banner ad

Fantasia

Oleh Kuss Indarto
Kedua seniman muda ini sama-sama berdarah Minangkabau. Sama-sama bertaruh nasib dengan melanglang dari Sumatra Barat menuju Yogyakarta untuk studi di Fakultas Seni Rupa [FSR] ISI Yogyakarta. Juga sama-sama tinggal di satu kampung di Sewon, Bantul, Yogyakarta. Dan sama-sama menunjuk sosok Maurits Cornelius Escher [1898-1972] sebagai salah satu titik acuan utama pada pola kekaryaannya dalam beberapa waktu terakhir.

Memang, kalau disimak dengan detail pada semua karya kedua seniman ini, ada satu titik temu yang mempertautkan keduanya dalam satu ketertarikan, yakni menggagas sebuah permainan perspektif di tengah limpahan objek benda-benda dan lanskap keseharian. Kalau kemudian mereka merujuk pada seniman kelahiran Leeuwarden, Belanda, yakni M.C. Escher, tentu ada pemahaman yang bisa diakuri setelah mencermati karya-karya Zaki dan Nico ini—dengan mengulang-alik ingatan publik pada karya-karya M.C. Escher.

Menggali Optical Art
M.C. Escher sendiri lebih dikenal sebagai salah satu seniman legendaris di Belanda yang menyuntuki seni grafis [printmaking] sebagai pilihan basis kreatifnya. Lithografi adalah satu di antara beberapa medium yang digeluti hingga menelurkan rentetan karya-karya puncak—disamping menghasilkan sekian banyak karya cukil kayu [woodcuts dan wood curving], skesta dan gambar.

Seniman yang menyelesaikan studi arsitektur di School for Architecture and Decorative Arts, Haarlem, Belanda, ini banyak memunculkan fenomena visual dalam karyanya dengan memberi penekanan pada “simulasi perspektif”. Artinya, kurang lebih, aspek perspektif dalam karya dua dimensi dieksplorasi lebih jauh dengan tipuan-tipuan optis yang menghasilkan kaburnya logika “perspektif natural”. Di dalamnya ada semacam proses penciptaan bentuk nyata melalui model-model yang memampukan apresian menghadapinya sebagai ilusi, fantasi, atau khayali karena seolah tampak menjadi nyata. Dalam “perspektif natural” ini batasan antara jauh-dekat, atas-bawah, tinggi-rendah, dan sejenisnya jelas dibatasi oleh kelaziman umum dengan menyertakan ketertiban cara berpikir yang masuk akal.

Sementara seniman yang semasa hidupnya menghasilkan 448 karya printmaking serta 2.000-an sketsa, drawing dan lainnya ini mencoba mengingkari “perspektif natural”.

Oleh Escher, “perspektif natural” ini ditabrak dengan “semena-mena” untuk menghasilkan kemungkinan “realitas perspektif baru”. Lewat kreativitas artistik, akurasi matematis dan perhatiannya pada detail, Escher mencoba masuk untuk bermain-main dengan membelokkan logika “perspektif natural” sekaligus mengaplikasikan sepenuhnya kemampuan dirinya dalam ilmu matematika. Maka, lahirlah karya-karya yang memberi daya ganggu terhadap mata apresian karena adanya pembelokan logika perspektif yang telah dimain-mainkannya secara optis-matematis. Inilah yang kemudian ditengarai oleh para kritisi sebagai karya optical art atau op art. Publik tentu mampu mengenang dengan ingatan yang kuat atas karya besar Escher yang memain-mainkan aspek perspektif ini, seperti karya lithografi bertajuk High and Low yang dibuatnya tahun 1948, House of Stair [1951], Relativity ([1953], Waterfall [1961], dan karya lainnya. Karya-karya tersebut dapat dengan tegas menunjukkan pemahaman dan penaklukannya atas ihwal perspektif.

Bertahun-tahun kemudian, menyeruak juga nama-nama besar di jagad seni rupa dunia yang mengukuhi pilihan kreatifnya dengan menggali sebesar-besarnya optical art ini. Misalnya ada Victor Vasarely [1908-1997] dan Bridget Riley [1931-…], untuk menyebut beberapa nama yang paling dikenal.

Namun, dibandingkan dengan [terutama] Vasarely, Bridget Riley maupun tokoh op art lainnya, Escher memiliki titik beda, yakni mengembangkan op art sebagai bagian dari ketertarikannya untuk melukiskan lanskap dan lingkungan sehari-hari. Bukan sekadar bermain-main dengan tarikan garis-garis yang berjajar, bergelombang, yang membentuk ritme garis, kesan ruang dan citra bentuk yang terkadang masif, monoton dan kering. Escher bisa keluar dari perangkap monotonitas itu. Inilah kelebihan Escher yang pernah mengecap studi arsitektur sehingga bisa menyatukan antara permainan optik, matematika sekaligus arsitektur secara lebih artistik.

