banner ad

Potensi Seni Rupa Kalimantan Timur

Oleh: Surya Darma*

KALIMANTAN TIMUR merupakan propinsi terluas di Indonesia dengan luas wilayah kurang lebih satu setengah kali luas pulau Jawa dan Madura atau 11% dari total luas wilayah Indonesia. Propinsi ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik dari sektor pertambangan maupun dari sektor perhutanan. Propinsi yang terbentuk sejak tahun 1956 hingga kini terdiri dari empat belas daerah kabupaten/kota di antaranya: Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Pasir, Berau, Bulungan, Bontang, Tarakan, Penajam Paser Utara, Nunukan, Malinau, Kutai Timur, Kutai Barat dan Tanah Tidung.

Kalimantan Timur memiliki beragam suku dan agama, namun suku dan tradisi Kalimantan Timur terbagi menjadi tiga yang di antaranya: tradisi pedalaman yang kita kenal dengan suku Dayak; tradisi pesisir yang banyak dipengaruhi oleh budaya Islam; dan tradisi keraton. Balikpapan” sebagai pintu gerbang Kalimantan Timur sangat diuntungkan secara geografis yang berdampak pada perkembangan dunia seni rupa seperti pada bahasan selanjutnya.

Liku-Liku Perjalanan Seni Rupa di Kalimantan Timur

Tidak ada referensi yang mengungkapkan tentang cikal bakal seni rupa di Kalimantan Timur, namun dari berbagai pengamatan yang dilakukan oleh penulis dapat diuraikan perjalanan seni rupa di berbagai daerah di Kalimantan Timur. Perjalanan dunia seni rupa Kalimantan Timur bisa dikatakan masih sangat muda dan sangatlah jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan Yogyakarta yang kita ketahui bersama sebagai center of #r/ataupun juga bila dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia Timur seperti Makassar atau Manado.

Hal ini sangat bisa dimaklumi karena berbagai faktor pendukung terbentuknya identitas kewilayahan serta infrastruktur yang terkandung di dalamnya masih belum bisa dikatakan lengkap dan terarah. Sebuah perguruan tinggi untuk seni rupa di Kalimantan Timur hingga kinipun belum ada, yang sangat besar sekali pengaruhnya bagi kemajuan dunia seni rupa. Bahkan di keempat propinsi di pulau Kalimantan tak satupun yang mempunyai perguruan tinggi seni rupa. Berbeda dengan Sulawesi yang telah memiliki perguruan tinggi ataupun IKIP Jurusan Seni Rupa. Perupa-perupa di Sulawesi sudah cukup lama ada dan tidak hanya bermain di media konvensional saja namun di beragam media art lainnya. Sehingga kesan lebih maju dibandingkan dengan perupa-perupa Kalimantan Timur sangat kental dirasa. Studi yang dilakukan perupa Kalimantan Timur hanya melalui sanggar-sanggar pribadi dan pergaulan antar teman saja.

Faktor lain yang bisa dikatakan menghambat kemajuan seni rupa Kalimantan Timur juga terdapat pada perupanya sendiri yang pada umumnya belum secara intensif melakoni profesinya dikarenakan satu dan lain hal sehingga bisa dikatakan cenderung tidak profesional, akibatnya perupa tidak produktif melahirkan karya-karyanya. Di samping itu, animo masyarakat Kalimantan Timur terhadap seni juga masih minim. Kurang terbelinya karya-karya yang dihasilkan pada setiap pameran kadang membuat frustasi, kalaupun ada pembelian yang dilakukan oleh pejabat pemerintah itupun hanya bersifat untuk merangsang keinginan orang lain untuk membeli. Mereka bahkan ‘mencari’ lukisan ke Jakarta ataupun Yogya demi sebuah gengsi.

Padahal yang seperti itu masih bisa dicari disini. Galeri-galeri yang pernah ada di Kalimantan Timur itupun timbul tenggelam, hanya bertahan satu atau dua tahun saja. Itupun pembelian banyak dilakukan oleh kalangan ekspatriat yang bekerja di sejumlah perusahaan migas seperti Vico, Total Indonesie, Unocal, KPC, Pertamina dan lain- lain. Satu-satunya galeri lukisan yang baru tumbuh dan eksistensinya masih dipertanyakan adalah Galeri Rahmat Santoso di Tenggarong Kutai Kartanegara.

