Paolo Oh Paolo

Teks : Frino Bariarcianur [] Foto : Prabowo Setyadi
Paulo Sergio da Silva aka Paulo Nazareth membuat karya menanak nasi dari beras-beras yang menyerupai peta dunia pada tanggal 8 Agustus 2008 di desa Surawangi, Kecamatan Jatiwangi pada acara Jatiwangi Art Festival 2008.
Ia mengambil beras yang berbentuk benua amerika. “Kita makan Amerika,” kata Paolo. Dan Amerika telah hilang menjadi nasi.
Selama proses menanak nasi banyak masyarakat bertanya-tanya mengenai cara Paolo menanak nasi yang tidak lazim. Beras itu disangrai. Tak lama ia menuangkan minyak goreng serta bawang putih dan bawang merah. Sementara ibu-ibu membantu mengiris bumbu masakan.
Kenapa Paolo tak menggunakan air? Begitulah pertanyaan yang terdengar dari masyarakat saat itu. Termasuk beberapa seniman partisipan.
Kiranya Paolo telah mempersiapkan air mendidih di panci yang lain. Panci inilah yang tidak banyak diperhatikan banyak orang. Setelah bumbu dan minyak goreng bercampur dengan beras yang telah disangrai barulah Paolo menuangkan air mendidih tersebut.
Tak lama, hanya sekitar 10 menit nasi itu matang dan Paolo membagikan kepada seluruh masyarakat yang menyaksikan. Nasi yang dibuat Paolo rasanya enak. Dan beberapa seniman memuji proses Paolo.
Selain menanak nasi ala Brazilian, Paolo juga melakukan perjalanan dari Jatiwangi ke Indramayu dengan berjalan kaki. Ia berangkat pada pukul 06.00 dan tiba pada malam hari di pantai Indramayu. Selama perjalanan ia mendengar komentar masyarakat. Namun ia tak mengerti dan hanya bisa tersenyum. Ia memang bergaya seperti seorang pemancing dengan kayu, pacul, topi petani dan sandal jepit.
“Saya tidak memancing ikan tetapi memancing kata-kata,” ujar Paolo.
Di pantai Indramayu Paolo membuat sebuah kursi untuk memandang laut.
Paolo Nazareth dikenal sebagai seniman performance yang banyak bicara tentang orang-orang yang berimigrasi dari satu negara ke negara lain. Ia tertarik dengan orang-orang yang tidak mempunyai rumah tetap [nomaden]. Bahkan sebelum datang ke Indonesia ia sempat pula mewancarai seorang ibu asal Sumatera yang kini tidak bisa lagi berbahasa Indonesia. Ibu itu dibawa oleh seorang Belanda pada tahun 1950 dan kini tinggal di Brazil.
Dalam ungkapan Paolo, Ibu itu rindu dengan buah durian. []
Filed Under: performance art

