banner ad

Bangun Subuh [lalu] Mencari Lokalitas

Teks/foto : Frino Bariarcianur
Komunitas Bangun Subuh [KBS] menggelar pameran di Auditorium dan Galeri Esp’Art CCF Bandung, jl. Purnawarman 32, 16-23 Mei 2008 dengan tajuk “Mindfullness”. Hal yang menarik pada komunitas yang terbentuk pada bulan Ramadhan tahun 2007 ini adalah kesungguhan mereka meraih cita-cita sebagai seniman.

Mereka adalah Agung Jek, Agus Zimo, Bambang S. Hadi, Entri Somantri, Doni Arifianto, Iman Sukmana, Raswan Arwali dan Ridwan Taufik. Mereka berasal dari kampung-kampung yang berbeda tetapi muncul dari kawah penempaan yang sama, lulusan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia [UPI] Bandung.

Mereka menggunakan nama Komunitas Bangun Subuh untuk menunjukkan pola kehidupan mereka [sebagai muslim] yang kudu disiplin. Pada awal berdirinya, komunitas ini lebih banyak melakukan aktivitas sosial seperti, diskusi budaya, pengajian sambil ngabuburit di bulan puasa. Mereka menguatkan basis kesadaran religi dalam berkesenian. Tidak berlebihan kiranya bila Agus Zimo sebagai kakak tertua dalam komunitas ini, menekankan bahwa menjadi seniman harus memiliki tanggung jawab di dunia dan akhirat.

Secara sederhana Agung Jek, personil KBS yang lain mengatakan bangun subuh juga adalah sebuah strategi dan formula antisipasi agar tidak terlambat beraktivitas di siang hari. Sebuah cara, setelah melakukan sholat bersama, untuk menyambut pagi yang cerah dengan harapan penuh di dada.

Hal penting lain yang mereka tekankan pada setiap anggota komunitas harus saling memahami dan mengenali jati diri satu sama lain. Ini merupakan salah satu upaya pencapaian yang mereka lakukan dengan proses mengalir yang penuh tantangan. Mereka juga percaya masih ada harapan kebaruan yang mungkin terjadi lewat karya-karya yang inovatif. Kuncinya, “struggle,” kata Entri Somantri.

Mencari Lokalitas
Pameran bersama “Mindfullness” merupakan sebuah perwujudan dari tawaran Ardiyanto yang bertindak sebagai kurator yang mengetengahkan persoalan lokalitas.

Menurut Anto, nama panggilan akrab Ardiyanto,“Sumber gagasan pameran ini diambil dari biografis para perupa serta atas keberjarakan personal terhadap lokasi dimana mereka pernah dibesarkan. Situasi tersebut merupakan kumpulan pikiran, atau interaksi sosial kultural saat ini.”

Mindfullness adalah suatu judul yang dipersepsipkan secara personal.

Maka yang terjadi pada karya, ada yang menggambar sepatu, tangan dan baling-baling bambu [kolecer], tokoh-tokoh komik, sosok orang berpakaian Hansip [pertahanan sipil], pesawat dan sebagainya. Para perupa, seperti Agus Zimo misalnya, mencampurkan semua persoalannya menjadi satu.

Dalam pengakuannya Agus Zimo menyoal juga tentang Tenaga Kerja Indonesia [TKI] khusunya Tenaga Kerja Wanita [TKW] yang teraniaya di negeri seberang. Pahlawan devisa ini menurut Zimo memiliki keterbatasan profesionalisme kerja sebagai pembantu rumah tangga dan terbatas dalam urusan berkomunikasi sehingga seringkali menuai kasus, diantaranya terjadi penganiayaan, pelecehan seksual hingga kematian di tangan majikan.