Perkembangan dunia seni rupa Kalimantan Timur mencatat di tahun 1970-an datang perupa kelahiran Surabaya, 15 April 1929 yang bernama Moeanam yang pernah menimba ilmu di ASRI Yogyakarta (1958-1960) yang kemudian menetap selama puluhan tahun di pedalaman dan tinggal bersama suku Dayak di hulu sungai Mahakam. Selain melukis Moeanam juga mendalami seni kriya memahat, gemar menulis dan fotografi. Karena sangat bisa dimaklumi karena berbagai faktor pendukung uknya identitas kewilayahan serta infrastruktur yang terkandung nnya masih belum bisa dikatakan lengkap dan terarah.

Jiwa petualang yang dimiliki Moeanam, akhirnya beliau sempat singgah di Samarinda. Yang pada akhirnya menetap di Balikpapan sampai akhir hayatnya di tahun 2001. Di Tenggarong, Kutai Kartanegara pada tahun 1996 juga terdapat salah satu putra terbaik bangsa yang bernama Frederik Herman Wetik alias Faqih Fardiman Wetik yang lebih familiar di sebut Fred Wetik, yang dilahirkan di Ruteng, Manggarai, Flores pada 4 April 1939. Beliau pernah mengenyam pendidikan di ITB Jurusan Seni Rupa (1963-1965). Pada era 1970-1980 an beliau dikenal sebagai salah satu art director terbaik di tanah air. Fred Wetik juga dikenal sangat peduli tentang sejarah dan kebudayaan daerah. Banyak sumbangsih yang diberikan selama beliau tinggal di Tenggarong melebihi peranan putra —putra daerah itu sendiri, hingga akhir hayatnya di tahun 2004.

Selain Moeanam dan Fred Wetik, terdapat juga perupa daerah dari Bulungan, Datu Abdul Aziz dilahirkan tahun 1935, dan dari Berau, sebuah daerah penghasil telur penyu dan sarang burung walet, Adji Pitro dilahirkan tahun 1923. Namun sejarah hidup kedua perupa ini tidak begitu banyak diketahui oleh penulis setelah pertemuan yang terakhir pada event pameran yang digelar oleh Taman Budaya Samarinda pada tahun 1998. Di Bontang juga terdapat perupa kelahiran Malang yang mengenyam pendidikan di IKIP Malang Jurusan Seni Rupa 1982/1983 yaitu Soepardi dan Paulus Pattiwael yang kelahiran Malang bekerja di perusahaan Pupuk Kaltim.

Namun sekali lagi kedua perupa inipun tak diketahui keberadaannya.

Di Samarinda terdapat nama-nama perupa yang pernah ada di antaranya Jumbri Obeng, Edison dan Risyahibban (semuanya sudah almarhum). Nama yang disebutkan terakhir sebagai putra daerah kelahiran tahun 1943 dan dari disiplin ilmu otodidak ini mampu melahirkan karya—karya seni rupa yang pernah dipamerkan dalam pameran besar lukisan Indonesia di TIM tahun 1984. Selain melukis, beliau juga mengerjakan rancangan elemen artistik yang bisa dilihat di anjungan Kaltim di TMII, interior decoration ruang primitif gedung Wisma Negara Jakarta, bandara Sepinggan, gedung DPRD Tingkat I Kaltim dan gedung BPD Tingkat I Kaltim. Beliau juga mendalami ragam bias suku—suku Dayak di Kalimantan Timur bahkan menyusun sebuah buku yang bertajuk “Album Ragam Hias Suku Modang” yang diterbitkan oleh BIPIK Propinsi Kaltim.

