Dewi Sri Estate dan Transaksi Tanpa Uang

Teks/foto : Prabowo setyadi
S S Listyowati aka Atieq berkolaborasi bersama komunitas Punk Kentrung Merdeka pada even Jatiwangi art festival 2008 yang diselenggaakan pada 2-8 agustus 2008. Mereka mencoba membuat area persawahan di Jatiwangi, desa Jatisura menjadi real estate yang dinamakan Dewi Sri Estate.
Namun bukan seperti yang ada di alam pikir kita tentang master plan real estate yang ada kebanyakan di kota-kota besar di dunia. Dimana area persawahan sengaja di korbankan untuk kepentingan tempat tinggal yang mewah.
Dewi Sri Estate merupakan sebuah konsep real estate yang terbuat dari sisa-sisa panen padi yang dibentuk menjadi rumah kerucut yang tampak seperti rumah suku-suku primitif. Jumlah rumahnya pun hanya lima. Bila pada umumnya dalam sebuah real estate terdapat ruko-ruko dengan bangunan beton maka Dewi Sri Estate hanya berupa jongko sebagai pusat perbelanjaan dan permainan. Ini seperti yang biasa terlihat apabila komunitas underground mengadakan acara kolektif pertunjukan musik.
Fasilitas Dewi Sri Estate terdapat jongko piercing, sablon baju, rental play station, kedai minum dan bank. Semuanya terbuat dari sisa panen padi. Pola perdagangannya pun bukan menggunakan uang. Dewi Sri Estate menggunakan genteng sebagai alat pembayaran.
Pada performance art tersebut juga terlihat bahwa Atieq bersama Komuitas Kentrung Merdeka mencoba menghapuskan stigma masyarakat mengenai pola hidup para kaum pinggiran yang cenderung identik dengan kriminalitas, mabuk-mabukan, gelandangan dan pengemis. Kolaborasi itu pula ingin menunjukan bahwa orang-orang pinggiran pun dapat berkreatifitas tinggi tanpa memperdulikan stigma yang diberikan masyarakat kepada mereka.
“Sebenarnya dalam hidup uang bukanlah sesuatu yang harus disakralkan. Dengan segala benda pun kita tetap bisa melakukan transaksi. Begitupun dengan Dewi Sri Estate yang mencoba untuk mengharmonisasikan pola kehidupan masyarakat yang terlanjur terjebak pada pola survival,” tutur Atieq.
Atieq pun menambahkan,“Kita sebagai manusia yang merdeka seharusnya dapat melakukan kreativitas yang tinggi. Dan sawah, tanah, air dan seluruh unsur yang ada di alam ini adalah milik kita semua. Bukan milik perseorangan. Karena memang alam ini adalah sumber kehidupan itu sendiri yang harus kita jaga. Bukan merusaknya. Karena Dewi Sri adalah lambang dari kesuburan.” []
Filed Under: performance art

