ya tetangga lupa sama kita
    Enak jadi anjing saja tidak akan kelaparan, mak!
    aduh mak biar aku tunggu
    biar saja bekasbekas anjing itu aku tunggu
    barangkali anjing tetangga ingat sama kita mak

    Aduh mak, aku tidak kuat!
    Perutku jadi berbunyi dan liurku menetes
    Kalau tetangga datang bangunkan aku, mak!

    1996

    Untuk lebih jelasnya isi Eksepsi tersebut dapat di download disini http://mail.google.com/mail/?ui=1&view=att&th=11ed4f2a04afdffd&attid=0.1&disp=attd&zw
    29 Januari 2009

  4. beritaseni says:

    Salam,
    Buat Raisha, kirimin aja artikel tentang Eksepsi Puisi “Anak Si Miskin dan Ayam Goreng Tetangga” vs “Monolog Sunyi” beserta foto bukunya. Biar sekaligus bisa dibaca oleh kawan-kawan yang lain.

    Jangan taruh di komentar, sayang kan, berita bahagia itu menjadi komentar yang ga ada sambungannya dengan berita di atas.

    Sukses buat kawan-kawan, salam hangat

    frino

  5. ORASI BUDAYA - PENGAJIAN SASTRA#4
    ACEP ZAMZAM NOOR

    selasa 28 aapril 2009
    jam 7 malam
    di gd. indonesia menggugat jl.perintiskemerdekaan 5 bandung

  6. okti li says:

    Salam,

    senang sekali ada geliat tumbuh di kampung halaman,
    selama ini merantau hanya mencari sesuatu yang tidak dipunya, dan sekarang tumbuh juga….

    Insya Allah kembali akan ku cari.
    bergabung dan mengambil bagian, dari sastra biasa kepada sastra yang syarat makna.

    Terimakasih info dan kesempatannya…. :-)

    Salam,

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.