Taman Budaya Propinsi Kalimantan Timur sejak berdirinya hingga sekarang telah cukup memberikan ruang apresiasi bagi seniman. Akan tetapi sifatnya masih sebatas untuk tingkat sepropinsi saja, itupun tidak semua daerah bisa ikut terlibat dalam sebuah pameran. Sementara itu seiring kebijakan otonomi daerah, agaknya Kabupaten Bulungan seakan tidak mau ketinggalan meramaikan jagad seni Kalimantan Timur dengan dihelatnya pameran lukisan yang melibatkan pelukis Kaltim dan Kalbar di tahun 2006, kemudian diikuti oleh Kabupaten Kutai Kartanegara yang mendatangkan Mikke Susanto dalam pameran lukisan tunggal dalam kaitannya dengan berdirinya Galeri Rahmat Santo so pada tahun 2008.

Kalimantan Timur juga mencatat tentang pameran yang pernah dilakukan oleh pelukis dari Padang seperti Amri Yahya, di tahun 1991 di PKT Bontang, almarhumah Mustika tahun 1993 di Balikpapan, Titis Jabarudin di hotel Dusit Balikpapan tahun 1999, Godod Sutejo dkk di Total-Balikpapan tahun 2004, Dyah dan Ario di Total-Balikpapan tahun 2005, serta kelompok pelukis Yogya yang digawangi oleh Kurniawan Galeri dan dikuratori oleh Kuss Indarto di atrium mall Fantasy Balikpapan.

Dinamika Seni Rupa Balikpapan

Hampir semua pelukis Balikpapan tidak menempa ilmu melalui akademi, mereka lahir secaraotodidak. Era 1980-an adabeberapanama sanggar-sanggaryangdipakai ajang (tempat nongkrong) untuk mengasah kemampuan melukis seperti sanggar Cempaka, sanggar Melati dan sanggar Bayu Asri. Sekedar laporan kepada khalayak pameran kecil-kecilan pun acap kali digelar. Hampir semua seniman di Kalimantan Timur selalu mengemukakan tentang semua kehidupan suku Dayak dalam setiap karya-karyanya. Seakan-akan perwajahan seni lukis di wilayah ini telah menemukan identitas kewilayahannya yang sangat orisinal. Seakan—akan karya—karya itu tidak terkontaminasi terlalu menjerumus ke arah perwajahan umum seni rupa kini yang cenderung mengikuti nafas dunia Barat.

Semangat dan greget pentas seni rupa Kalimantan Timur mulai terbaca di awal tahun 1990, setelah sekian lama dianggap mati suri. Pameran bersama di Gedung Nasional di tahun 1991 dalam kaitannya memperingati hari jadi kota Balikpapan dijadikan sebagai tonggak “kehidupan baru” perupa Kalimantan Timur yang disebut-sebut berbasis di Balikpapan.

Yayasan Bina Seni Indonesia “Bayu Asri” yang dipimpin H. Syahruni Hasbullah dan pelukis senior Moeanam melalui kebangkitannya yang kedua, sebelumnya juga melakukan pembinaan untuk musik, teater dan drama, telah memberikan wadah bagi pertumbuhan pelukis muda di daerah ini. Meski timbul tenggelam, para pelukis muda di Balikpapan tetap konsisten dengan kekaryaannya, sebut saja , Satuhan Daru Mahesi, Baskoro, Mike. Turusy, Jully Purnama, Biyan, Aan Miharjo, Eddy, Gusti Ambri dan Surya Darma. Bayu Asri kala itu selain sering dikunjungi perupa yang memang tergabung di dalamnya juga sering dikunjungi pelukis free/ance seperti Makyan Y. Wahid, Dr. Alexander H.S., Munir Asnawie, Bambang dan Trias Cahyo.

Dokter Alexander selain melukis juga mempelajari seni patung dari bahan resin.
Bersama Moeanam pernah menampilkan hasil karyanya dalam Pameran Dua Kalimantan di Balai Budaya Jakarta di tahun 1993. Munir Asnawie pernah mengenyam pendidikan diSTSRI-ASRI Yogyakarta (1974-1979) dan mampu meraih sarjanamuda.Selain melukis juga terjun ke dunia kuli tinta, yang akhirnya menjadi pilihan hidupnya. Satuhan Daru Mahesiperupa perantauan ini selain melukis juga menekunisenipatung,reliefdantatataman. Ketika Bayu Asri tak lagi eksis dikarenakan kepailitan sang pemilik dan diikuti hengkangnya pelukis ke Jakarta, Makassar dan Tenggarong,Surya Darma melanjutkan rintisan sanggar ini dengan membentuk sanggar lukis Bayu Art yang membina para pelajar, seperti Timbul, Arif, Wahyu, Gobel, Gusti Sahri, Sanjaya, Bambes, dll. Yang mampu bertahan hingga kini adalah Timbul, Gusti Sahri, Bambes, Sanjaya dan Arif sedang yang lain tergerus oleh seleksi alam.