Dalam konteks kasus-kasus TKI, perpindahan orang dari satu wilayah ke wilayah lain untuk meraih pekerjaan pada tahap berikutnya memicu ketegangan antar negara, seperti Indonesia dan Malaysia beberapa waktu lalu. Beberapa teman yang pernah menjadi pekerja di Malaysia apalagi yang tidak dilengkapi dengan surat-surat resmi negara, seperti sudah biasa hidup dalam ketegangan. Jika ada pemeriksaan mereka akan lari ke hutan atau bersembunyi di gudang. Bahkan beberapa turis Indonesia pun dicurigai sehingga harus diintrogasi. Orang Malaysia menyebut ”pendatang haram” untuk orang Indonesia yang datang secara illegal.

Itu juga terjadi di negara-negara lain.

Lantas Agus Zimo membandingkan hidupnya. Isteri Agus Zimo seorang pegawai negeri yang setiap hari tak boleh terlambat datang ke kantor. Beberapa pekerjaan yang sering dilakukan perempuan menjadi pekerjaannya. Baru ditinggal isteri ke kantor saja sudah repot menurut Agus Zimo. Apalagi kalau sampai pergi ke luar negeri.

Judul lukisan Agus Zimo yang dikerjakan sembari mencuri waktu luang mengurus anaknya berjudul ”Migration and Conprontation” [Aura Seni Rupa Kampung], cat minyak di atas kanvas, dengan ukuran 200 X 150 Cm, 208. Lukisannya ramai. Segala hal ingin dituangkan Agus Zimo dalam lukisannya.

Lalu Bambang Siswoyo Hadi yang melukis tangan. Ada lukisan yang memegang bambu yang dipadu dengan baling-baling bambu atau kolecer. Ia tertarik dengan permainan tradisional ini karena sudah semakin jarang orang-orang menggunakannya. Ia rindu kolecer dan terpukau ketika melihat begitu banyaknya jenis baling-baling bambu orang Sunda di Festival Kolecer di daerah Subang.

Menurut seniman yang pernah saya rekam aksi performance art-nya bersama Roni Brons, seniman yang kini tinggal di Garut menjadi seorang pengajar, sempat harus masuk ke pedesaan dengan motor vespa hanya untuk melihat kolecer. Katanya di daerah Sukabumi jauh ke dalam.

Bambang juga menyuguhkan lukisan tangan dalam posisi seperti mencomot makanan. Karya ini menurut Agung Hujatnikajenong, juga seorang kurator, Bambang seperti sedang menghidupkan kembali pose-pose tangan tradisional yang sudah lama dilupakan masyarakat perkotaan. Selain itu dapat pula dibaca sebagai simbolisasi punahnya makanan-makanan tradisional yang khas.

Sebuah simbolisasi yang cukup menarik menurut Agung. ”Bambang memilih untuk menggambarkan tangan dalam mempersoalkan wacana sosial-budaya yang berhubungan dengan pergeseran gerakan-gerakan dan bahasa tubuh.”

Persoalan-persoalan lokalitas yang dialami oleh para seniman itu sejatinya bersumber dari sejarah dan penilaian pribadi masing-masing. Tawaran konsep itu pun menjadi berbagai hal yang kemudian bertransformasi menjadi persoalan bersama. Itulah pointnya. Tapi cita-cita untuk mewujudkan seni dalam ”aura kampung” kiranya masih sulit ditemukan lewat gaya seni rupa yang mereka geluti sekarang. []

Filed Under: visual arts

Tags: , , ,

Comments (2)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Andi Ramdani says:

    Wah bagus tu, ada komunitas bangun subuh,,,,aku mau bikin komunitas seniman kesiangan ah,,,,he he,,,,entri masih gawe ferformance teu,,,kumaha kabarna, iraha bade ekspansi k jogja,,,, kenal sareng astuti sareng iseu ? salam kituh ti Ramdani

  2. Nadine says:

    Hi there,
    Ugh, I liked! So clear and positively.

    Thank you
    Nadine

Leave a Reply




If you want a picture to show with your comment, go get a Gravatar.