Seniman Muda Seniman yang Bahagia

Teks/foto : Frino Bariarcianur
Dunia seni rupa Indonesia tengah gegap gempita oleh harga. Tentunya banyak yang berbahagia dengan situasi seperti ini, tak terkecuali seniman-seniman usia muda. Tina salah satunya.
Perempuan kelahiran Cimahi, 20 November 1981 ini Minggu malam [18/05/08] tampak bahagia saat pembukaan pameran tunggal pertamanya di Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space [SSAS], jalan Bukit Pakar Timur No. 10 Bandung. Pameran Tina berlangsung sampai 30 Mei 2008 diberi judul “Heavenly Flavour”. Malam itu pengunjung yang datang tidak begitu ramai tapi juga tidak sedikit.
Diantara pengunjung saya melihat seniman kawakan sang pemilik SSAS, Sunaryo, tengah duduk santai melihat prosesi pembukaan, di sisi yang lain ada Agung Hujatnikajennong [kurator SSAS], Ardiyanto kurator pameran Tina, Rudi ST Dharma, Yoyoyogasmana, Benzig, Arman Djamparing, teman-teman manajemen SSAS, komunitas seni serta mahasiswa.
Dalam prosesi pembukaan itu, Tina dalam sambutannya mengatakan sempat tak menyangka bisa berpameran tunggal di Selasar Sunaryo Art Space. ”Bukan Tina kali, mungkin Tina yang lain,” ujarnya berseloroh. Keriangannya terpancar dan pengunjung pun tertawa.
Bisa berpameran di Selasar Sunaryo Art Space memang memiliki kebanggaan tersendiri. Apalagi bisa berpameran tunggal. Tina termasuk orang yang beruntung. Pasalnya keraguan kerap kali menyergap seniman-seniman muda yang memiliki mimpi sama, salah satunya yakni bisa berpameran di tempat paling bergengsi di kota Bandung.
Bagaimana tidak, untuk saat ini bisa dikatakan SSAS adalah tempat yang paling representatif untuk menyelenggarakan kegiatan seni rupa di kota Bandung. SSAS adalah tempat khusus yang dibangun dengan kesungguhan bukan hanya oleh pemiliknya tetapi juga dibantu oleh medan sosial seni yang melingkupinya. Itulah kenapa bila SSAS memamerkan karya-karya yang katakanlah ”gak seru” atau biasa-biasa saja, tentu menjadi pertanyaan banyak orang.
Di satu sisi, SSAS harus menjaga kredibilitas ruang sehingga tak semua seniman muda bisa berpameran di situ. Namun di sisi yang lain, SSAS juga punya tanggung jawab lain, seperti mencari atau memunculkan seniman-seniman muda yang memiliki potensi bagus.
Tina yang suka tersenyum itu pasti punya sesuatu sehingga bisa pamer di areal SSAS.
Dan inilah kali pertama saya memasuki ruang pamer Bale Tonggoh yang baru dibangun sekitar November 2007 lalu. Ada sekira 20 kanvas lebih yang menjadi fokus perhatian pengunjung Minggu malam kemarin. Kanvas itu rata-rata bergambar boneka-boneka yang lucu. Dengan warna-warni yang ceria. Ada warna pink, biru, kuning, hijau dan merah.
Tina mengajak kita ke alam raya imajinasi yang sepertinya menyenangkan dari lukisan boneka-boneka yang ia ciptakan. Lukisan boneka karya Tina ada yang sedang duduk di kursi goyang, di dalam bola kaca, di dalam mata kucing dan ada juga sebuah gambar boneka bermantel bulu atau yang terbalut handuk.
Pada malam pembukaan hampir seluruh karya-karya Tina memiliki tanda bulatan merah. Artinya lukisan-lukisan Tina terpasarkan dengan baik. Malam itu kesuksesan Tina dimulai.
Harus diakui, salah satu ukuran seorang seniman yang sedang berpameran adalah karyanya laku terjual. Tidak peduli berapa pun harganya. Kesuksesan Tina tidak dibiarkan begitu saja oleh Irwan Setiawan, seorang pecinta seni, yang membuka pameran,”Saya akan men-support Tina namun kalau sudah sukses Tina harus………….”
Tina jangan lupa ini dan itu. Kalimat yang meluncur dari Irwan seperti ungkapan seorang ayah yang sedang menasehati anak. Perhatian Irwan tersebut membuat saya berpikir, apakah masih ada lagi orang-orang yang mau memperhatikan secara serius karir seorang anak muda yang bersedia hidup-mati dalam dunia seni? Atau jangan-jangan orang seperti Irwan selama ini memang sengaja bersembunyi, tak ingin diketahui banyak orang.
Jika memang banyak tentu kebahagiaan tidak saja dimiliki oleh Tina, seperti pada malam pembukaan pameran dimana karyanya laku terjual.
Keistimewaan Boneka Tina
Lulusan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia-Bandung ini dulunya sempat bergabung dalam kelompok Ganiati [Garing Mania Sampai Mati], yang selalu menyuguhkan aksi-aksi kocak. Kelompok yang berdiri di UPI ini sangat fenomenal di kota Bandung. Dan selalu mengundang tawa setiap orang yang melihat. Hal-hal atau benda-benda lucu atau yang bisa membuat suasana riang gembira menjadi salah bagian penting dari Tina.