Kehadiran Dra. Ardha Prihandono pada tahun 1992 seorang pelukis yang juga mantan dosen seni rupa di ITB, memberikan warna tersendiri bagi perkembangan seni rupa Balikpapan. Ardha yang juga binaan dari pelukis nasional Wakidi, sanggup menularkan ilmu yang dimiliki kepada murid-murid binaannya yang bersosialisasi di dalam sanggar Kembara. Mereka di antaranya Zulkarnaen, Achmad Gani, Heriadi, Alan Tola, Adjie Pranyoto, Ahmad Ginting, Andi Juwita, Andi Saladin, HS. Gotek, Trisnyoto, Cadio Tarompo dan Makyan Y.W Ardha pun mempelopori kegiatan ibu-ibu gemar melukis hingga memprakarsai sejumlah pameran termasuk mendatangkan pelukis nasional Mustika dalam penggalangan da gempa Flores 1993. Namun kiprah Ardha di Balikpapan hanya berkisar tiga tahun kare harus kembali lagi ke Jakarta mengikuti tugas suami.

Setelah periode ini dapat dikatak kehidupan dunia seni rupa Balikpapan dalam masa kesendirian, dimana pelaku seni i hidup di dalam ruang lingkup studio pribadi mereka masing—masing dan menggantungk asa di dalam bilik—bilik galeri lokal, frame shop dan ruang-ruang kosong dinding hotel. A< beberapa galeri seni yang mampu membuat roda ekonomi pelaku seni ini tetap berputar antaranya, Galeri Ini Itu yang dikelola oleh Wenda Tewu, Galeri Lanjo yang dikelola ol< Ancha dan Galeri Connection. Galeri-galeri inipun juga menggelar beberapa kali pamera namun sangat disayangkan usia galeri-galeri tersebut tidak ada yang mampu bertah; lama.

Periode Transisi Menandai Eksistensi Perupa Balikpapan

Kiprah pelukis Balikpapan ke pentas nasional diawali dalam perhelatan Makassar A Forum (MAF’99)yang diikuti oleh Moeanam dan Makyan Y.W, kemudian dilanjutkan ok Surya Darma dalam Temu Budaya IV di Makassar di tahun 2000 yang berlanjut pada Pamen Idealokal Nusantara di Galeri Nasional Indonesia tahun 2001. Berawal dari kegelisafo yang menyimpan obsesi dan menyadari akan kondisi wilayah yang minus alias menyada kenyataan bahwa tak semua potensi yang dimiliki rekan perupa menemukan rangsang d^ medan yang pas serta keinginan untuk mensejajarkan Balikpapan di dalam pergaulan dun seni rupa Indonesia, maka dibentuklah sebuah komunitas yaitu Jaringan Perupa Independe Balikpapan (JPIB) di bawah kepemimpinan Surya Darma dan beranggotakan lebih dari di puluh perupa.

Sebagai bentuk langkah awal maka dibuatiah Pameran Tunggal Moeanam i Lanjo Gallery. Dengan sistem network yang mulai terbingkai rapi pelukis yang tergabung < dalamnya mulai masuk ke dalam peristiwa—peristiwa besar seni rupa tanah air seperti: Pal Indonesia Dance Forum (2001), Banjarmasin Performing Art (2001, 2002), Pertemua Seniman Serumpun di Malaysia (2002), Festival Cak Durasim (2002), Idealokal Seni Ruf Nusantara II (2002), Festival Lagaligo dan Seminar Internasional Sawerigading, Masamb Sulsel (2003), Buah Batu Art Festival (2004), Harmoni Zamrud Khatulistiwa di Pontiana (2004), Pameran Nusantara GNI (2005), Biennale Jogja VIII (2005), Seni Rupa Pilihan II < Lampung (2006), Jambore Surabaya (2006), Geskart Festival di Pontianak (2006), Pamera Nusantara GNI (2007), Pameran Besar Manifesto (2008) dan pameran lukisan Folk A Forum 2008 Inconjungtion with Rainforest World Music Festival, Kuching, Malaysia.