Ruang Fantasi dalam Kaburnya Perspektif
Bagi Zaki dan Nico, poin ini menjadi hal mendasar ketika mereka menjatuhkan pilihan untuk menentukan kecenderungan karya seniman sebagai titik acuan. Meski tak begitu ketat dan optimal menyimak semua karya Escher, namun keduanya memberi apresiasi yang besar hingga kemudian menjadikannya sebagai sumber preferensi.

Harus saya tekankan terlebih dulu di sini bahwa perkara gejala pengaruh-mempengaruhi di sini tidak cukup relevan jika dibicarakan dalam konteks ketaatan pada aspek orisinalitas dan otentisitas, namun mesti dilihat secara lebih luas sebagai pernyataan konteks pertalian dan pertukarannya.

Kedua seniman muda ini jelas memiliki konteks masalah, penjelajahan artistik, dan konsep kreatif yang berjarak dengan M.C. Escher. Mereka berdua memiliki sumber gagasan yang saling berbeda [juga dengan Escher], yang kemudian digubah dengan mempertukarkannya lewat modus kreatif masing-masing. Inilah poin pokoknya.

Zaki menerima keterpengaruhan di atas dengan melekatkannya pada karya-karya yang memiliki subject matter [pokok soal] berujud benda bernama ceret. Ceret yang beragam warna itu berasal dari model benda sesungguhnya yang dipiuhkan, diobrak-abrik dan dibedah dari wujud asalinya. Di sekitar ceret, terutama di bagian bawahnya, dijajarkan cangkir-cangkir dalam beragam posisi dan konfigurasi. Benda ceret dan cangkir “dipertemukan” oleh jalinan citra aliran air yang mengucur. Dan pada titik temu air antara ceret dan cangkir inilah fantasi tentang perspektif dimainkan dengan piawai oleh Zaki. Apresian bagai digoyang fantasinya tentang aliran air yang berakibat pada merapuhnya asumsi tentang konfigurasi cangkir yang telah tertata sebelumnya. Aliran air itu menjadikan persepsi atas posisi cangkir yang di bawah dan yang di atas, yang lebih tinggi dan yang lebih rendah, yang lebih depan dan yang lebih belakang, menjadi goyah. Inilah fantasi atas permainan perpektif
yang dicapai oleh Zaki sehingga layak untuk ditempatkan sebagai karya dengan pendekatan optical art.

Pun dengan karya Nico Ricardi yang melakukan pendekatan kreatif serupa. Pilihannya untuk menampilkan citra plat-plat besi [berikut gambar pola yang teratur dan monoton] masih membekas dengan kuat setelah dimunculkannya pertama kali sekitar tahun 2004 lalu. Citra plat besi itu kini tak sekadar hadir secara frontal, namun telah banyak menciptakan fantasi ruang-ruang. Dan ruang-ruang yang tercipta dari “perspektif natural” ini juga dibuyarkan dengan memain-mainkan lewat beberapa citra benda [seperti pilar yang menempel di dinding] yang ditempatkan pada sudut tertentu hingga berdampak pada merapuhnya “perspektif natural” tersebut. Citra ruang yang kemudian terbentuk telah menampilkan pembelokan logika karena ketidaklaziman tersebut. Maka, menyimak karya-karya Nico yang cenderung memilih tidak royal dalam pewarnaan [hanya monokromatik atau diakromatik], justru bertambah “warna” karena kemampuannya menggoyahkan perspektif dalam kanvas.

Menariknya, kedua seniman ini tidak memiliki semacam garis ideologi yang tegas [setidaknya tidak diliontarkan secara verbal] atas pilihan-pilihannya untuk menyuntuki object benda tertentu. Zaki sangat fokus dalam mengangkat ceret dan pasangannya, cangkir. Sedang Nico banyak mengemukakan plat-plat besi yang masif. Namun mereka sekadar mengatakan bahwa hal itu sekadar sebagai ketertarikan atas aspek visual, belum menguliti hal tersebut sebagai basis ideologi kreatif, misalnya.

Mungkin tak selamanya ideologi kreatif harus dinyatakan secara terbuka dan verbal, namun cukup dengan mencermati lewat kecenderungan yang telah menjadi artefak dalam karyanya. Karena, apapun—seperti diungkapkan Brian Wallis dalam What’s Wrong with This Picture, 1984: xv—sebuah peristiwa adalah satu hal, sedang menyadarinya adalah hal yang lain, dan saat suatu peristiwa atau suatu hal tertentu dihadirkan kembali, dinyatakan, digambarkan, atau diterangkan, maka saat itulah sebuah representasi ditunjukkan. Representasi, dalam pengertiannya yang luas, merupakan konstruksi pikiran juga ideologi kreatif [termasuk juga, dinyatakan secara rupa] yang bersifat artifisial yang melaluinya kita memahami dunia [realitas].

Dan duet Ahmad Zaki serta Nico Ricardi telah menghadirkan kepada publik representasi yang baik untuk mengantar masuk dalam ruang-ruang fantasi. []

* Kurator seni rupa.

Filed Under: visual arts

Comments (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. alex says:

    save to my Bookmarks ;)

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.