banner ad

B-Style, B-PD, B! B! B!

Oleh Ferren Bianca

Gothloli merupakan mixing gaya, gadis muda di Jepang. Baju-baju dihitamkan paksa, dicat, dipilok, ditambalkan dengan kain terpal, asal hitam. Diberi renda sana-sini, asal manis, dan jadilah. Salah satu penopangnya, desainer muda Naoto Hiroka, yang mendandani para rocker-rocker Tokyo, dari Laruku sampai Miyavi dengan gaya Visual Kei. Tampil bak setan dan malaikat sekaligus. Moralitasnya nol, ideologinya nol, estetikanya nol, kuratornya nol, segmentasinya nol.

Seni tidak pernah berangkat dari nol menuju nol. Setelah isi, dikebiri pemodal, di binneale-kan, diresensi, dikumpul kurator, dikatrol nama. Krincing… krincing. Tidak nol lagi. Semua orang hehehe…

Di Cihampelas Bandung ada Toko Baju kecil, bernama Ohayo. Artinya Selamat Pagi. Itu toko kostum. Mereka terima permak bahan-bahan bekas yang tidak terpakai lagi untuk dijadikan baju layak pakai. Asal rela melawan estetika umum, membabi buta, dan pede saja. Kata Maya Yuliana, si pemilik toko yang kaus kaki hitam di kaki kanan, abu-abu di kaki kiri, sepatu oranye di kaki kanan, sepatu hitam di kaki kiri, baju oblong sedikit ke atas, rok… rok atau bukan rok, tidak ngerti: “Cosplay itu gaya semau gue. Cuek aja.”

“Apa gaya Cosplay dibatasi bahan?”

“Ketika pengen gothik, kacamata putih kita item-itemin.” Jawab Maya.

Aku meng-Hoohoo.

“Harajuku itu gaya Bandung.” Ungkap Maya percaya diri. Ia telah mendirikan toko Ohayo sejak September 2007 dan masih tetap keras kepala untuk menyebarluaskan gaya acak-acakan ini.

“Mereka datang dulu, lihat syal di Bandung. Oh syal bagus, lalu mereka mixing di sana. Makanya saya selalu sedih, liat anak-anak muda yang datang ke sini, pinginnya niru langsung. Saya suruh mereka cari gaya sendiri.”

Tentang gaya Bandung itu sendiri. Maya memberi ibarat, bahwa gerakan kostum di Jepang bukan gerakan lama. Memang, Harajuku Style baru bergejolak sejak 1998. Walau kehadirannya lebih ke tahun 80-an, ketika seniman performer diberikan ranah untuk menggeliat di jembatan Bashi, disekitar jalan Omotesando distrik Harajuku. Lantas, pahlawan-pahlawan lokal bertopeng, dari Kamen Rider, Hikari Sentai, sampai pada pahlawan gadis remaja, Sailor Moon, Cardcaptor Sakura, ditiru kostumnya oleh anak-anak muda itu.

Semula mereka disebut Otaku [maniak], julukan yang cemar. Tapi bagi anak-anak itu, seifuku [seragam sekolah] justru lebih cemar lagi. Gadis muda yang hang out dengam seifuku takut disebut Enzo Kosai –prostitute berseragam sekolah. Bagusnya buat gerakan seragam lain kan? Ya sudahlah ambil yang edan sekalian. Berkostum seperti para pahlawan di TV dan Komik. Orang barat yang ini teliti sana teliti sini menyebut mereka rebel.

Maya tak setuju. Keinginan untuk berbeda adalah kreatif. Menimbulkan rasa percaya diri dari apa yang dia ingin tampilkan apa adanya di dalam diri sendiri. Ketika Gonzo, toko pernak-pernik Cosplay yang didirikan Maya pada 2001 eksis. Maya sudah berpikir untuk mendirikan pula semacam komunitas.

Komunitas itu lantas berdiri dengan nama Bandung Cosplay Community. “Sekarang sedang mencari format dahulu. Karena membuat komunitas itu tidak mudah. Ada saja yang bawa kepentingan pribadi. Padahal yang namanya komunitas itu bersama-sama,” ungkap perempuan pecinta style Goth-loli [kependekan dari gothik lolita].

Seraya bercerita. Bahwa meskipun tidak membawa bendera komunitas. Para Cosplayer di Bandung bisa mencari bentuk lainnya. Sehingga mereka tidak jalan sendiri-sendiri lagi. “Mereka sekarang lebih cenderung bikin kabaret. Jadi ada jalan ceritanya.” Tambah Maya.

Tentang menjadi Kabaret itu. Adit seorang cosplayer membenarkan. Bahkan mereka merencanakan hal yang fresh dalam kabaret itu kelak. “Misalkan Gatot Kaca digabung dengan Kamen Rider.” Atau, “Naruto digabung sama Kabayan.” Ucapnya semangat.

Tapi. “Sekarang masih belum. Sekarang anak-anak masih suka sama yang Jepang-jepangan.” Adapun kabaret Adit itu akan mentas pada 13 Desember 2008 kelak di Ciwalk Bandung.

Dan Maya cerita, tentang cita-cita. Dia ingin, Cihampelas dikosongkan, di isi festival Bandung gaya mix. “Para pahlawan nasional kita kocok-kocok [fesyennya], kan keren.”

Ucap Maya sambil terkekeh. Hehehe…[]

Filed Under: fashion

Tags: , ,

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.