Selain terlibat dalam event pameran di atas, JPIB juga memprakarsai beberap pameran skala nasional dan internasional termasuk mendatangkan beberapa kuratc yang pelaksanaannya bersumber swadana dan atas kerjasama dengan pihak Hotel Dus Balikpapan dan pemerintah kota.Tersebut di antaranya adalah di tahun 2003 mendatangka almarhum Mamannoor dalam pameran Anniversary 9th Hotel Dusit dalam kapasita sebagai pengamat seni; tahun 2004 pameran lukisan di Indonesia Bunka Kyu, Tokyc Kalimantan Arts Exhibition I (KAE I, bulan Juni) yang melibatkan pelukis Ivan Hariyant( Jopram, Salamun Kaulam, M. Aziz Alkatiri, Deni Katili, Fredy Padang, Johanis Sau Jaya Masloman, Endeng Mursalin, Firman Djamil, Mike Turusy, Zaenal Beta, Alan Tol; Sulistyono, Lampang S.T. dan lain lain.

Tak lama kemudian diteruskan dengan Toyot Painting Exhibition (bulan Juli) yang diikuti oleh pelukis dari Bogor, Surabaya, Makassa: Banjarmasin dan Samarinda. Bulan Oktober atas kerjasama dengan Gallery Connectio; menggelar pameran yang bertema “Borneo dan Bali Dalam Satu Bingkai” yang melibatkai Sen Pao, W Hardja, Larasanti, Tjandra Laras, Sutikno, Cak Kandar, Ivan Hariyanto dai Sing Kiem. Pada tahun 2005 kembali menggelar KAE II dan mendapat partisipasi dai Wayan Suja, Ketut Moniarta (Bali), Kokoh Nugroho (Semarang), Subarjo, Djoko Iriant (Lampung), Fauzi Z. (Jambi), Amalia Amini, Zul M.S. (Pontianak), Mike Turusy (Makassar) Azam B., S. Drajad, Yanto. S., Mujar (Malang) dan pelukis Kalimantan Timur. Dalan kesempatan inipun JPIB mendatangkan Mikke Susanto, I Wayan Sriyoga Parta (Klinik Sen Taksu, Denpasar), Thomas U. Freitag (Galeri Santrian, Sanur ), Tomi Faisal Alim (Visual Arts) dan dihadiri Bapak Dicky Tjandra.

Untuk mengeksplorasi dalam ihwal terciptanya mo-generation perupa Balikpapan, Jaringan Perupa Independen Balikpapan mengadakan workshop gratis kepada pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas selama tiga hari. Workshop yang diadakan dalam kesempatan pameran tunggal Surya Darma (Maret 2008) mendapat apresiasi sangat besar dari pelajar se-Balikpapan. Kenyataan ini menggugah kesadaran akan pentingnya menciptakan rancang bangun dan menumbuhkan semangat baru dalam dunia seni rupa Balikpapan. Atmosfir dunia seni rupa di Balikpapan tak terhindar dari perselisihan di dalam wilayah kebersamaan yang lazimnya juga terjadi di mana-mana.

