Jatiwangi Teacher Award

Teks/foto : Prabowo Setyadi
“Sebenarnya ide ini tersirat dari memori saya selama mengenyam pendidikan mulai dari sekolah dasar sampai sekarang, bahwa kenapa sih selalu pada kenyataannya guru tidak pernah dekat dengan muridnya.”
Keriangan para murid di Madrasah Ibtidaiah Kapur, Sutawangi pada tanggal 8 Agustus 2008 begitu membahana. Para murid berkumpul di lapangan upacara untuk mengikuti acara penyerahan Teacher award kepada guru mereka pada Jatiwangi Art Festival 2008.
Fajar Abadi RDP, pematung yang terlibat dalam Jatiwangi Art Festival 2008 menyumbangkan karyanya berupa Teacher Award kepada pengajar Madrasah Ibtidaiah Kapur, jatiwangi.
Kalau biasanya dalam keseharian di sekolah, guru yang selalu memberikan penghargaan kepada murid yang nakal, malas, pintar,dll. Kali ini Fajar memutarbalikan semua itu. Kali ini murid yang memberikan penghargaan kepada guru.
Konsep murid memberikan penghargaan kepada guru berawal dari memori masa kecil Fajar ketika mengenyam pendidikan dasar hingga sekarang dimana ia tidak melihat adanya kedekatan emosi antara sang guru dengan sang murid.
Dalam karyanya tersebut. Fajar mencoba merangsang psikologis keriangan si murid, ketika mereka dibebaskan memberikan penilaian kepada guru mereka. Hal ini dilakukan Fajar agar semua murid berhak mengapresiasikan kemandiriannya. Rangsangan yang fajar berikan pada performance-nya tersebut menggunakan bola-bola kecil yang berwarna-warni, barong dan piagam yang terbuat dari tanah yang di buat oleh Fajar sendiri.
Pada Jatiwangi Art Festival tersebut. Fajar pun mencoba untuk mengungkapkan realita dimana para orang tua murid masih bersikat skeptis untuk menyekolahkan anaknya. Karena mahalnya biaya untuk mendapatkan penddikan yang layak. Itu terlihat oleh fajar ketika melakukan proses pendekatan kepada madrasah intidaiah kapur, jatiwangi. kelas 3 yang jumlah muridnya kurang dari 10 orang dan kelas satu lebih dari 10 orang.
“Saya di sini tidak memposisikan sebagai seorang tokoh besar. Tetapi hanya membantu mereka untuk dapat mengekspresikan diri mereka baik di sekolah maupun praktek kreativitas mereka di luar lingkungan sekolah.”
Hal tersebut juga di benarkan oleh bapak dede yang menjadi pemenang Teacher Award tersebut. Ia mengatakan,“Memang. kalau di sekolah. Anak-anak sulit untuk mengekspresikan diri mereka. Sedangkan di luar sekolah mereka lebih dapat mengekspresikan dirinya. Mungkin ini juga ada hubungannya dengan peraturan-peraturan yang ada di sekolah,” paparnya.
Keriangan para murid semakin bertambah, ketika Fajar mengajak para murid melakukan pawai sambil mengumandangkan shalawat. Dan keriangan pun bertambah besar dimana ketika pada akhir performance, seluruh murid melemparkan bola-bola yang sudah ditulis harapan mereka ke rumah guru yang menjadi pemenang award tersebut. []
Filed Under: performance art