Untuk pameran tunggal ini Tina mengerjakan seluruh karya selama 2 bulan lebih. Waktu yang sangat cepat dan melelahkan. Tina pun harus menyewa tempat khusus untuk berkarya. Hasilnya, sungguh menyamankan mata kita yang melihat. Warna-warni yang ceria itu ia sodorkan dengan lembut. Sementara polesan kuasnya pun rapi. Bagaimana detailnya? Ini pun menjadi salah satu kekuatan karya Tina.
Pada karya ”In Heaven #3” berukuran 140 X 135 Cm [acrylic di atas kanvas, 2008], misalnya, Tina melukis mata kucing sebelah kanan dengan ukuran besar. Dan di dalam biji mata kucing itu tampak sosok boneka [atau kartun] yang sedang dalam posisi tidur. Si titik perhatian, yakni boneka dipoles dengan warna yang terang lembut sementara bulu-bulu kucing dengan warna yang gelap. Dan bila kita melihat garis tegas berwarna hitam pada mata kucing, maka dalam lukisan Tina garis itu melebar dengan sedikit rumbai.
Lukisan-lukisan boneka karya Tina adalah juga wajah-wajah yang sering kita temukan di dalam buku-buku komik atau film-film kartun. Tapi rambutnya tidak seperti rambut iklan-iklan yang menggoda banyak perempuan untuk meluruskan rambutnya. Rambut boneka Tina bergelombang dengan berbagai warna.
Kerja reproduksi Tina berhasil.
Menurut Ardiyanto, proses kreatif Tina adalah menciptakan gagasan dan imaji-imaji baru dari satu atau lebih image yang telah ada sebelumnya. Menurut Ardiyanto, Tina mengambil image-image yang bertebaran di sekeliling kita. Salah satunya bersumber dari internet. Tina melakukan proses download [mengunduh], menyeleksi lalu menyalin dan melakukan eksplorasi sehingga menghadirkan image baru yang khas Tina.
Ardiyanto menyebut kerja Tina itu sebagai proses kombinasi dalam upaya penggabungan beragam imaji dengan persepsi personal. Dan boneka yang lucu menjadi representatif yang tepat untuk menggambarkan pengalaman personal Tina dan juga pengalaman orang-orang tentang indahnya dunia.
Tapi Tina bukan Alice in Wonderland, Tina hanya ingin mengajak kita untuk mengenang kembali peristiwa beberapa tahun lalu. Masa kecil yang indah, masa bermain boneka, masa dimana mata melihat dunia dengan kepolosoan tanpa dosa.
Dan Tina pada akhirnya tetap menghadirkan sosok boneka dengan bentuk mata bundar –atau belok yang diinginkan banyak perempuan—serta menyodorkan tatapan mata yang dingin. Mata inilah yang menjadi ciri khas setiap boneka. Bentuk tubuh boneka pun masih menggunakan prototipe model yang ramping dan ceking seperti Kate Moss saat pertama kali ditemukan oleh Sarah Doukas dari Storm Modelling Agency, salah satu agen kecantikan dunia, pada tahun 1990-an.
Meski Tina memilih image boneka yang memiliki kesan kelucuan, lukisan-lukisan boneka Tina menyuguhkan kemurungan atau boneka yang nelangsa. Ada kesan putus asa yang dibalur dengan warna-warni ceria. Ada bentuk tubuh sempurna yang membungkus kekurangan. Seperti saat kita melihat para model yang cantik berjalan di catwalk, melihat tatapannya dingin dan lurus ke depan tapi kita tidak tahu kedalaman hatinya, persoalan yang melingkupinya.
Di Bale Tonggoh seorang seniman muda perempuan tengah berproses menapaki jalan sukses yang berliku dan beresiko. Dia seorang seniman muda yang tengah berbahagia, nama lengkapnya Tina Nuraziza Entangsari. []
Filed Under: visual arts


Sungguh beruntung Tina yang “satu ini” dapat memperkenalkan karyanya dan berpameran di SSAS. Namun, secara pribadi, untuk seorang seniman muda, karya reproduksi katakanlah kurang bisa dijadikan landasan untuk berekspresi. Apalagi jika menyebut seniman yang bahagia
setau aku emang hari-hari ini seniman, terutama seniman muda lagi gandrung sama banjir image yang terjadi gara-gara teknologi informasi n komunikasi. kemajuan IT bikin segala image jadi gampang di ambil di repro jadi baru lagi lalu di klaim jadi milik seniman ketika jadi karya. bisa diklaim 100% atau 10% atau mungkin seniman bisa bilang itu bukan karya aku sepenuhnya tapi diambil dari fenomena perkembangan sebaran image di visual kultur yang ada disekitar kita. btw menurutku asal senimannya mau kerja keras dan sophisticated ga masalahlah. toh memilih cara ini juga ga berarti pilihan lain yang ditinggalin jadi ga berharga. so, buat tina beni, maju terus yah. dimana-mana kreativitas yang beda mah bakal nemuin badai kritik, selebihnya ketika badai mereda tina bisa jalan dengan pedenya, bahkan kelak bukan lagi jalan dengan pedenya tapi lari. ayo lari tina ! ayo lari !
tetap Semangat ya Tina, keep up your amazing work of art.