Sekitar tahun 2004 berdiri sebuah komunitas baru yaitu Lamin Seni Rupa Balikpapan (LIPAN) yang diketuai oleh Cadio Tarompo dan diikuti oleh Sairi, Heriadi, Zulkarnaen, Ancha, dan Cacah. Kehadiran komunitas ini menambah khasanah baru bagi sejarah perkembangan seni rupa di Balikpapan dengan menggelar sejumlah pameran lokal yang bekerjasama dengan Rafles Education Center, Chevron dan beberapa hotel (Pasific, Benakutai, Mega Lestari) serta pameran skala nasional di antaranya; pameran lukisan di Bentara Budaya Yogyakarta (2006), Pameran Seni Rupa Pilihan II, Lampung (2006) pameran yang digelar oleh manajemen Semar Gallery (Malang, Jakarta, Cina-Hu Bei Art College-Wu Han), Pameran Seni Rupa Nusantara GNI (2007), Pameran Boeng Ajoe Boeng, Yogyakarta (2007), The Spirit of Indonesia Art, Senayan City (2007), Peduli Seni dengan Aksi, Senayan City (2007), Pameran Lukisan Riak Donggala, Palu (2007), Pameran Lukisan Sepuluh Kotarupa dalam Seni Rupa, Palu (2007), Pameran Lukisan Balikpapan-Makassar, Societtiet de Harmoni, Makassar (2007), Biennale Jogja IX (2007), Pameran Membangun Bangsa dengan Cinta Produk Indonesia, Senayan City (2008), Pameran Besar Manifesto, GNI Jakarta (2008), Pameran Nominator JAA, Ancol (2008). Belakangan Sairi pun hengkang dari komunitas ini dan memilih solo karir dan cukup mampu membuat terobosan-terobosan dalam memperkenalkan diri kepada khalayak.

Tantangan Dan Harapan

Setiap wilayah keberadaan seni rupa di mana saja berada tentunya menyimpan persoalan yang beragam yang bisa saja dipengaruhi oleh suatu sebab dan dilatari oleh kondisi watak dan kontak wilayah. Letak geografis menjadi persoalan di Kalimantan Timur, walaupun kita beranggapan bahwa kemajuan dunia komunikasi sangat memungkinkan kendala jarak dan waktu tidaklah menjadi gangguan. Namun, di dalam pelaksanaannya penebaran jejaring seni rupa di Kalimantan Timur tidaklah merata akibat dari minimnya sumber daya manusia yang kontra sekali dengan sumber daya alam yang dimiliki oleh Kalimantan Timur. Dalam pameran lokal yang digelar di sejumlah daerah kabupaten/kota menyangkut teknis pelaksanaannya dan muatannya terkesan biasa-biasa saja alias lesu darah. Minimnya kehidupan kritik seni rupa yang diharapkan menjadi pendorong perkembangan seni rupa dan sekaligus menjadi media yang menjembatani antara pelaku seni dan apresian, membuat substansi dari pameran tersebut tidak tersentuh oleh masyarakat umum yang menjadi sasaran utama dalam membangun sebuah wacana dalam konteks seni rupa Kalimantan Timur. Kalaupun ada ulasan sekedarnya yang diberikan oleh jurnalis tidaklah terlalu dalam menganalisa tentang kualitas artistik dari karya-karya yang dipamerkan.

Para pejabat yang menjadi kunci dari sikap pemerintah, terkesan memandang bidang kesenian ditempatkan dalam urutan kesekian dalam skala prioritas pembangunan. Kendatipun perangkatnya sudah terbentuk akan tetapi belum mengakomodir seluruh seniman daerah. Kondisi ini sangat berbanding terbalik manakala penulis berkunjung ke Sarawak Cultural Village dalam pameran Folk Art Forum 2008 di Kuching, melihat betapa pemerintah setempat sangat concern dengan ‘menjual’ budaya Dayak yang notabene merupakan warga minoritas di sana. Seharusnya dengan kekayaan yang dimiliki oleh propinsi Kalimantan Timur mampu menyediakan ruang publik yang representatif. Melalui program pameran lukisan keliling Indonesia dari Galeri Nasional Indonesia diharapkan dapat melecut motivasi dan spirit pemerhati dan pelaku seni di Kalimantan Timur ini menjadi lebih berwarna. Semoga Pameran Karya Pilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia dan Pelukis Kalimantan Timur ini mampu menciptakan virus pencerahan dunia seni rupa Kaltim dan menjadi catatan penting bagi perkembangan seni rupa di masa mendatang. []

* Surya Darma, seniman lukis, tinggal di Balikpapan.

Filed Under: visual arts

Tags:

Comments (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. alim says:

    aku,adalah ank ingusan yang sagat menyuki dunia seni..aku pengen sekali punya banyak teman dari kalangan seni itu sendiri

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.