banner ad

Cinta Boni Untuk Palestina

Teks dan foto oleh: Prabowo Setyadi
“Saudara-saudara yang saya cintai. Saya bediri disini karena saya ingin berbicara pada kalian semua. Dan saya meminta kalian jangan memotong pembicaraan saya. Saya sangat menghargai keinginan sodara-sodara untuk datang kesini dan melakukan sesuatu untuk Palestina. Tapi nampaknya masih banyak saudara-saudara kita yang tidak peduli dengan musibah palestina.

Suara gadis kecil itu terdengar jelas memenuhi ruangan utama Gedung Indonesia Menggugat saat mengisi acara “Doa Untuk Palestina” yang diselenggarakan oleh para seniman Bandung, , Sabtu, 10 Januari 2009. Umurnya baru 6 tahun lebih. Tapi soal membaca puisi, gadis kecil bernama Sigrit Minerva Boni Avibus memang jagonya. Berani dan tidak ragu-ragu tampil di depan orang banyak. Seperti malam-malam pertunjukkan dimana Boni, panggilan akrabnya, mengisi acara, penonton selalu dibuat terpukau. Kepolosan dan kejujuran anak kecil seperti Boni membuat setiap kata-kata menjadi enak untuk dicermati.

Malam itu di atas panggung, gadis kecil berkaca matasudah berdiri menghadap penonton. “Masih banyak orang yang cuek-cuek saja. Saya jadi tak habis fikir, mau jadi apa bangsa kita ini. Tapi jangan khawatir. Toh masih banyak orang-orang yang bersolidaritas tinggi seperti kita.”

Orasi Budaya yang dibacakan tanpa melihat ini pernah dibawakannya saat acara “Malam Anugerah dan Syukuran” Federasi Teater Indonesia di Taman Ismail Marzuki, 27 Desember 2008. Hadir saat itu para seniman kawakan Indonesia diantaranya Slamet Rahardjo, Putu Wijaya, Jajang C Noer, WS Rendra, Didi Petet, Garin Nugroho, Deddy Mizwar, Rachman Arge, Ikranagara, Ria Irawan, Remy Silado, Butet Kertaredjasa, Alex Komang dan juga Happy Salma. Para politikus juga hadir. Dan di dalam gedung, tempat Soekarno dulu membacakan gugatannya kepada pemerintah kolonial Belanda, Boni pun lantang bersuara.

“Anda semua harus jujur. Lihatlah satu jari saya mengarah pada anda dan tiga jari lain menuding pada diri saya sendiri. Artinya saya harus tiga kali lipat lebih jujur dari anda. Hati saya tergetar melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia sekarang ini. Gempa bumi di papua telah membuat saudara sebangsa kita menderita. Dan manusia tidak berhak marah pada alam. Karena manusia lah penyebab dari marahnya alam.”

Boni juga mengatakan kalau apa yang terjadi di Palestina sekarang ini menandakan nilai-nilai kemanusiaan telah runtuh. “Perbuatan keji para tentara Israel yang menewaskan ribuan penduduk sipil Palestina sungguh merupakan suatu kebiadaban. Sungguh sebuah tindakan yang tidak bermoral. Tidak punya cinta.” Ucap Boni.

Dalam kesempatan malam itu, Boni mengajak para penonton untuk sejenak merenungi tragedi Palestina sebagai ritme dari sebuah kehidupan bahwa Perang bukanlah sesuatu hal yang dapat dinilai dengan kata benar atau salah, karena kata benar atau salah justru menjadi pemicu terjadinya peperangan.

Setelah berorasi Boni membaca puisi tentang cinta. Puisi ini dibacakan tanpa melihat teks. Berikut petikan puisi yang terucap dari bibir mungil Boni yang diiringi petikan gitar Ferry Curtis yang mendadak berdiri dari bangku.

Cinta

Oleh anomimiti
Semenjak hari ini akan ku sapa dunia dengan cinta
Dengan cinta akan kubuka hati manusia
Dengan cinta akan ku terpa hati durhaka

Aku cinta matahari karena ia menghangatkan tubuhku
Aku cinta hujan karena ia membasuh dunia
Aku cinta cahaya karena ia menerangi perjalanan ku
Aku cinta kegelapan karena ia membuatku mencari bintang

Dengan cinta
Kebencian dan kedengkian akan ku koyakan
Meski mulut ku rapat menutup
Mata ku akan bersinar oleh cinta
Senyuman akan ku sungging di bibirku karena cinta
Semenjak hari ini akan kusapa dunia dengan cinta
Tak akan ku kenalkan diriku pada kegetiran hidup dan dekilnya hati
Namun ku isi dengan kehangatan dan kelembutan cinta
Dengan cinta akan kutaklukan dunia
Dengan cinta akan kubuka pintu perdamaian di GAZA

Usai membacakan puisi, penonton langsung bertepuk tangan. “Terima kasih,” kata Boni dengan senyumnya yang selalu menghias bibirnya.

Dalam acara “Doa Untuk Palestina” para seniman mengumpulkan sumbangan suka rela dan berupa lukisan karya Herry Dim, Tisna Sanjaya, dan Rosid. Hasil penggalangan dana ini merupakan salah satu bentuk solidaritas kepada rakyat Palestina. []

Filed Under: social

Tags: ,

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.