Kerakusan Manusia

Teks/foto : Prabowo Setyadi
Bumi sedang menunjukan kemarahannya. Dan manusia tetap merasa tak bersalah. Wawan S Husin melihatnya sebagai tangisan dari semua yang ada di dunia ini.
Manusia hidup hanya sementara. Dan dalam kesementaraan tersebut manusia berlomba-lomba untuk mengumbar api nafsunya. KKN, tanah yang semakin sempit, dan kriminalitas merupakan wabah yang mematikan. Inilah ragam persoalan yang dibawa oleh Wawan S. Husin, seorang pengajar dan performance artist dalam Jatiwangi Art Festival, 9 Agustus 2008.
“Wabah tersebut harus dibasmi,” kata Wawan. Sayangnya api nafsu yang tidak dapat dikendalikan tersebut telah membuat bumi ini rusak. Dan menurut Wawan, manusia-lah yang menjadi aktor utama dibalik kerusakan itu.
Untuk mencegah terjadinya kerusakan, menurut Wawan,”Kita seharusnya kembali menjadi seorang bayi. Agar lebih sadar akan kesementaraan kita di dunia ini.”
Di dalam performance art-nya Wawan menampilkan lima unsur bumi, yakni air, tanah, udara, api dan kayu. Lantas mencampurkan semua unsur itu sebagai wujud dari realita yang ia temukan selama 57 tahun hidup.
“Who are you,” kata Wawan berulang-ulang. Suaranya keras memenuhi ruangan.
Lalu ia membakar kertas kemudian menari, mencuci tubuhnya dengan lumpur, menggores kanvas dengan tanah, dan berlari menjelajah ruang galeri Jatiwangi Art Factory. Tak terasa dinding-dinding galeri sudah penuh dengan percikan air dan lumpur. Di dalam pertunjukkannya ia juga seperti merapal beberapa mantra dengan gumaman. Tubuhnya bergetar.
“Who are you,” semua yang hadir tertegun melihat Wawan.
Sementara musik yang diiringi oleh Ketut dan kawan-kawan membuat suasana menjadi larut.
“Api sebagai lambang semangat, api sebagai lambang nafsu. Apabila manusia dapat membatasinya tentu akan menghasilkan sebuah kedamaian. Bukan kerakusan yang sekarang ini sedang diidap oleh manusia.”
Wabah kerakusan manusia sudah menyebar dan mengakar di seluruh dunia ini. Mungkin kita seharusnya bercermin seperti yang dikatakan Wawan,”Manusia itu rapuh seperti gerabah. Oleh karena itu kita seharusnya bertanya pada diri kita sendiri dan itu yang menjadi pertanyaan besar yang sulit terjawab, yaitu siapa sebenarnya manusia?” []
Filed Under: performance art


Thanks ntjoetz, segera aku perbaiki. Mohon maaf atas kesalahan ini.