Abstrak Batik Tetet Popo Iskandar : Warna Sunyi Yang Liris
Oleh : Matdon
Seniman perempuan asal Bandung, Tetet C Popo Iskandar memamerkan 30 lukisan abstrak dan batik abstrak kontemporer pada kain sutera halus. Tetet berpijak pada warna dan ekspresi.
Lukisan abstrak karya Tetet C Popo Iskandar yang dipamerkan di Hotel Arion Bandung, 1-8 September 2007 dengan tema “Meliorism”, masih dengan visualisasi abstrak dan banyak warna di atas kanvas, dipisah oleh bidang yang berupa lengkungan, bulatan, acak, dan saling lintas antar bidang yang satu dengan yang lainnya. Ia masih pula mengetengahkan kecenderungan judul yang erorientasi pada objek keseharian dan suasana hati.
Tetet melukis tidak dengan penggambaran apa adanya.
Warisan tradisi modernis dari ayah sang maestro Popo Iskandar [alm], membuat ia mampu melewati gairah analitik terhadap figur, benda, warna dan penghayatan terhadap unsur inti dan abstrak yang dilandasi keberpihakan pada wilayah emosi– yang secara teoritis lukisannya masuk pada genre seni lukis abstrak. Tetet sangat khusuk dalam membuat efek visual dari pengolahan garis dan warna.
Warna-warna lukisanya bukan warna-warna yang khas dalam peradaban seni rupa di negeri tropis ini. Warna-warna yang cenderung dipilih adalah warna biru muda, hijau muda, mengingatkan pada warna di rambu dan marka jalan.
Namun ada yang lain dalam pamerannya kali ini, Tetet mencoba “mentransfer” lukisannya di atas kain sutera dengan proses membatik – yang – pengerjaannya tentu sangat rumit.
“Mungkin ini lukisan pertama di Indonesia yang dibuat di atas kain sutera,” ujar Tetet mengklaim, seraya meyakinkan, kalau upayanya ini merupakan pencarian yang disemangati oleh kata “Meliorisme” itu sendiri.
Bagi saya, agak tiak penting pengakuan itu, tapi sekedar menengok sejarah, kita mengenal batik di Indonesia merupakan salah satu kebudayaan nasional yang bernilai tinggi, perlu dipelihara, dikembangkan dan ditingkatkan, dimana saat ini aktifitas industri batik disamping memberikan pengaruh positif juga memberikan dampak negatif yang menghasilkan limbah cair dengan kandungan warna, zat padat tersuspensi, phenol, krom total, minyak lemak dan pH yang perlu pengolahan sebelum dibuang ke badan air. Tetet kemudian tidak mau ambil resiko, ia membatik dengan cara tradisional yang yang tidak menganggu polusis udara sekitar studionya di kawasan Sarijadi Bandung.
Abstrak Batik
Dalam sejarah, di Indonesia dikenal batik daerah sekitar Sumatera selatan [Palembang dan Jambi], Pulau Jawa, Pulau Madura, dan sebagian Pulau Bali. Di dalam Pulau Jawa, daerah pedalaman (terletak Yogyakarta dan Surakarta), dan daerah pesisir yang diwakili Pekalongan dan Cirebon merupakan dua daerah penghasil batik terbesar.
Tentang sejarah batik, asal usulnya belum terang karena tidak ada data, literatur, dan benda nyata kain-kain. Semua itu sudah menjadi busuk sebab iklim Indonesia adalah iklim tropis yang suhu tinggi dan kelembaban udara tinggi. Dan nyatanya, selain Cirebon, Garut juga merupakan penghasil batik, belajar dari tempat kelahirannya ini Tetet kemudian mengekplorasi seluruh lukisan abrstraknya dengan membatik, maka jadilah batik batik abstrak Tetet terasa liris, lembut, dan sunyi.
Seperti lukisan abstraknya pada kanvas, Tetet juga tidak memilih untuk membuat stroke lewat palet, atau goresan yang acak dan terkesan liar. Tetet tidak memilih tekstur yang teramat tebal. Abstrak karyanya sangat rapi dan tenang. Hanya beberapa lukisan yang stroke pada bidangnya memperlihatkan goresan yang kentara. “Kala Hati Bernyanyi”, dan “Hati yang Penuh Ceria” adalah dua lukisan adalah perkecualian karena goresan itu lebih lepas dan teksturnya lebih tebal. Dengan ketenangan, ia memasang harmoni dan warna. Warna itulah yang kemudian justru menjadi perhatian di pameran tunggalnya kali ini.
Soal warna bagi Tetet, karyanya itu dibuat dengan spontan dan dia membiarkan suasana hatinya itu memimpin proses kreatifnya, baik ketika sedih maupun saat senang. Menanggaai abstraka batik dan lukiasannya, saya setuju dengan pengamat seni rupa Herry Dim bahwa karya Tetet itu referensial, tampilan visual abstraknya kerap dirujuk lagi dengan judul yang ada pada lukisan. Ada harmoni, juga kekuatan warna.
Judulnya berorientasi pada objek keseharian semisal “Setangkai Bunga Patah”, ”Bulan Kemarau”, dan ”Senja di Kota Tua”. Sedangkan lukisan yang beranjak pada suasana hati seperti ”Di Sudut dan Lorong Hati”. Dan semuanya ditransfer ke media kain sutera, dengan pengerjaan layaknya membuat batik dengan menggunakan canting tulis, klentengan dan lilin yang biasa disebut malam.
Terhadap objek keseharian apalagi objek yang beranjak dari suasana hati, Tetet tidaklah melukiskannya dengan penggambaran seperti apa adanya, Bunga, misalnya, tidak lagi nampak dalam bentuk konkret kesehariannya. Bulan hanya terlacak sebagai lingkaran yang bisa macam-macam warnanya, sedangkan kota tua mewujud menjadi sesusunan warna.
Meminjam pernyataan pelukis satu angkatan dengan ayahnya, Sri Warso Wahono Tetet memang tak punya pretensi terhadap bentuk. Bahkan tentang emosi yang muncul dalam tekstur, guratan, bahkan cabikan palet. Hal itu malah membuat karyanya bisa jadi elementer lagi. Karya abstrak lebih terasa harmoninya, dan dibimbing oleh hati nurani dan tanpa rekayasa ketika berkarya. Tetet lebih jauh dari itu, ia berpijak pada warna dan ekspresi, karena itu hal seperti bentuk, tidak dia pentingkan.
Pameran “Meliorism” di The Bellagio Boutique Mall, Kawasan Mega Kuningan Barat Kav E 4 Nomor 3 Kuningan Timur Jakarta Selatan digelar pada tanggal 25 – 30 Mei 2008. Tetet memamerkan 30 lukisan abstrak, batik abstrak kontemporer yang dieksplor dari lukisannya pada kain sutera halus, fashion show batik abstrak dengan desain pakaian Dian Indiarso. Pameran ini merupakan sebuah pameran yang membebaskan diri Tetet dari bentuk dan volume. Lukisan yang dikreasinya tampak lebih bebas dari apa yang dikreasi oleh ayahnya, almarhum pelukis Popo Iskandar. []
* Pengamat budaya tinggal di Bandung
Filed Under: visual arts


